Ketika Semua Tak Lagi dalam Kendali

@ Cecep Y Pramana

Ada saatnya dalam hidup ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi keadaan belum juga berubah. Kita sudah mencoba memperbaiki, tetapi tidak semua dapat diperbaiki. Kita sudah berusaha menyembuhkan, tetapi ada luka yang membutuhkan waktu. Kita sudah berhati-hati, tetapi tetap ada hal-hal yang tidak mampu kita lihat dan tidak pernah kita duga sebelumnya.

Pada saat seperti itu, hati sering kali merasa lelah. Bukan karena kita tidak kuat. Bukan pula karena kita tidak memiliki harapan. Hanya saja, kita sedang belajar menerima satu kenyataan sederhana bahwa manusia memiliki batas. Ada hal yang bisa kita usahakan. Ada hal yang bisa kita ubah.

Namun ada pula hal-hal yang memang harus kita serahkan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di sanalah doa menjadi tempat kita pulang. “Ya Allah, perbaikilah apa yang tidak dapat kuperbaiki, sembuhkanlah apa yang tidak dapat kusembuhkan, dan lindungilah aku dari apa yang tidak dapat kulihat.”

Doa ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah pengakuan seorang hamba bahwa di balik segala ikhtiar, ada kuasa Allah Subhanahu wata’ala yang jauh lebih luas daripada kemampuan manusia. Kita sering merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri. Kita ingin memastikan orang-orang yang kita sayangi baik-baik saja.

Kita ingin masa depan berjalan sesuai rencana. Kita ingin semua keputusan menghasilkan sesuatu yang baik. Kita ingin setiap masalah segera memiliki jalan keluar. Namun, hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Ada rencana yang tertunda. Ada harapan yang belum terwujud.

Ada hubungan yang berubah. Ada pekerjaan yang belum menemukan hasil. Ada doa yang masih menunggu waktu terbaik untuk dijawab. Pada titik itu, kita perlu belajar membedakan antara berusaha dan mengendalikan. Kita diperintahkan untuk berikhtiar, tetapi kita tidak diberi kuasa untuk mengendalikan seluruh hasil.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Talaq ayat 3, “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”. Tawakal bukan alasan untuk berhenti bergerak. Tawakal justru membuat kita mampu bergerak tanpa kehilangan ketenangan.

Kita melakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Setelah itu, kita menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebab ada banyak hal yang baru terlihat maknanya setelah waktu berlalu. Sesuatu yang dahulu kita anggap kehilangan, mungkin ternyata sebuah perlindungan.

Sesuatu yang dahulu membuat kita kecewa, mungkin ternyata sedang mengarahkan kita kepada jalan yang lebih baik. Sesuatu yang belum diberikan Allah Subhanahu wata’ala, mungkin memang belum menjadi bagian yang tepat bagi perjalanan kita. Kita hanya melihat sebagian kecil dari cerita hidup kita.

Allah Subhanahu wata’ala mengetahui keseluruhannya. Karena itu, ada saatnya kita berkata dalam doa: “Ya Allah, jagalah hal-hal di luar kendaliku”.Jagalah apa yang tidak mampu aku jaga. Jagalah orang-orang yang kucintai ketika aku tidak berada di dekat mereka. Jagalah langkahku ketika aku tidak mengetahui apa yang ada di depan.

Jagalah hatiku dari keputusan yang keliru. Jagalah aku dari sesuatu yang tampak baik di mataku tetapi ternyata tidak baik bagi kehidupanku. Dan lindungilah aku dari sesuatu yang bahkan belum mampu kulihat. Betapa banyak hal yang tidak kita ketahui dalam perjalanan hidup.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa menit lagi. Kita tidak tahu siapa yang akan datang membawa kebaikan. Kita tidak tahu ujian apa yang mungkin hadir. Kita juga tidak tahu dari arah mana pertolongan Allah Subhanahu wata’ala akan datang. Maka tidak mengapa jika hari ini kita belum memiliki semua jawaban.

Tidak mengapa jika ada bagian hidup yang masih belum kita pahami. Yang penting, jangan sampai ketidakpastian membuat kita kehilangan kepercayaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki. Tidak semua yang kita kehilangan berarti kita sedang dijauhkan dari kebaikan.

Ada kalanya Allah Subhanahu wata’ala mengatur hidup kita melalui sesuatu yang belum mampu kita pahami. Maka ketika hati terasa berat, kita tidak harus memaksa diri untuk memahami semuanya sekaligus. Cukup berdoa: “Ya Allah, ringankanlah beban di hatiku”.Ringankan kecemasan yang terlalu lama kupendam.

Ringankan pikiran yang terus berputar memikirkan masa depan. Ringankan penyesalan atas masa lalu. Ringankan rasa takut terhadap sesuatu yang belum terjadi. Dan ajarkan aku untuk menjalani hari ini dengan hati yang lebih tenang. Sebab ketenangan tidak selalu datang ketika masalah selesai.

Terkadang ketenangan datang ketika hati mulai percaya bahwa apa pun yang terjadi, Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Kemudian kita memohon: “Bimbinglah aku menuju yang terbaik untukku”.Ini adalah doa tentang kerendahan hati.

Kita mengakui bahwa apa yang menurut kita terbaik belum tentu benar-benar terbaik. Kita meminta bukan hanya agar Allah Subhanahu wata’ala memenuhi keinginan kita, tetapi agar Allah Subhanahu wata’ala mengarahkan kita kepada sesuatu yang baik menurut ilmu dan kehendak-Nya.

Mungkin jalan kita tidak selalu mudah. Mungkin ada belokan yang tidak kita rencanakan. Mungkin ada penundaan yang membuat kita bertanya-tanya. Namun selama Allah Subhanahu wata’ala membimbing langkah kita, tidak ada alasan untuk berhenti berharap.

Jalani apa yang bisa dijalani. Perbaiki apa yang bisa diperbaiki. Sembuhkan apa yang bisa disembuhkan. Jaga apa yang bisa dijaga. Dan untuk semua yang berada di luar kemampuan kita, titipkan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebab manusia memiliki batas, tetapi kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala tidak terbatas.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak membutuhkan kehidupan yang selalu sesuai dengan keinginan. Kita membutuhkan hati yang mampu menerima ketetapan Allah Subhanahu wata’ala sambil tetap berusaha melakukan yang terbaik. Maka ketika hari terasa berat, ketika pikiran penuh dan hati tidak menemukan tempat untuk bersandar, berhentilah sejenak.

Tarik napas, tundukkan hati, lalu berdoalah: “Ya Allah, perbaikilah apa yang tidak dapat kuperbaiki. Sembuhkanlah apa yang tidak dapat kusembuhkan. Lindungilah aku dari apa yang tidak dapat kulihat. Jagalah hal-hal di luar kendaliku, ringankanlah beban di hatiku, dan bimbinglah aku menuju yang terbaik untukku.”

Semoga setelah doa itu terucap, hati kita menjadi sedikit lebih ringan. Bukan karena semua persoalan telah selesai. Tetapi karena kita kembali mengingat kepada siapa kita menyerahkan semuanya. Kepada Allah Subhanahu wata’ala. Aamiin Allahumma Aamiin. Bismillah.

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *