TAWAZUN: Menjaga Keseimbangan Jasad, Akal, dan Ruh
@ Cecep Y Pramana
Ada orang yang sangat memperhatikan kesehatan tubuhnya. Ia mengatur makanan, menjaga waktu tidur, berolahraga, dan berusaha menjalani hidup dengan lebih sehat. Ada pula yang begitu serius mengembangkan pikirannya. Membaca buku, mengikuti pelatihan, belajar hal-hal baru, berdiskusi, dan terus memperbarui pengetahuan.
Namun, di tengah kesibukan merawat tubuh dan mengasah pikiran, terkadang ada satu bagian diri yang justru terlupakan, yaitu ruh. Padahal manusia bukan hanya jasad. Manusia juga memiliki akal dan ruh. Ketiganya membutuhkan perhatian.
Ketiganya membutuhkan makanan. Dan ketiganya perlu dipelihara dengan keseimbangan. Inilah yang dalam Islam dikenal dengan tawazun, yaitu keseimbangan dan keadilan dalam menempatkan sesuatu sesuai dengan kebutuhannya.
Alam Semesta yang Diciptakan dengan Keseimbangan
Jika kita memperhatikan alam, hampir semuanya berjalan dalam keteraturan. Matahari terbit dan tenggelam pada waktunya. Malam datang setelah siang. Air mengalir dari tempat tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Pepohonan tumbuh, berbunga, lalu menghasilkan buah. Kehidupan berjalan dalam sebuah sistem yang saling berkaitan.
Allah Subhanahu wata’ala menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya dengan ukuran, ketetapan, dan keseimbangan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan.” (QS. Ar-Rahman: 7). Keseimbangan adalah bagian dari sunnatullah.
Ketika keseimbangan terganggu, kehidupan pun ikut terganggu. Begitu juga dengan manusia. Kita bisa memiliki banyak harta, tetapi belum tentu memiliki ketenangan. Kita bisa memiliki ilmu yang tinggi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan.
Kita bisa memiliki tubuh yang kuat, tetapi belum tentu memiliki hati yang lembut. Karena itu, tawazun bukan sekadar bagaimana membagi waktu. Lebih dalam dari itu, tawazun adalah bagaimana kita memberikan hak kepada setiap bagian dari diri kita.
Fitrah yang Perlu Dijaga
Allah Subhanahu wata’ala menciptakan manusia dengan membawa fitrah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30).
Fitrah membuat manusia memiliki kecenderungan kepada kebenaran dan kebaikan. Ada suara hati yang mengingatkan ketika kita berbuat salah. Ada rasa tidak nyaman ketika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang benar. Namun fitrah tidak selalu otomatis terjaga.
Lingkungan, kebiasaan, pergaulan, informasi, kepentingan dunia, dan berbagai godaan dapat memengaruhi manusia. Karena itu, kecenderungan baik yang bersifat hanif (lurus) perlu dipelihara. Salah satu caranya adalah dengan menjaga keseimbangan tiga potensi utama manusia: jasad, akal, dan ruh.
Ketiganya seperti tiga bagian yang saling melengkapi. Jasad membutuhkan makanan. Akal membutuhkan ilmu. Ruh membutuhkan dzikrullah. Jika salah satunya diabaikan, maka kehidupan manusia perlahan kehilangan keseimbangannya.
Memberi Makan Secara Adil
Seimbang tidak selalu berarti sama. Seorang bayi tidak membutuhkan makanan sebanyak orang dewasa. Seorang yang sedang sakit membutuhkan perhatian yang berbeda dengan orang yang sehat. Begitu pula jasad, akal, dan ruh.
Masing-masing harus diberi sesuai kebutuhannya. Inilah makna keadilan dalam tawazun. Bukan membagi semuanya secara rata, tetapi memberikan sesuatu secara tepat sesuai kebutuhan. Keadilan juga bukan berarti harus sama rata dalam membagi sesuatu, akan tetapi adil adalah meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya.
Keadilan dalam konsep tawazun (keseimbangan) berarti menempatkan sesuatu secara proporsional dan memberikan hak atau porsi sesuai dengan kebutuhan serta porsi masing-masing, bukan menyamaratakan segala sesuatu secara mutlak
Makanan Jasad
Kita memahami bahwa tubuh membutuhkan makanan. Nasi, tahu, tempe, daging, ikan, sayuran, buah, dan berbagai makanan lainnya menjadi bagian dari kebutuhan jasad. Jika tubuh kekurangan makanan, ia menjadi lemah. Jika berlangsung lama, kesehatan terganggu. Bahkan kehidupan dapat terancam.
