Wanita Pengukir Sejarah: Ummu Salamah RA, Keteguhan Hati, Kecerdasan, dan Kebijaksanaan Seorang Perempuan (6)
@ Cecep Y Pramana
Pagi itu, perjalanan hijrah yang semestinya ditempuh bersama keluarga berubah menjadi perpisahan yang menyakitkan. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha telah bersiap meninggalkan Makkah bersama suaminya, Abu Salamah, dan putra mereka, Salamah. Mereka ingin menyelamatkan keimanan dan memulai kehidupan baru di Madinah. Namun, langkah mereka terhenti oleh penolakan keluarga.
Ketika Hijrah Memisahkan Seorang Ibu dari Keluarganya
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha harus menghadapi kenyataan pahit. Ia terpisah dari suaminya, sementara putranya juga dipisahkan darinya. Bayangkan, perasaan seorang ibu yang harus menyaksikan keluarganya tercerai-berai, padahal yang ingin mereka lakukan hanyalah mempertahankan iman dan melanjutkan perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik.
Tidak mudah membayangkan kesedihan yang memenuhi hatinya. Ada kerinduan kepada suami, kecemasan terhadap anak, dan ketidakpastian tentang kapan mereka dapat berkumpul kembali. Jalan hijrah yang semula diharapkan menjadi perjalanan bersama justru menghadirkan ujian yang begitu berat.
Namun, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tidak membiarkan kesedihan memadamkan keyakinannya. Ia tetap bertahan, melewati masa perpisahan dengan ketabahan, hingga akhirnya dapat melanjutkan hijrah ke Madinah. Perjalanan itu menjadi salah satu bagian penting dalam kisah hidupnya, sebuah pengalaman yang memperlihatkan bahwa keteguhan iman tidak selalu tumbuh dalam keadaan yang mudah.
Kisah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa sabar bukan berarti tidak terluka. Sabar adalah kemampuan menjaga keyakinan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Ada saat ketika kita tidak dapat memilih ujian yang datang, tetapi kita masih bisa berusaha memilih sikap dalam menghadapinya.
Dalam hidup, perpisahan, kehilangan, dan perubahan sering datang tanpa kita kehendaki. Rencana yang telah disusun bisa berubah, sementara jalan keluar belum terlihat. Pada saat seperti itu, kita membutuhkan hati yang bersandar kepada Allah Subhanahu wata’ala dan keberanian untuk terus melangkah, meski perlahan.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menunjukkan bahwa ujian tidak harus mengakhiri harapan. Dari perjalanan yang penuh kesulitan, ia tumbuh menjadi perempuan yang dikenal karena ketabahan, kecerdasan, dan kebijaksanaannya. Ia bukan hanya dikenang sebagai perempuan yang pernah mengalami perpisahan, tetapi juga sebagai pribadi yang mampu melewati ujian tanpa kehilangan kejernihan hati.
Inilah kisah seorang perempuan yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah hidup tanpa kesedihan, melainkan tetap menjaga iman dan harapan ketika kehidupan membawa kita melewati jalan yang tidak mudah.
Nama lengkapnya adalah Hindun binti Hudzaifah bin Mughirah Al-Qurasyiyah Al-Makhzumiyah. Ia lebih dikenal dengan nama Ummu Salamah. Lahir sekitar 28 tahun sebelum hijrah, ia termasuk golongan awal yang memeluk Islam. Bersama suaminya, Abu Salamah, ia turut berhijrah ke Habasyah untuk mempertahankan keimanan. Setelah kembali, keduanya melanjutkan perjalanan hijrah ke Madinah.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha kemudian menjadi salah seorang istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia juga dikenal sebagai perawi hadis yang meriwayatkan sekitar 378 hadis dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Para sahabat dan ulama sesudah mereka menghormati keluasan pengetahuannya.
Bahkan, Ibnu Abbas, seorang sahabat yang dikenal luas ilmunya, pernah meminta penjelasan kepadanya mengenai sejumlah persoalan agama. Namun, sebelum dikenal sebagai perempuan berilmu dan bijaksana, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha telah melewati ujian yang mengajarkan arti keteguhan hati.
Ketika Kesabaran Diuji oleh Perpisahan
Bayangkan sebuah perjalanan hijrah yang seharusnya ditempuh bersama keluarga. Ada harapan untuk meninggalkan lingkungan yang menghalangi keimanan, ada keyakinan tentang kehidupan yang lebih baik, dan ada tekad untuk tetap berjalan bersama orang-orang tercinta.
Namun, perjalanan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tidak berlangsung seperti yang diharapkan. Ketika ia, Abu Salamah, dan putra mereka, Salamah, hendak berhijrah, keluarga dari pihak Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menghalangi keberangkatannya.
Sementara itu, keluarga Abu Salamah memisahkan sang anak dari ibunya. Akibatnya, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha terpisah dari suami dan anaknya. Perpisahan itu bukan persoalan kecil. Ia harus menghadapi kesedihan sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu.
Orang-orang yang menjadi tempatnya berbagi kehidupan justru berada jauh darinya. Akan tetapi, dalam kisah yang diwariskan tentang dirinya, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tetap menunjukkan ketabahan hingga akhirnya dapat menyusul ke Madinah.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa kesabaran bukan berarti tidak merasakan kesedihan. Orang yang sabar tetap bisa menangis, merasa kehilangan, dan merindukan orang yang dicintainya. Bedanya, ia tidak membiarkan kesedihan memutus hubungannya dengan Allah Subhanahu wata’ala atau merampas seluruh harapan dari hatinya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini bukan janji bahwa setiap kesulitan akan segera berakhir sesuai keinginan kita. Ia adalah pengingat bahwa dalam menghadapi ujian, seorang mukmin tidak berjalan sendirian.
Ada pertolongan Allah Subhanahu wata’ala yang diharapkan, ada doa yang dipanjatkan, dan ada kekuatan yang terus diupayakan melalui keimanan. Kita pun memiliki bentuk ujian masing-masing. Ada yang harus berjuang menghadapi persoalan keluarga, kehilangan pekerjaan, menjaga amanah di tengah tekanan, atau menerima kenyataan yang berbeda dari rencana.
Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan cepat. Namun, selama masih ada ruang untuk berdoa, berikhtiar, dan mengambil langkah yang benar, harapan tidak perlu dipadamkan. Ummu Salamah mengingatkan kita bahwa keteguhan bukanlah kemampuan untuk menghindari luka, melainkan kesanggupan untuk tetap menjaga iman dan menjalani tanggung jawab di tengah luka itu.
Kecerdasan yang Menemukan Jalan Keluar
Salah satu peristiwa yang paling dikenal dari kehidupan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyepakati perjanjian dengan kaum Quraisy. Perjanjian tersebut membawa konsekuensi yang berat bagi sebagian sahabat, sehingga suasana ketika itu dipenuhi kekecewaan dan kesedihan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut sebagai tanda selesainya rangkaian umrah yang belum dapat mereka tunaikan sebagaimana direncanakan. Namun, dalam suasana yang berat, para sahabat belum segera melaksanakan perintah tersebut.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian menemui Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan menceritakan keadaan yang terjadi. Dengan tenang, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha memberikan saran yang bijaksana. Ia menyarankan agar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar, menyembelih hewan kurban, dan mencukur rambut tanpa terlebih dahulu meminta para sahabat berbicara atau bertindak.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menerima saran tersebut dan melaksanakannya. Ketika para sahabat melihat beliau melakukan tindakan itu, mereka pun bangkit dan mengikuti langkah beliau. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kecerdasan tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata yang panjang atau argumentasi yang rumit.
Terkadang, kebijaksanaan justru terlihat dari kemampuan memahami keadaan, membaca emosi orang lain, dan menemukan tindakan sederhana yang tepat pada waktunya. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tidak memperkeruh suasana dengan menyalahkan para sahabat. Ia memahami bahwa mereka sedang menghadapi beban perasaan yang besar.
Ia pun tidak berhenti pada pengenalan masalah, tetapi menawarkan jalan keluar yang dapat dilaksanakan. Dalam kehidupan sehari-hari, pelajaran ini sangat berharga. Ketika keluarga sedang menghadapi konflik, ketika tim kehilangan semangat, atau ketika sebuah keputusan sulit menimbulkan kekecewaan, kita membutuhkan lebih dari sekadar orang yang pandai berbicara.
Kita membutuhkan pribadi yang mampu mendengarkan, memahami akar persoalan, dan membantu menemukan jalan keluar. Kebijaksanaan bukan berarti selalu memenangkan pendapat sendiri. Kebijaksanaan adalah kemampuan memilih sikap yang paling tepat untuk membawa keadaan menuju kebaikan.
Ilmu yang Beriringan dengan Kasih Sayang
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha juga dikenal sebagai perempuan yang penyayang. Ia pernah menyampaikan kabar diterimanya tobat Abu Lubabah setelah ia memperoleh pengetahuan tentang hal tersebut. Dalam berbagai peristiwa, ia memperlihatkan kepedulian kepada orang lain, bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui tindakan yang membantu mereka menemukan kembali ketenangan.
Kelembutan hatinya berjalan seiring dengan keluasan ilmunya. Ia bukan sekadar saksi dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, melainkan juga sumber pengetahuan bagi generasi setelahnya. Riwayat hadis yang disampaikannya menjadi bagian dari warisan keilmuan Islam.
Di sini kita menemukan teladan yang utuh. Ilmu yang baik semestinya membuat seseorang semakin rendah hati, semakin jernih dalam menilai persoalan, dan semakin bijaksana ketika berhadapan dengan orang lain. Sementara itu, kasih sayang yang disertai ilmu akan membantu seseorang menolong tanpa gegabah dan menasihati tanpa merendahkan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Mencari ilmu bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk cara berpikir dan memperbaiki akhlak.
Di tengah derasnya informasi pada zaman sekarang, kita perlu belajar untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan, tidak mudah menyebarkan kabar yang belum jelas, dan tidak merasa paling benar hanya karena memiliki banyak informasi.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha memberi contoh bahwa perempuan dapat mengambil peran penting dalam menjaga pengetahuan, memberikan pertimbangan, dan membangun kehidupan masyarakat. Kematangan berpikir tidak ditentukan oleh seberapa keras seseorang berbicara, melainkan oleh kejernihan pemahaman dan ketepatan sikapnya.
Menjadi Pribadi yang Teguh dan Menenangkan
Kisah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengajak kita melihat kembali arti kekuatan. Kekuatan bukan hanya keberanian menghadapi tantangan, tetapi juga kemampuan menjaga hati agar tidak dikuasai keputusasaan. Kecerdasan bukan sekadar kemampuan memahami masalah, tetapi juga kesanggupan menemukan jalan keluar tanpa memperbesar luka.
Dan kasih sayang bukan hanya perasaan, melainkan kesediaan melakukan sesuatu yang membawa kebaikan bagi orang lain. Kita mungkin tidak menghadapi perjalanan hijrah seperti Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Namun, kita semua memiliki perjalanan hidup yang menuntut ketabahan, keputusan yang membutuhkan kebijaksanaan, dan hubungan yang memerlukan kelembutan.
Dalam keluarga, jadilah pribadi yang mampu mendengarkan sebelum menghakimi. Dalam pekerjaan dan organisasi, belajarlah memahami keadaan sebelum mengambil keputusan. Dalam kehidupan bermasyarakat, gunakan ilmu untuk menebarkan manfaat, bukan untuk merendahkan orang lain.
Tidak semua masalah dapat kita selesaikan, dan tidak setiap nasihat akan langsung diterima. Namun, kita selalu dapat berusaha menjaga niat, memperbaiki cara, dan memilih tindakan yang lebih bijaksana. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha telah memperlihatkan bahwa perjalanan hidup yang penuh ujian tetap dapat melahirkan keteguhan, ilmu, dan kasih sayang.
Ia membuktikan bahwa pengalaman pahit tidak harus membuat hati menjadi keras. Sebaliknya, pengalaman dapat mendewasakan seseorang, memperluas pemahamannya, dan membuatnya lebih peka terhadap keadaan orang lain.
Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang seberapa banyak ujian yang berhasil kita lewati, tetapi juga tentang pribadi seperti apa kita setelah melewatinya. Semoga kita belajar dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha: memiliki hati yang sabar ketika diuji, pikiran yang jernih ketika menghadapi persoalan, serta kasih sayang yang tetap tumbuh di tengah kerasnya kehidupan.
Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang kuat menghadapi masalah, tetapi juga pribadi yang mampu menghadirkan ketenangan dan menunjukkan jalan menuju kebaikan. Hal tersebut tersebut menekankan bahwa ketahanan diri barulah langkah awal, namun dampak sejati manusia terjadi ketika ia bisa menjadi sumber kedamaian dan penunjuk arah bagi orang lain. Wallahu a’lam bishawab.