Wanita Pengukir Sejarah: Juwairiyah binti Harits, Kehadirannya Menjadi Jalan Keberkahan bagi Kaumnya (8)
@ Cecep Y Pramana
Pagi itu, Juwairiyah yang memiliki nama asli Barrah, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengganti namanya menjadi Juwairiyah. Ia adalah putri Al-Harits bin Abi Dhirar al-Mushthaliqiyyah al-Khuza’iyyah, pemimpin Bani Musthaliq, salah satu kabilah Arab pada masa itu. Ia tumbuh di lingkungan keluarga terpandang, dengan kedudukan sosial yang membuatnya dikenal di tengah kaum.
Juwairiyah binti Harits radhiyallahu ‘anha berada dalam keadaan yang jauh berbeda dari kehidupan yang pernah dikenalnya. Putri pemimpin Bani Musthaliq itu, yang sebelumnya hidup dengan kehormatan keluarganya, kini menghadapi kenyataan sebagai tawanan perang. Masa depannya terasa tidak pasti. Jalan untuk kembali kepada kehidupan semula pun tidak mudah.
Namun, Juwairiyah tidak ingin menyerah pada keadaan. Ia berusaha mencari jalan keluar. Dengan harapan memperoleh kemerdekaan, ia datang menghadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk mengajukan mukatabah, sebuah perjanjian pembebasan diri.
Di hadapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, terbentang sebuah persimpangan kehidupan. Juwairiyah radhiyallahu ‘anha sedang mencari kemerdekaan bagi dirinya sendiri. Ia mungkin belum membayangkan bahwa pertemuan itu kelak akan membawa perubahan yang jauh lebih luas, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi banyak orang dari kaumnya.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian menawarkan kepadanya pernikahan. Juwairiyah radhiyallahu ‘anha menerima tawaran tersebut dan menjadi bagian dari keluarga Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Peristiwa itu membawa dampak besar. Para sahabat membebaskan banyak tawanan Bani Musthaliq karena hubungan kekerabatan mereka dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam riwayat sirah, disebutkan bahwa seratus keluarga memperoleh kemerdekaan melalui peristiwa tersebut. Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma pun mengenang Juwairiyah radhiyallahu ‘anha sebagai perempuan yang membawa keberkahan besar bagi kaumnya.
Sungguh, sebuah pertemuan telah mengubah arah kehidupan banyak orang. Kisah Juwairiyah radhiyallahu ‘anha mengajak kita merenungkan satu hal penting: terkadang, jalan keluar yang kita cari untuk diri sendiri justru menjadi pintu kebaikan bagi orang lain. Kita tidak selalu mengetahui bagaimana Allah Subhanahu wata’ala menata perjalanan hidup.
Ada masa ketika kesulitan terasa seperti jalan buntu, padahal dari sana terbuka kesempatan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Juwairiyah radhiyallahu ‘anha bukan hanya dikenang sebagai istri Rasulullah Shalallahu a’alaihi wasallam.
Ia juga dikenang sebagai perempuan yang melalui perjalanan hidupnya menghadirkan keberkahan, menekuni ibadah, dan turut mewariskan ilmu bagi generasi sesudahnya. Inilah kisah seorang perempuan yang mengajarkan bahwa kemuliaan tidak semata-mata ditentukan oleh kedudukan seseorang, tetapi juga oleh kebaikan yang tumbuh melalui dirinya.
Dari Kesulitan Menuju Jalan Kemuliaan
Dalam keadaan sebagai tawanan, Juwairiyah radhiyallahu ‘anha mengajukan mukatabah, yaitu perjanjian untuk memperoleh kemerdekaan dengan memenuhi syarat yang disepakati. Ia tidak sekadar menunggu nasib menentukan jalan hidupnya. Ia berusaha mencari jalan keluar dari keadaan yang sedang dihadapinya.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian menawarkan kepadanya pernikahan. Juwairiyah radhiyallahu ‘anha menerima tawaran tersebut dan menjadi salah seorang istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sejak saat itu, kehidupannya memasuki babak baru, bukan hanya sebagai bagian dari keluarga Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi juga sebagai perempuan yang memiliki pengaruh besar bagi kaumnya.
Pernikahan tersebut membawa dampak yang melampaui kehidupan pribadi. Para sahabat memandang bahwa Bani Musthaliq kini memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka pun membebaskan banyak tawanan dari kabilah tersebut.
Dalam sejumlah riwayat sirah disebutkan bahwa seratus keluarga Bani Musthaliq memperoleh kemerdekaan melalui peristiwa ini. Karena itulah, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenang Juwairiyah radhiyallahu ‘anha sebagai perempuan yang membawa keberkahan besar bagi kaumnya.
Di sinilah kita menemukan sisi istimewa dari perjalanan hidup Juwairiyah radhiyallahu ‘anha. Ia tidak hanya memperoleh perubahan dalam kehidupannya sendiri. Kehadirannya turut membuka jalan bagi pembebasan orang lain. Sungguh, sebuah kehidupan menjadi lebih bermakna ketika kebaikannya tidak berhenti pada diri sendiri.
Kita mungkin tidak memiliki kedudukan seperti ibunda Juwairiyah radhiyallahu ‘anha. Kita juga tidak selalu mampu mengubah keadaan besar dalam masyarakat. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk menghadirkan manfaat melalui peran yang dijalaninya.
Seorang ibu dapat menumbuhkan harapan di dalam keluarganya. Seorang guru dapat membuka masa depan murid-muridnya. Seorang pembina dapat menguatkan anggota yang hampir kehilangan semangat. Seorang pemimpin dapat menggunakan kewenangannya untuk melindungi dan memberdayakan orang lain.
Kebaikan tidak selalu hadir melalui sesuatu yang besar. Terkadang, ia bermula dari satu keputusan yang tepat, satu kepedulian yang tulus, atau satu kesempatan yang digunakan untuk menolong sesama. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32).
Ayat ini mengingatkan kita tentang betapa berharganya kehidupan manusia. Setiap kesempatan untuk menjaga martabat, meringankan kesulitan, dan membuka jalan kebaikan merupakan amanah dari Allah Subhanahu wata’ala yang patut disyukuri.
Kemuliaan yang Tumbuh dari Kedekatan kepada Allah
Setelah menjadi istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Juwairiyah radhiyallahu ‘anha tidak hanya dikenal karena peristiwa pembebasan kaumnya. Ia juga dikenal sebagai perempuan yang tekun beribadah, dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala, serta memiliki perhatian besar terhadap zikir.
Salah satu kisah tentang dirinya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Pada suatu pagi, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah ketika Juwairiyah radhiyallahu ‘anha sedang berada di tempat salatnya. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kembali pada waktu duha, Juwairiyah radhiyallahu ‘anha masih berada di tempat tersebut.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya apakah ia masih dalam keadaan seperti ketika beliau meninggalkannya. Juwairiyah menjawab, “Ya.” Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa beliau telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali. Kalimat-kalimat itu memiliki keutamaan yang sangat besar.
Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, sebanyak makhluk-Nya, seridha diri-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak kalimat-kalimat-Nya.” (HR. Muslim, no. 2726). Zikir tersebut dikenal sebagai ungkapan tasbih yang mengandung pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala sekaligus pengakuan akan kebesaran-Nya.
Di dalamnya terdapat pelajaran tentang luasnya rahmat Allah Subhanahu wata’ala dan terbatasnya kemampuan manusia untuk menghitung seluruh nikmat-Nya. Kisah ini menarik untuk direnungkan. Juwairiyah radhiyallahu ‘anha telah berada di lingkungan rumah tangga Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi kedekatan itu tidak membuatnya berhenti belajar.
Ia tetap membutuhkan bimbingan, nasihat, dan penguatan iman. Sementara itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya tentang lamanya waktu yang dihabiskan, tetapi juga tentang pemahaman, ketepatan tuntunan, dan keikhlasan hati.
Terkadang kita merasa telah melakukan banyak hal dalam kehidupan beragama. Kita menghadiri majelis ilmu, mengikuti kegiatan dakwah, membaca berbagai buku, atau menjalankan beragam agenda kebaikan. Namun, di tengah kesibukan itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah hati kita semakin dekat kepada Allah?
Apakah ibadah membuat kita semakin rendah hati? Apakah ilmu membuat kita lebih bijaksana? Apakah kesibukan dakwah menjadikan kita semakin peduli kepada keluarga dan masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena kualitas kehidupan seorang Muslim tidak hanya diukur dari banyaknya aktivitas yang dilakukan.
Ia juga tercermin dalam perubahan akhlak, kejernihan hati, dan manfaat yang dirasakan orang lain. Juwairiyah radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa kesungguhan beribadah perlu berjalan bersama kesediaan menerima tuntunan. Semangat saja tidak cukup. Semangat harus diarahkan oleh ilmu, dijaga oleh keikhlasan, dan dibuktikan melalui akhlak.
Menjadi Pribadi yang Membawa Keberkahan
Juwairiyah juga meriwayatkan hadis dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dalam catatan hadis, ia dikenal sebagai salah seorang sahabiyah yang menyampaikan ilmu kepada generasi sesudahnya. Sejumlah riwayat yang dinisbatkan kepadanya tercantum dalam kitab-kitab hadis, termasuk dalam kumpulan hadis yang dikenal sebagai Kutubus Sittah.
Hal ini memperlihatkan bahwa kontribusinya tidak berhenti pada peristiwa yang mengubah kehidupan kaumnya. Ia turut mengambil bagian dalam menjaga dan menyampaikan ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Kita dapat melihat tiga pelajaran penting dari perjalanan hidupnya.
Pertama, ujian tidak harus menjadi akhir dari harapan. Ada keadaan yang tidak dapat kita pilih, tetapi kita masih dapat berusaha menentukan sikap yang baik dalam menghadapinya. Kesulitan tidak selalu segera berubah menjadi kemudahan, tetapi iman dapat menolong seseorang untuk tetap melangkah dengan terarah.
Kedua, kedudukan dan kesempatan seharusnya melahirkan manfaat. Kemuliaan tidak hanya terletak pada siapa diri kita atau posisi apa yang kita miliki. Kemuliaan juga terlihat dari bagaimana kita menggunakan kesempatan untuk membantu orang lain.
Ketiga, kedekatan kepada Allah Subhanahu wata’ala perlu dirawat melalui ibadah, ilmu, dan akhlak. Kesalehan bukan sekadar urusan pribadi. Ia semestinya menumbuhkan kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani). Pesan tersebut selaras dengan pelajaran yang kita temukan dalam perjalanan Juwairiyah. Kebaikan yang paling berarti bukan hanya kebaikan yang membuat diri kita merasa tenang, tetapi juga kebaikan yang menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Kita tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar untuk melakukannya. Mulailah dari lingkungan terdekat. Dengarkan orang yang membutuhkan teman bicara. Bantu seseorang yang sedang menghadapi kesulitan. Gunakan ilmu untuk mencerahkan, bukan merendahkan.
Gunakan jabatan untuk melayani, bukan sekadar memperoleh penghormatan. Dalam keluarga, masyarakat, pekerjaan, dan perjuangan dakwah, selalu ada ruang untuk menjadi pribadi yang membawa keberkahan.
Jejak yang Tetap Hidup
Sejarah Juwairiyah binti Harits mengingatkan kita bahwa kehidupan seseorang tidak hanya dinilai dari bagaimana ia memulai perjalanan, tetapi juga dari kebaikan yang lahir sepanjang perjalanan tersebut. Ia pernah menghadapi perubahan keadaan yang besar.
Namun, kisahnya tidak hanya dikenang karena ujian yang dialaminya. Ia dikenang karena keberkahan yang hadir melalui dirinya, kesungguhannya dalam beribadah, dan perannya dalam mewariskan ilmu. Mungkin kita tidak akan meninggalkan nama dalam buku-buku sejarah.
Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui perjuangan kita. Namun, selalu ada kesempatan untuk meninggalkan jejak yang berarti. Anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang, anggota yang kembali bersemangat karena nasihat seorang pembina, tetangga yang terbantu oleh kepedulian sederhana, atau sahabat yang kembali menemukan harapan melalui dukungan kita, semuanya merupakan bagian dari kebaikan yang patut disyukuri.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa besar nama kita dikenal, melainkan seberapa banyak kebaikan yang tumbuh melalui kehadiran kita. Semoga Allah Subhanahu wata’ala membimbing kita agar tidak hanya sibuk memperbaiki diri, tetapi juga bersungguh-sungguh menghadirkan manfaat.
Semoga ibadah kita menguatkan hati, ilmu kita menerangi jalan, dan setiap kesempatan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan menjadi jalan untuk menolong sesama. Sebab, sebagaimana pelajaran dari kehidupan Juwairiyah binti Harits radhiyallahu ‘anha, seseorang dapat menjadi pembawa keberkahan ketika iman tidak berhenti di dalam hati, tetapi menjelma menjadi kebaikan yang dirasakan oleh orang lain. Wallahu a’lam bishawab.