Wanita Pengukir Sejarah: Ruqayyah binti Muhammad RA (14)

@ Cecep Y Pramana

Tidak semua perjuangan tercatat melalui kemenangan di medan perang. Ada perjuangan yang berlangsung dalam perjalanan meninggalkan kampung halaman. Ada pengorbanan yang hadir ketika seseorang harus berpisah dari keluarga, menghadapi ketidakpastian, dan membangun kehidupan di tempat yang asing.

Keteguhan Iman, Keberanian Berhijrah, dan Kesetiaan dalam Ujian

Ada pula keteguhan yang diuji ketika orang-orang terkasih pergi lebih dahulu, meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi. Ruqayyah binti Muhammad radhiyallahu ‘anha menjalani bagian-bagian kehidupan itu. Putri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha ini tumbuh di tengah keluarga yang kemudian menjadi pusat lahirnya risalah Islam.

Ia menyaksikan perubahan besar dalam kehidupan ayahnya, menghadapi tekanan dari lingkungan Quraisy, menempuh perjalanan hijrah ke negeri yang jauh, dan mengalami kehilangan yang datang silih berganti. Kisah hidupnya tidak panjang.

Ia wafat pada tahun kedua Hijriah, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan kaum Muslimin sedang menghadapi Perang Badar. Namun, perjalanan hidup yang singkat itu meninggalkan pelajaran tentang keberanian memilih iman, kesabaran menghadapi perubahan, dan kesetiaan dalam mendampingi orang yang dicintai.

Ruqayyah radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa kemuliaan seorang perempuan tidak selalu diukur dari panjangnya usia atau banyaknya kesempatan untuk berkarya. Ada kehidupan yang singkat, tetapi meninggalkan keteladanan yang terus dikenang lintas generasi.

Tumbuh di Tengah Keluarga yang Mulia

Ruqayyah adalah salah seorang putri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dari pernikahannya dengan Khadijah radhiyallahu ‘anha. Ia tumbuh bersama saudara-saudaranya dalam lingkungan keluarga yang dikenal karena kehormatan, kejujuran, dan kemuliaan akhlak.

Sebelum Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi rasul, kehidupan keluarga mereka berlangsung di tengah masyarakat Makkah yang menjunjung tinggi kedudukan keluarga dan kehormatan kabilah. Namun, ketika wahyu mulai turun dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyerukan tauhid, kehidupan keluarga tersebut memasuki babak yang berbeda.

Islam bukan sekadar membawa perubahan dalam keyakinan. Risalah itu juga mengguncang tatanan sosial yang selama ini dibangun di atas tradisi dan kepentingan kaum Quraisy. Orang-orang yang menerima Islam harus bersiap menghadapi penolakan, tekanan, bahkan ancaman dari orang-orang terdekat mereka.

Ruqayyah radhiyallahu ‘anha termasuk perempuan yang menerima Islam pada masa-masa awal. Ia mengikuti jalan yang ditempuh ibunya, Khadijah radhiyallahu ‘anha, yang menjadi orang pertama beriman kepada Rasulullah SAW. Keputusan itu bukan perkara ringan.

Menerima Islam berarti bersedia menempatkan kebenaran di atas kenyamanan, bahkan ketika pilihan tersebut membawa konsekuensi terhadap hubungan keluarga dan kehidupan sosial. Bagi kita hari ini, menerima kebenaran mungkin tidak selalu menuntut perjalanan jauh atau menghadapi ancaman sebagaimana dialami generasi pertama Islam.

Namun, ujian prinsip tetap hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang harus berani berkata jujur ketika lingkungan membiasakan kebohongan. Ada yang berusaha menjaga ibadah di tengah kesibukan. Ada pula yang memilih jalan halal meskipun jalan lain tampak lebih mudah.

Ruqayyah radhiyallahu ‘anha mengingatkan bahwa iman bukan sekadar sesuatu yang diwarisi dari keluarga. Iman adalah keyakinan yang perlu diterima dengan kesadaran, dijaga dengan kesungguhan, dan dibuktikan melalui pilihan hidup.

Ketika Ikatan Keluarga Tidak Menjamin Perlindungan

Sebelum menikah dengan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Ruqayyah radhiyallahu ‘anha pernah menikah dengan Utbah bin Abu Lahab. Ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan dakwah secara terbuka dan turun Surah Al-Lahab, Abu Lahab menunjukkan permusuhan terhadap dakwah putranya itu.

Dalam sejumlah riwayat sirah, Abu Lahab meminta kedua putranya menceraikan putri-putri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Akibatnya, Ruqayyah radhiyallahu ‘anha mengalami perpisahan dari suami pertamanya sebelum kehidupan rumah tangganya berkembang lebih jauh.

Peristiwa itu memperlihatkan betapa kerasnya tekanan yang dihadapi keluarga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Permusuhan terhadap Islam bahkan masuk ke dalam hubungan rumah tangga. Ikatan kekerabatan yang seharusnya menjadi ruang perlindungan berubah menjadi bagian dari tekanan sosial.

Bagi Ruqayyah radhiyallahu ‘anha, keadaan itu tentu menjadi pengalaman yang tidak mudah. Ia harus menerima perubahan dalam kehidupan pribadi yang berkaitan erat dengan konflik antara keluarganya dan kaum Quraisy.

Namun, perpisahan tersebut bukan akhir dari perjalanan hidupnya. Allah Subhanahu wata’ala kemudian mempertemukannya dengan Utsman bin Affan, seorang sahabat yang dikenal karena keimanan, kelembutan akhlak, dan kedermawanannya. Utsman menjadi pendamping Ruqayyah radhiyallahu ‘anha  dalam perjalanan panjang mempertahankan iman.

Dari sini, kita belajar bahwa tidak semua perubahan dalam hidup dapat kita pilih. Ada keadaan yang datang tanpa diduga. Ada hubungan yang tidak berjalan sebagaimana harapan. Ada pintu yang tertutup ketika kita merasa masih ingin melangkah di dalamnya.

Meski demikian, kehilangan satu kesempatan tidak berarti seluruh masa depan ikut tertutup. Seseorang tetap dapat melanjutkan kehidupan, memperbaiki diri, dan menjalani babak baru dengan harapan yang lebih baik.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini berbicara dalam konteks kewajiban berperang, tetapi mengandung pelajaran umum tentang keterbatasan pengetahuan manusia.

Kita tidak selalu memahami makna sebuah peristiwa ketika sedang mengalaminya. Karena itu, ketika menghadapi perubahan yang berat, kita perlu menjaga ikhtiar, memohon petunjuk Allah Subhanahu wata’ala, dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kehidupan telah kehilangan harapannya.

Hijrah ke Habasyah: Memilih Iman di Atas Kenyamanan

Tekanan terhadap kaum Muslimin di Makkah semakin berat. Mereka yang tidak memiliki perlindungan kuat dari kabilahnya menghadapi ancaman dan gangguan. Dalam keadaan tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan izin kepada sebagian sahabat untuk berhijrah ke Habasyah, sebuah negeri yang dipimpin oleh Raja Najasyi.

Negeri itu menjadi tempat perlindungan bagi kaum Muslimin karena rajanya dikenal sebagai penguasa yang adil. Bagi mereka yang berangkat, hijrah bukan perjalanan biasa. Mereka harus meninggalkan rumah, keluarga, lingkungan yang dikenal, serta kehidupan yang telah dibangun sejak lama.

Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu termasuk pasangan yang berhijrah ke Habasyah. Mereka tercatat dalam rombongan hijrah pertama dan kemudian kembali melakukan hijrah ke Habasyah pada gelombang berikutnya.

Bayangkan perjalanan itu dari sudut pandang sebuah keluarga muda. Mereka meninggalkan Makkah bukan untuk mencari kemewahan atau memperluas perdagangan. Mereka berangkat demi menjaga keyakinan dan memperoleh ruang untuk beribadah dengan lebih aman.

Tidak ada kepastian tentang berapa lama mereka harus tinggal di negeri orang. Mereka juga tidak mengetahui secara pasti bagaimana keadaan dakwah di Makkah pada masa mendatang. Yang mereka miliki adalah keyakinan bahwa mempertahankan iman lebih penting daripada bertahan dalam keadaan yang terus mengancam keselamatan dan kebebasan beragama mereka.

Hijrahnya Ruqayyah radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berarti bertahan di tempat yang sama. Terkadang, keberanian justru berarti bersedia meninggalkan sesuatu yang dikenal demi menjaga sesuatu yang lebih berharga.

Dalam kehidupan sekarang, bentuk hijrah dapat hadir dalam beragam keadaan. Ada seseorang yang meninggalkan lingkungan pergaulan yang merusak. Ada yang berusaha keluar dari kebiasaan buruk. Ada pula yang memilih pekerjaan dan kehidupan yang lebih sesuai dengan nilai-nilai agama, meskipun keputusan itu membutuhkan penyesuaian.

Tentu, setiap perubahan perlu dipertimbangkan dengan matang. Namun, kisah Ruqayyah mengingatkan bahwa kenyamanan tidak selalu menjadi ukuran terbaik dalam mengambil keputusan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 100).

Ayat ini memberikan harapan kepada mereka yang meninggalkan sesuatu demi menaati Allah Subhanahu wata’ala. Hijrah bukan jaminan bahwa setiap perjalanan akan bebas dari kesulitan. Namun, ia mengajarkan bahwa ketaatan tidak boleh diukur semata-mata dari kenyamanan yang segera diperoleh.

Keberanian Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menunjukkan bahwa iman dapat menjadi sumber kekuatan ketika masa depan belum terlihat jelas. Kisah hijrah Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ke Habasyahmerupakan salah satu bukti paling nyata dalam sejarah Islam mengenai bagaimana iman mampu menjadi jangkar dan sumber kekuatan terbesar di tengah ketidakpastian masa depan.

Cinta yang Hadir dalam Kesabaran

Dari pernikahannya dengan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dikaruniai seorang putra bernama Abdullah. Kehadiran seorang anak tentu membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga muda itu. Di tengah perjalanan hijrah dan berbagai perubahan kehidupan, keluarga menjadi tempat mereka menumbuhkan harapan.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung tanpa ujian. Abdullah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia ketika masih kecil, sekitar usia enam tahun menurut sejumlah riwayat. Kehilangan anak merupakan pengalaman yang sangat berat bagi orang tua. Anak bukan hanya bagian dari keluarga, tetapi juga tempat tumbuhnya harapan tentang masa depan.

Ketika seorang anak meninggal sebelum dewasa, orang tua harus menghadapi kenyataan yang tidak pernah mudah diterima. Kita tidak mengetahui seluruh pergulatan batin yang dialami Ruqayyah radhiyallahu ‘anha. Karena itu, kita tidak perlu mengarang percakapan atau menggambarkan kesedihannya secara berlebihan.

Cukuplah kita memahami bahwa ia menjalani kehidupan dengan kehilangan yang nyata, di tengah perjalanan iman yang juga penuh ujian. Kisah ini mengingatkan kita bahwa orang-orang saleh bukanlah manusia yang terbebas dari kesedihan. Mereka juga mengalami kehilangan, menghadapi ketidakpastian, dan merasakan beratnya perpisahan.

Keimanan tidak membuat manusia kehilangan perasaan. Keimanan memberikan arah agar kesedihan tidak memutus hubungan seorang hamba dengan Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengalami kehilangan anak-anaknya.

Beliau mengajarkan bahwa air mata dan kesedihan adalah bagian dari kemanusiaan, sementara lisan dan hati tetap dijaga agar tidak melampaui batas yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala. Dalam hadis sahih, ketika putra beliau, Ibrahim radhiyallahu ‘anhu, wafat, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa mata meneteskan air mata dan hati bersedih, tetapi beliau tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Riwayat ini tercantum dalam Shahih Bukhari. Dari teladan tersebut, kita belajar bahwa kesabaran bukan berarti tidak boleh menangis. Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap menjaga iman dan adab ketika hati sedang berduka.

Bagi siapa pun yang pernah kehilangan orang yang dicintai, pelajaran ini memberikan ruang untuk berduka tanpa merasa harus menyembunyikan perasaan. Kita dapat bersedih, mengenang, dan merindukan, sambil tetap berusaha menjalani kehidupan dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala.

Ketika Perang Badar Berlangsung

Pada tahun kedua Hijriah, kaum Muslimin bersiap menghadapi Perang Badar. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang tidak dapat mengikuti peperangan tersebut karena harus merawat Ruqayyah radhiyallahu ‘anha yang sedang sakit.

Ruqayyah radhiyallahu ‘anha mengalami sakit yang berat, dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu tetap tinggal di Madinah untuk mendampinginya. Keputusan itu menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap keluarga juga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Dalam sejarah, pengorbanan sering kali dikaitkan dengan keberanian tampil di medan perjuangan. Namun, kisah Utsman radhiyallahu ‘anhu dan Ruqayyah radhiyallahu ‘anha memperlihatkan sisi lain pengabdian: tetap berada di sisi orang yang membutuhkan pertolongan.

Ada kalanya seseorang harus meninggalkan kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan besar karena tanggung jawab keluarga. Ada yang harus merawat orang tua yang sakit ketika rekan-rekannya sedang menjalankan tugas. Ada yang perlu mendampingi pasangan atau anak ketika keadaan membutuhkan kehadirannya.

Tidak semua pengabdian terlihat oleh banyak orang. Sebagian justru berlangsung di ruang yang sunyi, tanpa tepuk tangan dan tanpa pengakuan luas. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan kaum Muslimin berangkat menuju Badar, Ruqayyah radhiyallahu ‘anha masih berjuang menghadapi sakitnya.

Ia kemudian wafat di Madinah pada tahun kedua Hijriah, ketika kaum Muslimin masih berada di medan Badar. Kabar wafatnya Ruqayyah radhiyallahu ‘anha menjadi duka bagi keluarga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Pada saat yang sama, kaum Muslimin sedang menghadapi pertempuran yang menentukan dalam sejarah awal Islam.

Ada dua peristiwa besar yang berlangsung pada waktu berdekatan: perjuangan kaum Muslimin di Badar dan kepergian putri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam di Madinah. Keduanya menjadi bagian dari sejarah yang mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu memberikan kesempatan untuk menyelesaikan semua urusan dalam satu waktu.

Ruqayyah radhiyallahu ‘anha tidak menyaksikan kemenangan kaum Muslimin di Badar. Namun, keteguhan yang ia tunjukkan dalam menerima Islam dan menempuh hijrah telah menjadi bagian dari perjalanan generasi pertama kaum Muslimin.

Kehidupannya mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh peristiwa terakhir yang ia saksikan, tetapi juga oleh pilihan-pilihan yang dijalani sepanjang hidupnya. Kehidupannya mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh peristiwa terakhir yang ia saksikan, tetapi juga oleh pilihan-pilihan yang dijalani sepanjang hidupnya.

Keteguhan yang Tetap Relevan

Kisah Ruqayyah binti Muhammad radhiyallahu ‘anha  mungkin berlangsung lebih dari empat belas abad yang lalu. Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan bagi kehidupan sekarang. Ia mengajarkan keberanian mempertahankan iman ketika lingkungan memberikan tekanan.

Ia memperlihatkan bahwa hijrah membutuhkan kesediaan meninggalkan kenyamanan demi sesuatu yang lebih penting. Ia juga mengingatkan bahwa kesetiaan dalam keluarga bukan hanya tentang kebahagiaan bersama, tetapi juga tentang kesediaan hadir ketika orang yang dicintai sedang menghadapi kesulitan.

Bagi generasi muda, kisah Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dapat menjadi pengingat bahwa keputusan hidup perlu dibangun di atas prinsip yang jelas. Tidak semua pilihan populer membawa kebaikan. Tidak semua jalan yang mudah akan mengantarkan kita pada tujuan yang benar.

Bagi mereka yang telah berkeluarga, perjalanan Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menunjukkan pentingnya saling mendampingi, berbagi tanggung jawab, dan memberikan perhatian ketika pasangan sedang membutuhkan dukungan.

Bagi siapa pun yang sedang menghadapi kehilangan atau perubahan besar, kisahnya menjadi pengingat bahwa ujian tidak menghapus nilai kehidupan. Kita tetap dapat berbuat baik, menjaga amanah, dan melanjutkan langkah meskipun tidak semua harapan terwujud.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6). Ayat ini bukan berarti setiap kesulitan langsung berakhir dengan keadaan yang kita inginkan. Ia meneguhkan bahwa kesulitan bukan satu-satunya kenyataan dalam hidup.

Selalu ada ruang untuk berikhtiar, memperbaiki keadaan, meminta pertolongan, dan menumbuhkan harapan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ruqayyah radhiyallahu ‘anha  telah menjalani kehidupan yang relatif singkat, tetapi kisahnya menyimpan pelajaran yang panjang.

Ia memilih iman ketika pilihan itu tidak mudah. Ruqayyah radhiyallahu ‘anha berhijrah ketika keselamatan dan keyakinannya menuntut pengorbanan. Ia menjalani kehidupan keluarga dengan berbagai ujian, hingga akhirnya wafat ketika kaum Muslimin sedang berjuang mempertahankan dakwah.

Namanya mengingatkan kita bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari usia yang panjang atau kesempatan yang luas. Kemuliaan juga tumbuh dari kesetiaan terhadap kebenaran, kesabaran dalam menghadapi keadaan, dan keberanian untuk terus berjalan di jalan yang diyakini benar.

Sebab, kehidupan yang bermakna bukanlah kehidupan yang bebas dari ujian, melainkan kehidupan yang tetap diarahkan oleh iman ketika ujian datang silih berganti. Kehidupan yang bermakna sejati tidak diukur dari seberapa tenang dan mulusnya jalan yang kita lalui, melainkan dari bagaimana kita menyikapi badai yang datang.

Ruqayyah binti Muhammad radhiyallahu ‘anha, perempuan yang menorehkan keteladanan melalui iman, hijrah, dan kesabaran, mengajarkan bahwa jalan menuju Allah Subhanahu wata’ala terkadang menuntut pengorbanan. Namun, setiap langkah yang dijalani dengan keteguhan dan ketaatan akan menjadi bagian dari amal yang bernilai di sisi-Nya. Wallahu a’lam bishawab.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *