Jangan Menjadi Penghalang Rezeki Orang Lain

@ Cecep Y Pramana

Ada orang yang datang ke dalam hidup kita lalu membuat suasana menjadi lebih baik. Kehadirannya memberi semangat. Ucapannya menenangkan. Sikapnya membuat orang lain merasa dihargai. Namun, ada pula kehadiran yang justru membuat orang lain perlahan kehilangan tenaga.

Bukan karena pekerjaannya terlalu berat, tetapi karena harus berhadapan dengan sikap yang merendahkan, ego yang tinggi, ucapan yang menyakitkan, atau perlakuan yang membuatnya merasa tidak dihargai. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bercermin.

Jangan sampai buruknya akhlak kita menjadi sebab orang lain kehilangan semangat, meninggalkan pekerjaan, bahkan menjauh dari jalan rezeki yang sebenarnya sedang Allah Subhanahu wata’ala bukakan untuknya. Memang, rezeki setiap manusia telah Allah Subhanahu wata’ala tetapkan.

Tidak ada satu pun manusia yang mampu mengambil rezeki orang lain yang telah menjadi bagiannya. Tetapi kita tetap harus berhati-hati. Jangan sampai tangan kita menjadi sebab seseorang memilih pergi dari tempat yang seharusnya menjadi ruang baginya untuk bertumbuh dan mencari nafkah.

Kadang kita terlalu sibuk merasa paling benar. Kita ingin didengar, tetapi tidak mau mendengar.
Kita ingin dihormati, tetapi lupa menghormati. Kita mudah menilai kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kekurangan diri sendiri. Padahal, bisa jadi orang-orang di sekitar kita sedang menanggung luka yang tidak pernah mereka ceritakan.

Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al Hujurat ayat 11, “Dan janganlah kamu merendahkan orang lain.”Maka, jika seseorang pergi karena beban pekerjaan, mungkin itu memang bagian dari keadaan. Namun, jika satu per satu orang pergi karena tidak kuat menghadapi sikap kita, mungkin bukan hanya keadaan yang perlu diperiksa.

Mungkin diri kita juga perlu bercermin. Jangan sibuk berharap keburukan menimpa orang lain. Jangan mudah berbicara tentang karma. Sebagai seorang Muslim, yang lebih pantas kita lakukan adalah takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, memperbanyak introspeksi, dan memperbaiki akhlak.

Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana Allah Subhanahu wata’ala mengajarkan sebuah pelajaran kepada kita. Jabatan bisa hilang. Harta bisa berkurang. Pekerjaan bisa berganti. Kekuasaan bisa berakhir. Tetapi luka yang lahir dari buruknya akhlak terkadang tinggal jauh lebih lama dalam ingatan seseorang.

Karena itu, sebelum meminta orang lain memahami kita, belajarlah memahami perasaan orang lain. Sebelum menuntut orang lain menghormati kita, pastikan kita juga mampu menghormati mereka. Dan sebelum merasa bahwa kepergian seseorang adalah kerugian bagi mereka, tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah selama ini kehadiranku telah menjadi kebaikan bagi orang lain, atau justru menjadi beban yang membuat mereka ingin pergi?”

Kita tidak harus menjadi manusia yang sempurna. Tetapi kita bisa berusaha menjadi manusia yang tidak menyakiti. Jangan menjadi penghalang rezeki orang lain. Jadilah sebab seseorang merasa dihargai, dikuatkan, dan menemukan kebaikan ketika berada di dekat kita.

Sebab sebaik-baik keberadaan bukanlah yang paling ditakuti, paling berkuasa, atau paling banyak dipuji. Melainkan yang kehadirannya membawa manfaat, akhlaknya menghadirkan ketenangan, dan kepergiannya tetap meninggalkan kebaikan. Bismillah.

3Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *