Wanita Pengukir Sejarah: Hafshah RA, Penjaga Al-Qur’an, Perempuan Teguh dalam Ibadah (4)

@ Cecep Y Pramana

Bayangkan sebuah amanah besar berada di tangan seorang perempuan. Bukan emas, bukan harta, bukan pula jabatan yang membuat namanya dikenal banyak orang. Yang dipercayakan kepadanya adalah lembaran-lembaran ayat suci Al-Qur’an, wahyu Allah Subhanahu wata’ala yang menjadi petunjuk bagi kehidupan umat manusia.

Perempuan itu bernama Hafshah binti Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anha. Sepeninggal Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, lembaran-lembaran Al-Qur’an yang telah dihimpun pada masa pemerintahannya berada dalam penjagaan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Setelah Umar wafat, amanah tersebut kemudian berada di tangan putrinya, Hafshah radhiyallahu ‘anha.

Di balik lembaran-lembaran itu tersimpan tanggung jawab yang tidak ringan. Setiap ayat adalah bagian dari wahyu yang harus dijaga. Ketelitian, kepercayaan, dan kehati-hatian menjadi hal yang sangat penting. Pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, lembaran-lembaran tersebut menjadi rujukan penting dalam proses penyalinan mushaf Al-Qur’an.

Hafshah radhiyallahu ‘anha mungkin tidak pernah membayangkan bahwa amanah yang dijaganya akan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Islam. Namun, begitulah kehidupan orang-orang beriman. Terkadang, tugas yang tampak sunyi justru memiliki pengaruh besar bagi generasi yang hidup jauh setelahnya.

Nama Ibunda Hafshah radhiyallahu ‘anha pun tidak hanya dikenang sebagai putri Umar bin Khaththab atau salah seorang istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia juga dikenang sebagai perempuan yang memiliki keteguhan ibadah, kecintaan terhadap ilmu, dan kesanggupan menjaga kepercayaan.

Kisah hidupnya mengajak kita merenungkan satu hal penting: kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari seberapa sering namanya disebut atau seberapa besar kedudukannya di hadapan manusia. Kemuliaan juga tumbuh dari kesungguhan menjaga iman, kesetiaan menunaikan amanah, dan kesediaan melakukan kebaikan meskipun tidak selalu mendapat perhatian.

Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur keberhasilan melalui jabatan, popularitas, dan pencapaian materi, keteladanan ibunda Hafshah radhiyallahu ‘anha menghadirkan pengingat yang menenangkan. Hidup bukan sekadar tentang mendapatkan sesuatu untuk diri sendiri. Hidup juga tentang menjaga sesuatu yang berharga agar tetap utuh dan bermanfaat bagi orang lain.

Inilah kisah seorang perempuan yang menorehkan jejak sejarah melalui ibadah, ilmu, dan amanah. Seorang perempuan yang mengajarkan bahwa keteguhan hati dapat melahirkan kontribusi besar, bahkan ketika pengabdian itu berlangsung dalam kesunyian. Dialah Hafshah binti Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anha, salah seorang wanita pengukir sejarah Islam.

Perempuan yang Dekat dengan Ibadah

Ibunda Hafshah radhiyallahu ‘anha lahir di Makkah sekitar 18 tahun sebelum hijrah. Ia adalah putri Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anha, salah seorang sahabat utama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang dikenal tegas, berani, dan memiliki keteguhan dalam membela kebenaran.

Hafshah radhiyallahu ‘anhatumbuh dalam lingkungan yang membentuk keberanian dan keteguhan dirinya. Ia kemudian menikah dengan Khunais bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang turut berhijrah dan berjuang bersama kaum Muslimin. Setelah suaminya wafat, Hafshah menjalani masa yang tidak mudah sebagai seorang janda.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kemudian berupaya mencarikan pendamping bagi putrinya. Pada akhirnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menikahi Hafshah radhiyallahu ‘anha pada tahun 3 Hijriah. Sejak saat itu, Hafshah radhiyallahu ‘anhamenjadi salah seorang Ummahatul Mukminin, yakni ibu bagi orang-orang beriman.