Karena itu Islam mengajarkan manusia untuk memperhatikan kebutuhan jasad. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Ada dua prinsip penting dalam memenuhi kebutuhan jasad: halal dan baik, serta tidak berlebihan.
Makanan yang kita konsumsi bukan sekadar persoalan kenyang. Ia juga berkaitan dengan keberkahan hidup. Karena itu, bekerja mencari rezeki yang halal menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Kita bekerja, berusaha, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi tetap berada dalam batas yang Allah Subhanahu wata’ala ridhai.
Tubuh perlu dirawat karena ia adalah amanah. Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan. Tubuh yang kenyang belum tentu membuat jiwa kenyang. Tubuh yang kenyang belum tentu membuat jiwa kenyang, karena jiwa memiliki kebutuhan nutrisinya sendiri yang bersifat spiritual dan emosional.
Makanan Akal adalah Ilmu
Jika jasad membutuhkan makanan, maka akal membutuhkan ilmu. Akal yang tidak diberi ilmu akan menjadi lemah. Ia mudah dipengaruhi, mudah menerima informasi tanpa tabayyun, dan mudah mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang. Karena itu, Islam menempatkan ilmu pada kedudukan yang sangat penting.
Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dimulai dengan perintah membaca: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1). Al-Qur’an juga menyebut pena sebagai sesuatu yang penting: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam: 1).
Sejarah umat Islam pun menunjukkan bagaimana ilmu berkembang dan menjadi bagian penting dalam peradaban. Namun, sebagaimana makanan jasad, tidak semua “makanan akal” baik bagi manusia. Ilmu yang membawa manfaat akan melahirkan pemahaman, kebijaksanaan, dan kemaslahatan.
Sebaliknya, pengetahuan yang digunakan untuk kejahatan dapat menjadi alat kerusakan. Karena itu, kita tidak cukup hanya bertanya, “Berapa banyak yang saya tahu?” Kita juga perlu bertanya: “Untuk apa ilmu ini saya gunakan?”
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269).
Ilmu yang baik semestinya membawa manusia semakin dekat kepada kebaikan. Ilmu seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Semakin bijaksana, bukan semakin merasa paling benar. Semakin bermanfaat, bukan semakin sibuk membuktikan diri.
Makanan Ruh adalah Dzikrullah
Ada satu kebutuhan manusia yang sering kali paling sedikit diperhatikan. Itulah ruh. Ruh membutuhkan hubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala. Makanannya adalah dzikrullah, mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan ingatan yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).
Mengapa ruh membutuhkan dzikrullah? Karena ruh adalah bagian penting yang mengendalikan arah kehidupan manusia. Ketika ruh kuat, seseorang lebih mampu mengendalikan dirinya. Ia memiliki kesadaran bahwa hidup ini berada dalam pengawasan Allah Subhanahu wata’ala.
Ia tidak hanya bertanya, “Apakah saya bisa?” Tetapi juga bertanya, “Apakah Allah ridha?” Ia tidak hanya memikirkan, “Apa yang menguntungkan saya?” Tetapi juga mempertimbangkan, “Apakah ini merugikan orang lain?” Sebaliknya, ketika ruh melemah, kehidupan dapat kehilangan kendali.
Halal dan haram semakin tidak dipedulikan. Kesulitan orang lain tidak lagi menyentuh hati. Kepentingan diri menjadi ukuran utama. Karena itu, manusia membutuhkan hubungan yang terus-menerus dengan Allah Subhanahu wata’ala.
Dzikrullah bukan hanya ucapan lisan. Taubat adalah dzikir. Tafakkur adalah dzikir. Menuntut ilmu yang bermanfaat adalah bagian dari perjalanan mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Mencari rezeki yang halal juga dapat menjadi ibadah. Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah dzikir.
Menjaga diri agar tidak terjatuh dalam kemaksiatan juga merupakan bentuk kesadaran kepada-Nya. Yang terpenting adalah hati tetap terhubung kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam berbagai keadaan. Ada dzikir yang dibaca secara rutin.
Ada wirid Al-Qur’an. Ada doa pagi dan petang. Ada doa-doa ma’tsur. Ada berbagai amalan yang membantu seorang Muslim menjaga hubungan dengan Rabb-nya. Semua itu bukan sekadar rutinitas. Ia adalah cara untuk menjaga ruh tetap hidup.
Ketika Salah Satu Diabaikan
Coba bayangkan sebuah kehidupan yang hanya memperhatikan jasad. Tubuh sehat, tetapi hati kosong. Atau kehidupan yang hanya mengembangkan akal. Ilmu tinggi, tetapi tidak memiliki arah moral. Atau kehidupan yang berbicara tentang spiritualitas, tetapi mengabaikan kesehatan tubuh dan tanggung jawab kehidupan.
Ketiganya belum menunjukkan keseimbangan. Kekurangan makanan jasad membuat tubuh lemah. Kekurangan ilmu membuat akal tertinggal dan mudah terjebak dalam kebodohan. Dampaknya bukan hanya kepada individu, tetapi dapat meluas kepada keluarga dan masyarakat. Sementara kekurangan makanan ruh dapat membuat hati mati.
Ketika banyak hati kehilangan rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, kehilangan empati, dan kehilangan kepedulian, dampaknya pun dapat dirasakan secara bersama. Karena itu, membangun manusia tidak cukup hanya dengan membangun fisiknya.Tidak cukup pula hanya dengan mencerdaskan pikirannya. Manusia juga harus dibangun ruhnya.
Tawazun dalam Kehidupan Sehari-hari
Tawazun sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan jasad, tetapi tidak melupakan ibadah. Kita belajar dan membaca untuk menguatkan akal, tetapi ilmu itu digunakan untuk kebaikan. Kita mencari rezeki, tetapi tetap menjaga kehalalannya.
Kita menggunakan teknologi, tetapi tidak membiarkan teknologi menguasai seluruh perhatian. Kita aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi tetap menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an, berdoa, bermuhasabah, dan mengingat Allah Subhanahu wata’ala.
Kita membangun masa depan, tetapi tidak lupa bahwa kehidupan dunia bukan tujuan akhir. Inilah keseimbangan. Bukan hidup tanpa kesibukan. Bukan pula hidup tanpa ambisi. Tetapi hidup dengan arah. Ada waktu untuk bekerja.
Ada waktu untuk belajar. Ada waktu untuk keluarga. Ada waktu untuk masyarakat. Ada waktu untuk beristirahat. Dan ada waktu untuk kembali menundukkan hati di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Ini adalah sebuah pengingat yang sangat indah dan penuh hikmah tentang pentingnya keseimbangan hidup (tawazun).
Nikmat yang Utuh, Lahir dan Batin
Pada akhirnya, tawazun mengajarkan kita bahwa nikmat bukan hanya tentang apa yang terlihat. Tubuh yang sehat adalah nikmat. Akal yang berilmu adalah nikmat. Namun hati yang tenang karena dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala adalah nikmat yang jauh lebih dalam.
Ketika jasad mendapatkan haknya, akal mendapatkan ilmunya, dan ruh mendapatkan makanannya, maka kehidupan akan menjadi lebih stabil. Bukan berarti hidup akan terbebas dari masalah. Bukan berarti tidak ada kesedihan, kehilangan, kegagalan, atau ujian.
Tetapi seseorang memiliki fondasi untuk menghadapinya. Ia tidak mudah terguncang oleh pujian. Tidak mudah hancur oleh celaan. Tidak mudah lupa diri ketika berhasil. Tidak mudah kehilangan harapan ketika gagal. Sebab di dalam dirinya ada keseimbangan.
Jasadnya bekerja. Akalnya berpikir. Ruhnya selalu bersandar kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki apa yang terlihat. Kita memperbaiki rumah, pekerjaan, pendidikan, penampilan, dan masa depan. Semua itu penting.
Tetapi sesekali, mari berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana keadaan jasadku? Bagaimana keadaan akalku? Dan yang paling dalam, bagaimana keadaan ruhku? Jangan sampai tubuh kita kenyang, tetapi ruh kita lapar. Jangan sampai akal kita penuh informasi, tetapi hati kita miskin hikmah.
Jangan sampai kehidupan kita tampak baik dari luar, tetapi di dalam diri ada kekosongan yang tidak mampu diisi oleh dunia. Tawazun mengajarkan kita untuk kembali kepada keseimbangan. Merawat tubuh sebagai amanah. Mengembangkan akal dengan ilmu yang bermanfaat.
Menghidupkan ruh dengan dzikrullah.
Sebab manusia yang utuh bukanlah manusia yang hanya kuat jasadnya, bukan pula yang hanya tinggi ilmunya. Manusia yang utuh adalah manusia yang mampu menjaga ketiganya dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di sanalah keseimbangan menemukan maknanya. Di sanalah nikmat terasa lebih utuh, lahir dan batin.
Dan di sanalah kita belajar bahwa hidup bukan sekadar tentang menjadi lebih kuat, lebih pintar, atau lebih berhasil. Hidup adalah tentang menjadi manusia yang semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, semakin bermanfaat bagi sesama, dan semakin mampu menjalankan amanah kehidupan dengan seimbang. Wallahu a’lam bishawab.