Cahaya di Atas Cahaya
@ Cecep Y Pramana
Ada malam-malam ketika lampu di rumah menyala terang, layar telepon terus bercahaya, dan kota masih sibuk meski hari sudah jauh beranjak. Namun di tengah semua cahaya itu, seseorang bisa tetap merasa gelap. Bukan gelap karena tidak ada penerangan.
Tetapi karena tidak tahu harus ke mana. Ia mungkin memiliki pekerjaan yang baik, keluarga yang menyayangi, teman yang banyak, pendidikan yang cukup, bahkan kehidupan yang dari luar terlihat baik-baik saja. Tetapi di dalam hati ada pertanyaan yang sulit dijawab. “Apa sebenarnya tujuan semua ini?”
Pertanyaan itu bisa datang kepada siapa saja. Kepada anak muda yang sedang mencari arah masa depan. Kepada seseorang yang sedang membangun karier. Kepada orang tua yang mulai memikirkan perjalanan hidup anak-anaknya. Kepada seseorang yang telah mencapai banyak hal, tetapi merasa ada ruang kosong yang belum terisi.
Al-Qur’an, Petunjuk yang Menerangi Hati dan Kehidupan
Kita sering mengira bahwa yang kita butuhkan adalah lebih banyak pencapaian. Padahal terkadang yang kita butuhkan bukan tambahan sesuatu. Kita membutuhkan arah, petunjuk. Dan arah tidak selalu ditemukan dengan berjalan lebih cepat. Kadang arah ditemukan ketika kita berhenti sejenak, menenangkan hati, lalu kembali mendengarkan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala.
Di situlah Al-Qur’an hadir. Bukan sebagai kitab yang hanya dibaca ketika Ramadan. Bukan hanya sebagai bacaan dalam acara keagamaan. Bukan pula hanya sebagai hiasan yang tersimpan rapi di rak. Al-Qur’an adalah petunjuk. Ia hadir untuk menerangi perjalanan manusia.
Dan di antara gambaran paling indah tentang cahaya dalam Al-Qur’an terdapat dalam firman Allah: “Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35). Dalam ayat yang sama, Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan cahaya-Nya dengan sebuah perumpamaan yang begitu dalam: “Cahaya di atas cahaya.” (QS. An-Nur: 35).
Ungkapan itu mengajak kita merenungkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar cahaya yang terlihat oleh mata. Ada cahaya yang menerangi jalan. Ada cahaya yang menerangi pikiran. Dan ada cahaya yang menerangi hati.
Ketika Hidup Terlalu Banyak Arah
Kita hidup dalam zaman dengan pilihan yang sangat banyak. Dulu seseorang mungkin harus mencari informasi dengan datang ke perpustakaan, bertanya kepada orang lain, atau membaca buku secara langsung. Sekarang hampir semuanya ada dalam genggaman.
Kita dapat mencari informasi dalam hitungan detik. Kita dapat belajar dari siapa saja. Kita dapat melihat kehidupan manusia dari berbagai belahan dunia. Kita dapat mengikuti berbagai perkembangan tanpa harus meninggalkan rumah.
Teknologi memberikan banyak kemudahan. Tetapi banyaknya informasi tidak selalu membuat manusia semakin bijaksana. Kadang justru sebaliknya. Semakin banyak suara yang kita dengar, semakin sulit menentukan suara mana yang harus diikuti.
Semakin banyak pilihan, semakin mudah kita bingung. Semakin sering melihat kehidupan orang lain, semakin mudah kita mempertanyakan kehidupan sendiri. Media sosial memperlihatkan pencapaian orang lain. Ada yang lulus lebih cepat.
Ada yang mendapatkan pekerjaan impian. Ada yang membangun bisnis. Ada yang bepergian ke berbagai tempat. Ada yang menikah. Ada yang membeli rumah. Ada yang terlihat bahagia setiap hari. Kemudian tanpa sadar kita mulai membandingkan.
Mengapa saya belum seperti dia? Mengapa hidup saya tidak sebaik itu? Mengapa perjalanan saya lebih lambat? Pertanyaan-pertanyaan itu bisa membuat hati lelah. Padahal kita sedang membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain yang kita lihat melalui layar. Di sinilah Al-Qur’an membantu kita kembali kepada ukuran yang benar.
Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Ukuran kemuliaan bukan popularitas. Bukan jumlah pengikut. Bukan penampilan. Bukan kekayaan. Bukan seberapa sering nama kita disebut. Kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wata’ala berkaitan dengan ketakwaan.
Al-Qur’an membantu kita mengembalikan orientasi hidup. Dari mengejar penilaian manusia menuju mencari ridha Allah Subhanahu wata’ala. Dari membandingkan diri dengan orang lain menuju memperbaiki diri sendiri. Dari bertanya, “Apa yang orang lain pikirkan tentang saya?” menjadi bertanya, “Apa yang Allah inginkan dari saya?”Itulah cahaya.
Cahaya yang Menunjukkan Jalan
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra: 9).Ayat ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Al-Qur’an adalah petunjuk. Petunjuk berarti kita tidak dibiarkan berjalan tanpa arah.
Ketika harus memilih antara kejujuran dan keuntungan, Al-Qur’an memberi prinsip. Ketika harus memilih antara membalas keburukan atau memaafkan, Al-Qur’an memberi pertimbangan. Ketika mendapatkan rezeki, Al-Qur’an mengajarkan syukur dan kepedulian.
Ketika kehilangan sesuatu, Al-Qur’an mengajarkan kesabaran. Ketika memiliki kelebihan, Al-Qur’an mengajarkan kerendahan hati. Ketika menghadapi perbedaan, Al-Qur’an mengajarkan adab. Ketika memiliki kekuasaan, Al-Qur’an mengingatkan tentang amanah dan keadilan. Karena itu, membaca Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti pada lisan.
Ayat-ayatnya perlu masuk ke dalam cara kita menjalani kehidupan. Kita membaca tentang kejujuran, lalu belajar jujur. Kita membaca tentang sabar, lalu belajar menahan diri. Kita membaca tentang amanah, lalu memperbaiki tanggung jawab. Kita membaca tentang kasih sayang, lalu belajar memperlakukan keluarga dengan lebih baik. Inilah ketika Al-Qur’an berubah dari sekadar bacaan menjadi pedoman.
Bukan Hanya Dibaca, tetapi Dihidupkan
Ada perbedaan antara memiliki Al-Qur’an dan hidup bersama Al-Qur’an. Memiliki Al-Qur’an berarti kita menyimpannya. Membaca Al-Qur’an berarti kita melafalkannya. Memahami Al-Qur’an berarti kita berusaha mengerti pesannya. Namun menghidupkan Al-Qur’an berarti membiarkan petunjuknya memengaruhi kehidupan.
Inilah perjalanan yang perlu kita tempuh. Dari mata menuju pikiran. Dari pikiran menuju hati. Dari hati menuju perilaku. Karena ukuran keberhasilan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an bukan hanya seberapa banyak halaman yang selesai dibaca.
Ada pertanyaan yang lebih penting: Apakah bacaan itu membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?Jika ayat tentang kesabaran membuat kita lebih mampu mengendalikan amarah, berarti ada cahaya yang mulai masuk. Jika ayat tentang syukur membuat kita berhenti mengeluhkan nikmat yang sedikit, berarti ada cahaya yang mulai tumbuh.
Jika ayat tentang menjaga lisan membuat kita berpikir sebelum berbicara, berarti Al-Qur’an mulai hidup dalam diri. Jika ayat tentang akhirat membuat kita lebih berhati-hati dalam menggunakan waktu, berarti petunjuk itu mulai bekerja. Al-Qur’an tidak hanya mengubah apa yang kita pikirkan. Ia mengubah cara kita hidup.
Ketika Hati Membutuhkan Cahaya
Ada orang yang tubuhnya sehat, tetapi hatinya lelah. Ada yang memiliki banyak teman, tetapi merasa sendiri. Ada yang memiliki banyak harta, tetapi selalu merasa kurang. Ada yang memiliki jabatan, tetapi kehilangan ketenangan.
Ada yang berhasil memenuhi banyak keinginan, tetapi masih mencari makna. Hidup memang tidak selalu dapat diselesaikan dengan pencapaian. Ada kebutuhan manusia yang tidak bisa dipenuhi oleh materi. Hati membutuhkan hubungan dengan Penciptanya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan berarti hati memiliki tempat kembali ketika masalah datang. Seorang mukmin tetap dapat menangis. Tetap dapat kecewa. Tetap dapat merasa takut. Tetap dapat mengalami kegagalan.
Tetapi ia memiliki keyakinan bahwa semua itu tidak berada di luar pengetahuan Allah Subhanahu wata’ala. Ia tahu kepada siapa harus mengadu. Ia tahu kepada siapa harus meminta pertolongan. Ia tahu bahwa hidup bukan sekadar rangkaian kejadian tanpa makna. Ada Allah Subhanahu wata’ala di balik setiap perjalanan. Dan Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal itu.
Jangan Menunggu Hidup Menjadi Sempurna
Ada kebiasaan yang sering membuat kita jauh dari Al-Qur’an. Kita menunggu waktu yang tepat. “Nanti kalau pekerjaan sudah selesai”. “Nanti kalau sedang tidak sibuk”. “Nanti kalau pikiran sudah tenang”. “Nanti kalau masalah sudah selesai.” Masalahnya, hidup hampir tidak pernah benar-benar kosong dari persoalan.
Selesai satu pekerjaan, datang pekerjaan lain. Selesai satu masalah, muncul tantangan berikutnya. Karena itu, jangan menunggu hidup sempurna untuk membaca Al-Qur’an. Justru ketika hidup tidak sempurna, kita membutuhkan petunjuknya.
Ketika sedang kecewa, baca Al-Qur’an. Ketika sedang bahagia, baca Al-Qur’an. Ketika sedang bingung, baca Al-Qur’an. Ketika sedang takut, baca Al-Qur’an. Ketika sedang merasa jauh dari Allah Subhanahu wata’ala, baca Al-Qur’an dan mulailah kembali. Tidak harus satu juz, tidak harus berjam-jam. Satu halaman pun dapat menjadi awal. Beberapa ayat pun cukup untuk memulai kembali.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka jangan meremehkan bacaan yang sedikit tetapi dilakukan terus-menerus. Yang sedang kita bangun bukan sekadar jumlah. Kita sedang membangun kedekatan.
Satu Ayat yang Mengubah Cara Pandang
Kadang kita membaca Al-Qur’an dengan cepat. Halaman demi halaman. Surah demi surah. Kemudian selesai. Tetapi ada saat ketika kita membaca satu ayat dan tiba-tiba berhenti. Kita membacanya sekali. Kemudian sekali lagi. Lalu diam.
Ayat itu terasa berbeda. Bukan karena ayatnya berubah. Tetapi karena keadaan hati kita sedang berubah. Ayat tentang kesabaran terasa berbeda ketika kita sedang menghadapi ujian. Ayat tentang syukur terasa berbeda ketika kita baru saja menerima nikmat. Ayat tentang ampunan terasa begitu dekat ketika kita sedang menyesali kesalahan.
Ayat tentang kematian terasa berbeda ketika kita mulai memahami bahwa usia terus berjalan. Begitulah Al-Qur’an. Ayat yang sama dapat terus kita baca sepanjang hidup, tetapi kedalamannya bisa terasa berbeda pada setiap fase kehidupan. Karena manusia berubah. Pengalaman bertambah. Kematangan tumbuh. Dan semakin banyak perjalanan yang kita lalui, semakin banyak pula ayat yang menemukan tempatnya di dalam hati.
Cahaya untuk Gen Z
Generasi muda hari ini tumbuh di tengah perubahan yang sangat cepat. Mereka mengenal dunia digital sejak dini. Belajar melalui internet. Berkomunikasi melalui media sosial. Membangun karya melalui platform digital. Mencari peluang dari berbagai tempat.
Ini adalah kesempatan besar. Namun di balik kemudahan itu terdapat tantangan. Informasi yang tidak terbatas dapat membuat seseorang kehilangan fokus. Tren yang berubah cepat dapat membuat seseorang sulit memiliki prinsip. Komentar orang lain dapat memengaruhi kepercayaan diri.
Perbandingan di media sosial dapat membuat seseorang lupa menghargai proses hidupnya sendiri. Karena itu, generasi muda tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi. Mereka membutuhkan fondasi. Mereka membutuhkan nilai.
Mereka membutuhkan prinsip yang tidak berubah meskipun zaman berubah. Di sinilah Al-Qur’an memiliki peran yang sangat penting. Al-Qur’an tidak mengajarkan kita untuk takut kepada perubahan. Al-Qur’an mengajarkan bagaimana menghadapi perubahan dengan nilai yang benar. Teknologi boleh berubah.
Pekerjaan boleh berubah. Gaya komunikasi boleh berubah. Tetapi kejujuran tetap penting. Amanah tetap penting. Menjaga kehormatan tetap penting. Menghormati orang tua tetap penting. Menolong sesama tetap penting. Takwa tetap menjadi ukuran. Nilai-nilai itu tidak kehilangan relevansinya hanya karena zaman berubah.
Cahaya untuk Keluarga
Al-Qur’an juga harus hadir di dalam rumah. Bukan hanya di masjid. Bukan hanya di majelis ilmu. Bukan hanya dalam kegiatan formal. Rumah adalah tempat pertama di mana nilai Al-Qur’an dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Anak belajar tentang kasih sayang bukan hanya dari nasihat. Ia belajar dari bagaimana orang tuanya berbicara.
Anak belajar tentang kejujuran bukan hanya dari buku. Ia belajar dari bagaimana orang tuanya bersikap. Anak belajar tentang kesabaran bukan hanya dari ceramah. Ia melihat bagaimana keluarganya menghadapi masalah. Karena itu, keluarga yang dekat dengan Al-Qur’an bukan hanya keluarga yang sering mengaji.
Tetapi keluarga yang berusaha menjadikan nilai Al-Qur’an sebagai budaya kehidupan. Ada doa, saling menghormati, musyawarah, saling memaafkan, kepedulian, kesediaan mengakui kesalahan. Ada usaha memperbaiki diri. Di situlah cahaya Al-Qur’an menjadi nyata.
Cahaya dalam Pekerjaan
Bagi orang dewasa, kehidupan banyak dihabiskan di dunia pekerjaan. Di kantor, toko, sekolah, rumah sakit, lapangan, ruang rapat, depan komputer, atau di tengah aktivitas usaha. Di sanalah Al-Qur’an juga perlu hadir. Bekerja dengan jujur. Tidak mengambil sesuatu yang bukan hak.
Menepati janji, dan menjaga amanah. Tidak merugikan orang lain. Tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Memberikan hak orang lain. Bekerja dengan sungguh-sungguh. Semua itu adalah bentuk ketika nilai Al-Qur’an hadir dalam kehidupan nyata.
Sebab kesalehan tidak berhenti di tempat ibadah. Ia ikut berjalan bersama kita ke tempat kerja. Ia ikut hadir dalam transaksi. Ia ikut menentukan cara kita memperlakukan bawahan, rekan kerja, pelanggan, dan siapa saja yang berinteraksi dengan kita. Al-Qur’an menjadi cahaya ketika nilai-nilainya memandu tindakan.
Jangan Sampai Hati Kehilangan Rasa
Ada satu hal yang perlu kita renungkan dengan jujur. Yang perlu kita khawatirkan bukan hanya ketika kita jarang membaca Al-Qur’an. Tetapi ketika kita sudah tidak merasa kehilangan saat jauh darinya. Mushaf berada di dekat kita, tetapi tidak dibuka. Aplikasi Al-Qur’an ada di telepon, tetapi kita lebih sering membuka hal lain.
Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbagai konten, tetapi beberapa menit membaca Al-Qur’an terasa berat. Jika itu terjadi, jangan buru-buru menyalahkan diri. Berhentilah lalu renungkanlah. Mungkin hati sedang membutuhkan perhatian. Mungkin hubungan kita dengan Al-Qur’an perlu diperbaiki.
Dan jalan untuk memperbaikinya sederhana. Kembali kepada Al-Qur’an. Tidak perlu menunggu momentum. Tidak perlu menunggu Ramadhan. Tidak perlu menunggu hati menjadi sempurna. Buka kembali mushaf. Baca kembali ayat-ayat Allah. Mulai dari sedikit. Kemudian lanjutkan.
Cahaya yang Menjadi Akhlak
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Hadis ini mengajarkan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an memiliki dua sisi.
Kita belajar, kemudian kita berbagi. Kita memperbaiki diri, kemudian kita berusaha memberikan manfaat. Kita menerima cahaya, kemudian kita membantu orang lain menemukan jalan. Namun, berbagi Al-Qur’an tidak selalu harus melalui ceramah. Kadang cukup dengan menjadi orang yang jujur.
Menjadi orang yang amanah, orang tua yang sabar, anak yang berbakti, teman yang tidak mengkhianati, pemimpin yang adil, pekerja yang bertanggung jawab, dan manusia yang ketika hadir membuat orang lain merasa aman. Itulah ketika cahaya Al-Qur’an terlihat melalui akhlak.
Cahaya di Atas Cahaya
Kita mungkin tidak dapat mengendalikan semua yang terjadi dalam hidup. Kita tidak dapat menentukan semua keadaan. Tidak semua rencana akan berjalan sesuai keinginan. Tidak semua orang akan memahami kita. Tidak semua usaha langsung menghasilkan. Tidak semua doa mendapatkan jawaban dalam bentuk yang kita harapkan.
Namun kita dapat memilih bagaimana menjalani semuanya. Dan Al-Qur’an membantu kita memilih dengan lebih baik. Ia mengajarkan sabar ketika keadaan sulit. Syukur ketika keadaan lapang. Tawakal ketika hasil berada di luar kendali.
Istighfar ketika melakukan kesalahan. Taubat ketika tersesat. Dan berharap kepada Allah Subhanahu wata’ala ketika semua pintu terasa sempit. Inilah cahaya. Bukan cahaya yang membuat hidup tanpa ujian. Tetapi cahaya yang membuat kita tidak kehilangan arah ketika ujian datang.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Ma’idah: 15). Maka, jangan hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang kita baca. Jadikan ia sesuatu yang kita bawa. Bawa ke dalam keluarga, ke tempat kerja, ke dalam persahabatan, ke dalam keputusan.
Bawa ke dalam cara kita menggunakan teknologi. Bawa ke dalam cara kita berbicara. Bawa ke dalam cara kita memandang keberhasilan dan kegagalan. Karena hidup akan terus bergerak. Zaman akan terus berubah. Generasi akan terus berganti. Tetapi manusia akan selalu membutuhkan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala.
Kembali kepada Cahaya
Mungkin saat ini kita sedang berada dalam fase kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang sedang memulai. Ada yang sedang berjuang. Ada yang sedang membangun keluarga. Ada yang sedang mengejar pendidikan. Ada yang sedang menata karier. Ada yang sedang menghadapi kehilangan.
Ada yang sedang mencari jawaban.
Ada pula yang merasa hidupnya baik-baik saja, tetapi ingin menjadi lebih dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala. Apa pun keadaan kita, Al-Qur’an tetap relevan. Ia tidak hanya berbicara kepada orang yang sedang mengalami masalah. Ia juga berbicara kepada orang yang sedang mendapatkan nikmat.
Ia mengajarkan bagaimana menghadapi kesulitan. Ia juga mengajarkan bagaimana menggunakan keberhasilan. Ia mengingatkan ketika kita salah. Ia juga mengarahkan ketika kita memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Karena itu, jangan menunggu hati gelap untuk mencari cahaya.
Rawatlah cahaya itu sejak sekarang.
Bacalah Al-Qur’an. Pahami maknanya. Renungkan pesannya. Amalkan ajarannya. Ajarkan kepada keluarga. Dan biarkan ia membentuk diri kita sedikit demi sedikit. Tidak perlu langsung sempurna. Mulailah dari satu ayat. Satu halaman. Beberapa menit. Tetapi lakukan dengan kesungguhan.
Mungkin bagi kita itu hanya beberapa menit. Namun di sisi Allah Subhanahu wata’ala, kita tidak pernah tahu kebaikan apa yang sedang dimulai. Mungkin satu ayat membuat kita mengurungkan niat untuk berbuat salah. Mungkin satu ayat membuat kita kembali bersyukur.
Mungkin satu ayat membuat kita memaafkan. Mungkin satu ayat membuat kita kembali salat dengan lebih khusyuk. Mungkin satu ayat membuat kita melihat masalah dengan cara yang berbeda. Dan mungkin satu ayat menjadi awal dari perjalanan panjang menuju Allah Subhanahu wata’ala.
Ketika Cahaya Itu Tinggal di Hati
Pada akhirnya, “cahaya di atas cahaya” bukan sekadar ungkapan indah yang kita baca dalam QS. An-Nur ayat 35. Ia adalah ajakan untuk melihat kehidupan dengan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala. Kita hidup di tengah banyak cahaya.
Cahaya layar. Cahaya kota. Cahaya informasi. Cahaya popularitas. Cahaya keberhasilan. Namun, semua itu tidak cukup jika hati kehilangan arah. Kita membutuhkan cahaya yang menuntun. Cahaya yang mengingatkan. Cahaya yang membimbing. Cahaya yang membawa hati kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Dan Al-Qur’an adalah petunjuk yang Allah turunkan untuk manusia. Maka jangan sampai kita memiliki banyak waktu untuk dunia, tetapi tidak memiliki waktu untuk Al-Qur’an. Jangan sampai kita begitu cepat mengetahui apa yang sedang terjadi di seluruh dunia, tetapi lupa mengetahui apa yang Allah kehendaki dari diri kita.
Jangan sampai kita begitu sibuk membangun kehidupan di luar, tetapi lupa membangun kehidupan di dalam hati. Karena suatu hari, semua yang kita kejar akan kita tinggalkan. Jabatan akan berganti. Harta akan berpindah. Popularitas akan berlalu. Usia akan bertambah.
Tetapi hubungan kita dengan Allah Subhanahu wata’ala akan menjadi bagian dari perjalanan yang paling menentukan. Maka selama masih diberi kesempatan, dekatlah dengan Al-Qur’an. Bukan hanya ketika sedih. Bukan hanya ketika membutuhkan jawaban.
Bukan hanya ketika Ramadhan. Tetapi setiap hari. Jadikan ia teman perjalanan. Jadikan ia sumber nilai. Jadikan ia pedoman. Jadikan ia cahaya. Dan ketika dunia terasa terlalu ramai, pulanglah kepada ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala.
Ketika hati terasa terlalu berat, dekatlah kepada-Nya. Ketika jalan terasa membingungkan, carilah petunjuk-Nya. Sebab mungkin selama ini kita bukan kekurangan cahaya. Kita hanya terlalu sibuk melihat cahaya dunia hingga lupa menengok kepada cahaya petunjuk Allah Subhanahu wata’ala.
Al-Qur’an adalah cahaya bagi perjalanan.
Bacalah dengan lisan. Pahami dengan akal. Renungkan dengan hati. Hidupkan dengan amal. Dan biarkan cahayanya membentuk diri kita. Karena cahaya yang paling indah bukan sekadar cahaya yang terlihat. Tetapi cahaya yang membuat seseorang tahu ke mana harus berjalan.
Cahaya di atas cahaya. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan Al-Qur’an cahaya di dalam hati kita, petunjuk dalam langkah kita, ketenangan dalam kehidupan kita, dan bekal terbaik ketika kita kembali menghadap-Nya. Aamiin. Wallahu a’lam bishawab.