Kedudukannya sebagai istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan sekadar kehormatan, melainkan juga tanggung jawab besar. Ia hidup dekat dengan sumber ilmu dan keteladanan Islam. Dari kehidupan rumah tangga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, ia menyaksikan bagaimana iman diwujudkan dalam ibadah, kesabaran, kelembutan, dan tanggung jawab sehari-hari.

Salah satu keistimewaan Hafshah radhiyallahu ‘anha adalah kecintaannya terhadap ibadah. Dalam riwayat yang dikenal luas, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berniat menceraikannya, Malaikat Jibril menyampaikan agar beliau tidak menceraikannya karena Hafshah radhiyallahu ‘anha adalah perempuan yang rajin berpuasa dan melaksanakan shalat malam.

Riwayat ini memperlihatkan sisi penting dari kepribadian Hafshah radhiyallahu ‘anha. Ia memiliki hubungan yang kuat dengan Allah Subhanahu wata’ala melalui ibadah yang dijaga secara konsisten. Ada pelajaran berharga dari sini. Kesalehan tidak selalu tampak dalam sorotan manusia.

Sebagian besar justru tumbuh dalam kesunyian, ketika seseorang bangun untuk beribadah, menahan diri dari keinginan yang tidak perlu, dan tetap berusaha taat meskipun tidak ada orang lain yang menyaksikan.

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kesibukan, kisah Hafshah radhiyallahu ‘anha mengingatkan kita bahwa hubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala tidak boleh menjadi bagian yang selalu dikalahkan oleh urusan dunia.  Pekerjaan, keluarga, pendidikan, dan tanggung jawab sosial memang penting. Namun, semuanya perlu ditopang oleh hati yang terhubung dengan Sang Pencipta.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, seraya mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Az-Zariyat: 15–16).

Ketakwaan bukan hanya tentang banyaknya ibadah, melainkan juga tentang bagaimana ibadah membentuk karakter, menjaga kejujuran, dan menguatkan seseorang untuk tetap berada di jalan yang benar.

Perempuan yang Cerdas dan Mencintai Ilmu

Hafshah radhiyallahu ‘anha dikenal memiliki kemampuan berbahasa yang baik, kecerdasan, dan pemahaman agama yang luas. Ia termasuk perempuan yang meriwayatkan hadis dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sejumlah riwayat darinya menjadi bagian dari khazanah hadis yang dipelajari umat Islam hingga sekarang.

Kecerdasannya juga tercermin dalam hubungannya dengan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anha. Dalam sejumlah persoalan, Umar tidak segan meminta pandangan Hafshah radhiyallahu ‘anha. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang penting dalam tradisi keilmuan Islam.

Kisah tersebut sekaligus mengingatkan kita agar tidak memandang perempuan hanya dari peran domestik atau status sosialnya. Seorang perempuan dapat menjadi pribadi yang berilmu, matang dalam berpikir, kuat dalam prinsip, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Ilmu membuat seseorang mampu melihat persoalan secara lebih jernih. Iman membimbingnya agar tidak menggunakan ilmu untuk kesombongan. Sementara akhlak menjaganya supaya pengetahuan yang dimiliki membawa manfaat bagi orang lain.

Dalam kehidupan sekarang, keteladanan Hafshah radhiyallahu ‘anha relevan bagi siapa pun yang sedang menempuh perjalanan belajar. Usia bukan penghalang untuk memperluas wawasan. Kesibukan bukan alasan untuk berhenti membaca.

Dan kedudukan bukan alasan untuk merasa tidak perlu mendengar pendapat orang lain. Pribadi yang matang adalah pribadi yang terus belajar tanpa henti, bersedia menerima nasihat, dan tidak berhenti memperbaiki diri.

Amanah Besar Menjaga Lembaran Al-Qur’an

Salah satu peran Hafshah radhiyallahu ‘anha yang paling penting dalam sejarah Islam adalah menjaga suhuf Al-Qur’an, yakni lembaran-lembaran yang memuat ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dihimpun pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Setelah banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam Perang Yamamah, muncul kebutuhan untuk menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu kumpulan tertulis. Atas usulan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menugaskan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu untuk melaksanakan penghimpunan tersebut dengan penuh kehati-hatian.

Setelah proses itu selesai, lembaran-lembaran tersebut disimpan oleh sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sepeninggalnya, amanah itu berpindah kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, kemudian kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha.

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anha, ketika dilakukan penyeragaman penyalinan mushaf untuk menjaga kesatuan bacaan umat Islam, lembaran-lembaran yang berada dalam penjagaan Hafshah radhiyallahu ‘anha menjadi rujukan penting bagi proses tersebut.

Bayangkan betapa besarnya kepercayaan yang diberikan kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha. Lembaran-lembaran itu bukan sekadar dokumen tertulis. Di dalamnya terdapat wahyu Allah Subhanahu wata’ala yang menjadi petunjuk bagi umat manusia.

Hafshah radhiyallahu ‘anhamenjaga amanah tersebut hingga diperlukan dalam proses penyalinan mushaf Al-Qur’an pada masa berikutnya. Perannya menjadi bagian penting dari sejarah pemeliharaan Al-Qur’an.

Dari sini, kita belajar bahwa amanah besar tidak selalu datang dalam bentuk jabatan yang terlihat. Terkadang, amanah hadir sebagai kepercayaan yang harus dijaga dengan ketelitian, kesabaran, dan integritas. Setiap orang memiliki amanahnya masing-masing.

Orang tua menjaga dan mendidik anak-anaknya. Guru membimbing murid dengan ilmu dan keteladanan. Pemimpin menjaga kepercayaan masyarakat. Sementara setiap Muslim bertanggung jawab menjaga hubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala, keluarga, dan sesama manusia. Amanah tidak cukup hanya diterima. Ia harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.

Menjaga Warisan, Meneruskan Keteladanan

Hafshah binti Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa seorang perempuan dapat meninggalkan pengaruh besar melalui ibadah, ilmu, dan amanah yang dijaganya. Ia tidak harus selalu berada di panggung utama untuk memberikan sumbangan penting bagi umat.

Namanya tercatat dalam sejarah bukan semata-mata karena ia putri Umar bin Khaththab atau istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia dikenang karena kualitas dirinya dan peran penting yang dijalankannya dalam kehidupan umat Islam.

Kisahnya juga mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: amanah apa yang sedang kita jaga hari ini? Apakah ilmu yang kita miliki telah dibagikan? Apakah keluarga kita telah mendapatkan perhatian yang layak? Apakah kepercayaan yang diberikan orang lain telah kita tunaikan dengan jujur?

Kita mungkin tidak memegang amanah sebesar yang pernah dijalankan Hafshah radhiyallahu ‘anha. Namun, setiap amanah memiliki nilai di hadapan Allah Subhanahu wata’ala apabila dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kehidupan adalah ruang pengabdian.

Kita semua memiliki peran, sekecil apa pun peran tersebut. Yang terpenting bukan seberapa besar amanah yang terlihat oleh manusia, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita menjaganya di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Hafshah radhiyallahu ‘anha telah menunjukkan bahwa keteguhan ibadah dapat berjalan seiring dengan kecerdasan, dan kecintaan terhadap ilmu dapat tumbuh bersama tanggung jawab yang besar. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan tidak cukup hanya dibicarakan.

Kemuliaan harus diwujudkan melalui pilihan hidup, karakter, dan kesetiaan dalam menunaikan amanah. Semoga kisah Hafshah binti Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anha menguatkan langkah kita untuk memperbaiki ibadah, memperluas ilmu, menjaga kepercayaan, dan meninggalkan kebaikan yang manfaatnya terus dirasakan oleh generasi berikutnya.

Sebab, kehidupan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang berhasil kita raih, tetapi juga tentang amanah apa yang berhasil kita jaga dan kebaikan apa yang kita wariskan. Sebuah kalimat yang sangat mendalam dan penuh makna. Sebuah fokus kehidupan dari pencapaian materi  menuju kebermaknaan hidup. Wallahu a’lam bishawab.

1Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *