Wanita Pengukir Sejarah: Saudah binti Zam’ah RA (2)

@ Cecep Y Pramana

Ada orang-orang yang namanya tidak selalu disebut dalam banyak percakapan. Tidak banyak tampil di depan. Tidak sibuk mencari perhatian. Namun, kehadirannya meninggalkan ketenangan bagi orang lain. Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha adalah salah satunya. Perempuan yang menguatkan dengan kebaikan, kelapangan hati, dan ketulusan.

Ia hidup pada masa yang berat. Ia memeluk Islam ketika jumlah kaum Muslimin masih sangat sedikit. Bersama suaminya, As-Sakran bin Amr, ia ikut merasakan pahitnya perjuangan di awal dakwah. Mereka bahkan meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Habasyah demi mempertahankan iman.

Hijrah bukan sekadar perjalanan berpindah tempat. Bagi Saudah radhiyallahu ‘anha, hijrah adalah keputusan untuk mempertahankan keyakinan ketika keadaan belum memberikan banyak kepastian. Kemudian ia kembali ke Makkah. Tidak lama setelah itu, suaminya wafat.

Bayangkan seorang perempuan yang telah meninggalkan kampung halaman demi iman, menjalani perjalanan panjang, kemudian harus kembali menghadapi kehilangan orang yang dicintainya. Namun Saudah radhiyallahu ‘anha  tidak berhenti pada kesedihan.

Allah Subhanahu wata’ala kemudian mempertemukannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha, Saudah menjadi wanita pertama yang dinikahi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ia menjadi pendamping Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selama beberapa tahun sebelum kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menikah dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Di sinilah kita menemukan satu pelajaran penting.

Tidak semua orang yang mengukir sejarah harus tampil dengan sesuatu yang spektakuler. Ada yang mengukir sejarah dengan kesetiaan. Ada yang melakukannya dengan pengorbanan. Ada yang meninggalkan jejak melalui kelembutan, kedermawanan, dan kemampuan membuat orang lain merasa nyaman.

Saudah radhiyallahu ‘anha adalah perempuan dengan jiwa yang kuat, tetapi juga dikenal suka bercanda dan berkelakar. Ia memiliki sisi manusiawi yang hangat. Ia tidak kehilangan keceriaan meskipun pernah melewati masa-masa sulit. Bukankah hidup kita juga demikian?

Ada hari ketika kita harus kuat. Ada hari ketika kita hanya ingin tersenyum. Ada saat ketika kita harus menangis. Ada pula saat ketika kita perlu membuat orang lain tertawa agar beban mereka terasa sedikit lebih ringan.

Saudah radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa keteguhan iman tidak selalu hadir dalam wajah yang serius. Keteguhan juga dapat berjalan bersama kelembutan dan keceriaan. Keteguhan iman tidak selalu harus tampil kaku atau tegang, melainkan bisa memancar lewat kelembutan hati dan keceriaan wajah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibunda Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha.

Perempuan yang Datang dari Generasi Pertama

Saudah radhiyallahu ‘anha termasuk golongan pertama yang memeluk Islam. Ia bukan hanya menerima Islam ketika keadaan sudah mudah. Ia menerimanya ketika dakwah masih menghadapi tekanan dan penolakan. Ia juga termasuk perempuan yang mengalami dua hijrah, yaitu ke Habasyah dan kemudian ke Madinah.

Setiap perjalanan itu menyimpan pengorbanan. Hari ini kita mungkin mudah mengatakan bahwa iman harus dipertahankan. Namun, pada masa Saudah radhiyallahu ‘anha, mempertahankan iman berarti siap kehilangan kenyamanan. Bisa berarti meninggalkan rumah. Bisa berarti berpisah dengan keluarga. Bisa berarti hidup dalam ketidakpastian.

Karena itu, kisah Saudah radhiyallahu ‘anha mengajak kita bertanya kepada diri sendiri. Seberapa kuat kita mempertahankan sesuatu yang kita yakini benar ketika keadaan tidak mendukung? Apakah iman kita hanya kuat ketika semuanya berjalan sesuai keinginan?

Atau tetap bertahan ketika hidup membawa kita pada jalan yang tidak pernah kita rencanakan? Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2).

Ujian bukan selalu tanda bahwa Allah Subhanahu wata’ala meninggalkan kita. Kadang ujian justru menjadi jalan untuk memperlihatkan kualitas iman yang selama ini kita ucapkan. Saudah RA telah melewati bagian dari perjalanan itu.

Kekuatan Jiwa yang Tidak Banyak Bicara

Salah satu hal menarik dari Saudah radhiyallahu ‘anha adalah kesaksian Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang dirinya. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyukai Saudah dan menggambarkannya sebagai seorang perempuan yang memiliki kekuatan jiwa yang luar biasa.

Kekuatan jiwa tidak selalu terlihat dari keberanian berbicara keras. Kadang ia tampak dari kemampuan seseorang menerima keadaan tanpa kehilangan iman. Kadang ia terlihat ketika seseorang mampu tetap memberikan kebaikan meski dirinya sendiri sedang memiliki keterbatasan.

Kadang kekuatan itu hadir ketika seseorang memilih memaafkan, mengalah, membantu, atau mendahulukan orang lain. Saudah radhiyallahu ‘anha memberikan contoh tentang hal tersebut ketika ia memberikan jatah gilirannya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ia memahami kedudukan Aisyah radhiyallahu ‘anha di hati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia memilih memberikan jatahnya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Bagi sebagian orang, mengalah mungkin terlihat sederhana. Tetapi tidak selalu mudah.

Mengalah membutuhkan keluasan hati. Mendahulukan orang lain membutuhkan kematangan jiwa. Dan memberikan sesuatu yang sebenarnya menjadi hak kita membutuhkan keikhlasan yang tidak sedikit. Dalam kehidupan hari ini, kita sering diajarkan untuk memperjuangkan hak. Itu penting.

Tetapi Saudah radhiyallahu ‘anha juga mengajarkan sisi lain yang tidak kalah penting, yaitu mengetahui kapan harus mendahulukan kasih sayang daripada kepentingan diri sendiri. Tidak semua hal harus dimenangkan.

Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Tidak setiap kesempatan harus kita ambil. Ada kalanya seseorang justru menjadi besar karena ia tahu kapan harus memberi ruang kepada orang lain. Ini adalah sebuah refleksi tentang kedewasaan emosional, kebijaksanaan memilih momentum, dan seni mengalah untuk menang.

Kebaikan yang Disegerakan

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga menyebut bahwa Saudah radhiyallahu ‘anha termasuk orang yang cepat dalam melakukan kebaikan. Ia tidak terlalu lama menunggu. Ini pelajaran yang sangat relevan bagi kita. Sering kali kita tahu apa yang baik, tetapi menundanya.

Ingin bersedekah, nanti kalau ada uang lebih. Ingin membaca Al-Qur’an, nanti kalau pekerjaan selesai. Ingin meminta maaf, nanti kalau suasana sudah membaik. Ingin membantu seseorang, nanti kalau kita punya waktu. Akhirnya, “nanti” menjadi kebiasaan.

Padahal kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan agar kita bersegera dalam amal kebaikan. Kebaikan yang diketahui tetapi terus ditunda bisa kehilangan kesempatan untuk diwujudkan.

Saudah radhiyallahu ‘anha mengajarkan satu sikap sederhana: ketika pintu kebaikan terbuka, melangkahlah. Tidak harus menunggu menjadi kaya untuk bersedekah. Tidak harus menunggu menjadi tokoh untuk memberi manfaat. Tidak harus menunggu tua untuk memperbaiki diri. Dan tidak harus menunggu hidup sempurna untuk menjadi orang baik.

Ketika Rezeki Datang, Ia Tidak Menahannya

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang kedermawanan Saudah radhiyallahu ‘anha. Suatu ketika, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu memberikan kepadanya satu karung berisi dirham. Ketika mengetahui bahwa karung tersebut berisi uang, Saudah radhiyallahu ‘anha justru segera meminta wadah untuk membagikannya.

Ia tidak menjadikan harta sebagai sesuatu yang harus lama berada di tangannya. Ia melihat kebutuhan orang lain. Sikap seperti ini terasa semakin penting pada zaman ketika manusia sering mengukur kebahagiaan dari apa yang berhasil dikumpulkan.

Semakin banyak yang dimiliki, semakin tinggi standar kehidupan. Namun Saudah radhiyallahu ‘anha mengajarkan cara pandang yang berbeda. Harta bukan hanya tentang berapa banyak yang kita simpan. Harta juga tentang berapa banyak kebaikan yang dapat kita alirkan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92). Memberi bukan berarti kita tidak membutuhkan harta.

Memberi berarti kita memahami bahwa harta bukan tujuan akhir. Ada orang yang mungkin tidak mampu memberikan banyak uang, tetapi dapat memberikan waktu. Ada yang tidak memiliki banyak harta, tetapi punya tenaga. Ada yang tidak memiliki jabatan, tetapi punya kemampuan mendengarkan.

Ada yang tidak bisa membantu secara materi, tetapi mampu memberikan doa dan penguatan. Kebaikan memiliki banyak bentuk. Yang terpenting adalah hati yang bersedia menjadi jalan bagi hadirnya manfaat.

Ketika Masalah Pribadi Menjadi Pelajaran bagi Banyak Orang

Salah satu bagian penting dalam perjalanan Saudah radhiyallahu ‘anha  adalah peristiwa ketika ia mengalami persoalan berkaitan dengan keluarnya perempuan untuk suatu keperluan. Saudah radhiyallahu ‘anha menyampaikan persoalan tersebut kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Kemudian turunlah wahyu yang memberikan izin bagi kaum perempuan untuk keluar rumah apabila memiliki keperluan. Peristiwa itu tercatat dalam hadits yang diriwayatkan secara muttafaq ‘alaih. Dari sini kita dapat melihat satu hal yang sangat indah.

Persoalan yang dialami seseorang pada zamannya dapat menjadi bagian dari petunjuk yang memberikan manfaat bagi banyak orang. Saudah radhiyallahu ‘anha  tidak menyelesaikan persoalannya dengan cara sembarangan. Ia datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ia mencari jalan yang benar. Ini juga pelajaran bagi kita. Ketika menghadapi persoalan, jangan hanya mengikuti emosi. Jangan mengambil keputusan besar ketika hati sedang penuh kemarahan. Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat pertama untuk mencari jawaban.

Carilah ilmu. Bertanyalah kepada orang yang terpercaya. Kembalikan persoalan kepada nilai-nilai agama. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan suara yang keras. Sebagian persoalan justru menemukan jalan keluar ketika kita datang dengan hati yang tenang.

Dari Saudah RA untuk Kehidupan Kita Hari Ini

Zaman telah berubah. Kita hidup di tengah teknologi, media sosial, pekerjaan yang cepat, komunikasi yang tidak pernah berhenti, dan tuntutan hidup yang semakin beragam. Namun kebutuhan manusia tidak banyak berubah.

Kita tetap membutuhkan orang yang menenangkan. Kita tetap membutuhkan orang yang mampu memahami. Kita tetap membutuhkan orang yang murah hati. Kita tetap membutuhkan orang yang tidak mudah mempermalukan orang lain. Kita tetap membutuhkan orang yang bersedia mengalah demi menjaga hubungan.

Dan kita tetap membutuhkan orang yang ketika memiliki kesempatan untuk berbuat baik, tidak terlalu banyak mencari alasan. Di sinilah keteladanan Saudah radhiyallahu ‘anha terasa dekat. Di dalam keluarga, kita bisa belajar menjadi pribadi yang menenangkan.

Di tempat kerja, kita bisa menjadi orang yang tidak memperkeruh keadaan. Di tengah pertemanan, kita bisa menjadi sahabat yang hadir bukan hanya ketika suasana menyenangkan. Di dunia digital, kita bisa memilih untuk tidak ikut menyebarkan kebencian.

Bagi Gen Z, pelajaran Ibunda Saudah radhiyallahu ‘anha juga sangat relevan. Kita tidak harus menjadi terkenal untuk memiliki pengaruh. Tidak semua kebaikan harus diposting. Tidak semua amal membutuhkan pengakuan. Kadang kebaikan terbaik justru dilakukan tanpa ada yang mengetahui selain Allah Subhanahu wata’ala.

Bagi mereka yang telah berkeluarga, Saudah radhiyallahu ‘anha mengajarkan tentang kelapangan hati. Bagi mereka yang sedang berjuang dalam pekerjaan, ia mengajarkan keteguhan. Bagi mereka yang sedang menghadapi kehilangan, kisah hidupnya mengajarkan bahwa kesedihan tidak harus menjadi akhir perjalanan.

Dan bagi siapa pun yang merasa hidupnya biasa saja, Saudah radhiyallahu ‘anha mengingatkan bahwa seseorang dapat meninggalkan jejak besar tanpa harus hidup dengan banyak sorotan. Kisah hidup Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha memang menjadi bukti nyata bahwa kemuliaan tidak selalu diukur dari seberapa sering seseorang menjadi pusat perhatian.

Mengukir Sejarah dengan Kebaikan

Kita mungkin tidak akan pernah hidup pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Kita tidak mengalami hijrah ke Habasyah. Kita tidak berada di tengah masyarakat Makkah pada masa awal Islam. Tetapi kita hidup pada zaman kita sendiri. Dan setiap zaman membutuhkan orang-orang yang mau menjaga kebaikan.

Mungkin sejarah kita tidak ditulis dalam buku. Mungkin nama kita tidak disebut banyak orang. Namun bisa jadi ada seorang anak yang tumbuh baik karena nasihat kita. Ada keluarga yang tetap bertahan karena kesabaran kita. Ada teman yang kembali bersemangat karena satu kalimat yang kita ucapkan.

Ada orang yang terbantu karena sebagian rezeki kita. Ada seseorang yang tidak jadi menyerah karena kita memilih hadir dan mendengarkan. Bukankah itu juga sejarah? Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha telah menyelesaikan bagian sejarahnya.

Ia meninggalkan teladan tentang iman yang teguh, jiwa yang kuat, hati yang lapang, kedermawanan, dan kesigapan dalam kebaikan. Sekarang giliran kita menulis bagian kita sendiri. Bukan dengan mengejar nama. Bukan dengan mencari pujian.

Tetapi dengan memperbanyak manfaat. Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup seseorang bernilai bukan seberapa sering namanya disebut, tetapi seberapa banyak kebaikan yang tetap hidup setelah dirinya tidak lagi berada di tengah manusia.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan kita pribadi yang kuat dalam iman, luas dalam hati, ringan dalam memberi, dan cepat dalam melakukan kebaikan. Karena sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang berdiri di depan. Sejarah juga ditulis oleh mereka yang diam-diam menjaga kebaikan tetap hidup. Wallahu a’lam bishawab.

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *