Wanita Pengukir Sejarah: Ummu Habibah RA, Keteguhan Iman di Negeri Seberang (10)

@ Cecep Y. Pramana

Bayangkan sebuah pagi di Habasyah. Laut terbentang sangat luas, angin berembus dari arah pantai, dan rombongan kaum Muslimin yang meninggalkan Makkah mulai menata kehidupan di negeri yang asing bagi mereka. Sebagian sahabat berhijrah ke Habasyah, sebuah negeri yang dipimpin oleh Raja Najasyi, penguasa yang dikenal adil.

Di antara para pendatang itu, ada seorang perempuan Quraisy bernama Ramlah binti Abi Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah bin al-Umawiy dan dikenal dengan panggilan Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha. Ia datang bersama suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, membawa harapan sederhana: hidup lebih aman dan tetap dapat memeluk Islam tanpa tekanan yang selama ini mereka hadapi.

Habasyah bukan tanah kelahiran mereka. Bahasa, kebiasaan, dan suasananya berbeda dari Makkah. Jarak memisahkan mereka dari keluarga dan kampung halaman. Namun, semua itu mereka hadapi demi mempertahankan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kenyamanan: iman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Ramlah mungkin membayangkan bahwa setelah perjalanan panjang itu, ia dan suaminya akan menjalani kehidupan baru bersama. Namun, tak seorang pun mengetahui bagaimana ujian akan datang, bahkan ketika seseorang telah berani meninggalkan segala yang dikenalnya demi keyakinan.

Di negeri pengungsian itulah, kehidupan rumah tangganya mengalami perubahan besar. Ubaidillah bin Jahsy berpindah agama dan kemudian meninggal dalam keadaan memeluk agama Nasrani. Sementara itu, Ramlah tetap bertahan dalam Islam. Bayangkan beratnya keadaan yang harus ia hadapi.

Jauh dari tanah kelahiran, tidak berada di tengah keluarga besarnya, dan kini kehilangan kebersamaan dengan suami yang dahulu menemaninya berhijrah. Masa depan yang semula dibayangkan bersama berubah menjadi jalan yang harus ia tempuh sendiri.

Namun, ia tidak membiarkan perubahan itu memalingkannya dari keyakinan. Kelak, perempuan ini dikenal sebagai Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan bagian dari ummahatul mukminin. Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa keteguhan iman bukan berarti seseorang tidak pernah merasakan kehilangan.

Keteguhan adalah ketika kehilangan tidak membuatnya meninggalkan kebenaran yang telah diyakininya. Ada kalanya, ujian terbesar bukan datang dari orang yang memusuhi kita, melainkan dari perubahan yang terjadi pada orang terdekat. Ada saat ketika kita harus menerima bahwa jalan hidup seseorang tidak lagi searah dengan jalan yang kita pilih.

Dalam keadaan seperti itu, iman menuntun kita untuk tetap teguh, sementara akhlak mengajarkan kita agar tidak kehilangan kemanusiaan. Kisah Ummu Habibah bermula dari keberanian meninggalkan Makkah, tetapi kemuliaan kisahnya tumbuh dari keteguhan yang ia jaga di Habasyah.

Ia tidak mengetahui seluruh masa depan yang menantinya. Ia hanya terus memegang keyakinan yang telah dipilihnya. Dan terkadang, itulah bentuk keberanian yang paling sunyi: tetap setia kepada kebenaran ketika keadaan berubah, ketika harapan tidak berjalan sesuai rencana, dan ketika seseorang harus melanjutkan perjalanan dengan kekuatan iman.

Ketika Allah Membuka Jalan yang Tak Terduga

Setelah melalui masa yang berat, Ummu Habibah memperoleh jalan baru dalam kehidupannya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang perantara untuk meminangnya ketika ia masih berada di Habasyah. Raja Najasyi kemudian menyelenggarakan akad nikah atas nama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Khalid bin Sa‘id bin Al-‘Ash bertindak sebagai wali dalam akad tersebut, sedangkan mahar yang diberikan berjumlah 400 dirham. Pernikahan itu berlangsung ketika Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha masih berada jauh dari Makkah dan Madinah. Ia kemudian menjadi salah seorang istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan memperoleh kedudukan mulia sebagai Ummul Mukminin.

Sungguh, perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa masa sulit tidak selalu menjadi akhir cerita. Ada kalanya, setelah melewati kehilangan dan ketidakpastian, seseorang menemukan jalan baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Namun, pelajaran dari kisah ini bukanlah bahwa setiap penderitaan akan segera diganti dengan kebahagiaan yang terlihat.

Kehidupan tidak selalu berjalan sesederhana itu. Ada ujian yang berlangsung lama, ada doa yang jawabannya datang dalam bentuk berbeda, dan ada kehilangan yang tetap meninggalkan bekas. Pelajaran yang lebih dalam ialah bahwa kesulitan tidak harus membuat seseorang kehilangan arah.

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha tetap menjaga imannya ketika keadaan berubah. Ia tidak mengetahui seluruh masa depannya, tetapi ia tidak menjadikan ketidakpastian sebagai alasan untuk melepaskan keyakinan. Bukankah kita pun sering berada dalam keadaan serupa?

Kita merencanakan kehidupan sebaik mungkin, tetapi tidak semua hal berjalan sesuai harapan. Ada hubungan yang berubah, pekerjaan yang tidak bertahan, rencana yang tertunda, atau orang terdekat yang mengambil keputusan berbeda dari yang kita harapkan.

Dalam keadaan demikian, kita perlu belajar membedakan antara sesuatu yang dapat kita kendalikan dan sesuatu yang harus kita hadapi dengan sabar. Kita bertanggung jawab atas pilihan dan ikhtiar kita, tetapi tidak selalu mampu menentukan hasil akhirnya. Keteguhan bukan berarti tidak pernah merasa sedih. Keteguhan berarti tidak membiarkan kesedihan merampas seluruh pegangan hidup kita.

Sebuah Alas Duduk dan Keteguhan Prinsip

Ada peristiwa lain dalam kehidupan Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha yang menunjukkan betapa teguh pendiriannya. Ketika Perjanjian Hudaibiyah menghadapi persoalan akibat tindakan kaum Quraisy dan sekutunya, Abu Sufyan datang ke Madinah untuk mengupayakan pembaruan perjanjian.

Saat itu, ia belum memeluk Islam. Usahanya untuk memperoleh dukungan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkannya. Dalam riwayat yang dikenal tentang peristiwa tersebut, Abu Sufyan kemudian mendatangi rumah putrinya, Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha.

Ketika ia hendak duduk di atas alas yang biasa digunakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha segera melipat alas itu sehingga ayahnya tidak duduk di atasnya. Abu Sufyan bertanya apakah putrinya tidak ingin ia duduk di atas alas tersebut atau justru tidak ingin alas itu diduduki olehnya.

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa alas itu milik Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan ayahnya ketika itu masih berada dalam keadaan musyrik. Peristiwa ini memperlihatkan ketegangan yang tidak sederhana. Di satu sisi, Abu Sufyan adalah ayahnya sendiri. Di sisi lain, Ummu Habibah memiliki keyakinan yang tidak dapat ia lepaskan hanya karena hubungan keluarga.

Kita tidak perlu membaca peristiwa tersebut sebagai ajakan untuk bersikap kasar kepada orang tua atau merendahkan orang yang berbeda keyakinan. Justru, kisah ini perlu dipahami dalam konteks sejarah dan keteguhan Ummu Habibah menjaga penghormatan terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam serta prinsip keimanannya.

Ia tidak mengubah keyakinannya hanya untuk menyenangkan seseorang, sekalipun orang itu adalah ayahnya sendiri. Di sinilah kita menemukan pelajaran tentang batas antara kasih sayang dan prinsip. Menghormati keluarga merupakan bagian penting dari akhlak. Namun, kasih sayang tidak berarti membenarkan segala sesuatu atau mengorbankan keyakinan yang mendasar.

Dalam kehidupan modern, prinsip ini tetap relevan. Kita mungkin menghadapi tekanan dari lingkungan pergaulan, tuntutan pekerjaan, atau keinginan untuk diterima oleh kelompok tertentu. Tidak jarang, seseorang merasa harus menyembunyikan nilai yang diyakininya agar tidak dianggap berbeda.

Kisah Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha mengingatkan bahwa menjaga prinsip dapat dilakukan tanpa kehilangan akhlak. Kita bisa tegas tanpa menghina, berbeda tanpa membenci, dan mempertahankan keyakinan tanpa berlaku zalim kepada orang lain.

Perempuan yang Menjaga Iman dan Mewariskan Ilmu

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha tidak hanya dikenal karena perjalanan hijrah dan pernikahannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia juga meriwayatkan hadis dari Nabi. Sejumlah sumber biografi menyebutkan bahwa ia meriwayatkan sekitar 65 hadits, yang menjadi bagian dari warisan ilmu umat Islam.

Hal ini mengingatkan kita bahwa kehidupan seorang perempuan tidak hanya dinilai dari peran yang tampak di permukaan. Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha adalah seorang istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi ia juga bagian dari generasi yang menjaga dan menyampaikan ajaran Islam kepada umat sesudahnya.

Ia menjadi saksi kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan ikut mewariskan pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya. Di tengah masyarakat yang kadang membatasi nilai seseorang pada satu peran, kisah Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha memperlihatkan bahwa kemuliaan dapat hadir melalui banyak jalan: keteguhan iman, tanggung jawab keluarga, kesabaran menghadapi ujian, serta kontribusi dalam menjaga ilmu.

Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Generasi terdahulu menghadapi tekanan dan pengorbanan yang berbeda dengan kehidupan kita hari ini. Namun, kebutuhan untuk memiliki prinsip, menjaga integritas, dan terus belajar tidak pernah kehilangan relevansinya. Kita mungkin tidak mengalami hijrah seperti Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha.

Kita mungkin tidak hidup di tengah peristiwa sejarah yang sama. Namun, setiap orang memiliki perjalanan yang menuntut keteguhan: mempertahankan kejujuran ketika berbuat curang terasa lebih mudah, menjaga ibadah di tengah kesibukan, atau tetap berbuat baik ketika tidak mendapatkan balasan yang diharapkan.

Keteguhan iman sering kali tumbuh melalui keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari. Keteguhan iman bukanlah sebuah kejadian instan, melainkan hasil akumulasi dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari saat tidak ada orang lain yang melihat.

Tetap Teguh, Meski Jalan Tidak Selalu Mudah

Kisah Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa iman bukan hanya sesuatu yang kita miliki ketika hidup berjalan sesuai keinginan. Iman justru menemukan kedalamannya ketika keadaan berubah, ketika orang terdekat mengambil jalan berbeda, dan ketika masa depan belum memberikan kepastian.

Ia berhijrah demi keyakinan, bertahan ketika menghadapi kehilangan, menerima jalan hidup yang baru, dan tetap menjaga prinsip di hadapan ayahnya sendiri. Perjalanan itu menunjukkan bahwa keteguhan tidak selalu berarti hidup tanpa kesedihan. Keteguhan adalah kemampuan untuk tetap berpijak pada nilai yang benar meskipun hati sedang menghadapi ujian.

Kita tidak harus menjadi manusia yang tidak pernah goyah. Kita hanya perlu terus belajar kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala, memperbaiki niat, dan melanjutkan ikhtiar dengan sabar. Jika hari ini kita sedang menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan, ingatlah bahwa satu babak sulit tidak selalu menentukan seluruh perjalanan hidup.

Jika kita merasa sendirian karena berusaha menjaga prinsip, jangan buru-buru menganggap usaha itu sia-sia. Dan jika kita harus berhadapan dengan pilihan yang berat, mintalah petunjuk Allah Subhanahu wata’ala agar mampu mengambil keputusan dengan ilmu, keberanian, dan akhlak yang baik.

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha meninggalkan teladan bahwa keyakinan tidak seharusnya bergantung pada keadaan yang selalu nyaman. Ia menunjukkan bahwa seseorang dapat tetap teguh tanpa harus kehilangan martabat, dan dapat menghadapi perbedaan tanpa melepaskan prinsip hidupnya.

Sebab, iman bukan hanya tentang bagaimana kita memulai perjalanan, melainkan juga tentang bagaimana kita tetap melangkah ketika jalan di hadapan kita berubah. Iman adalah keteguhan hati untuk terus melangkah bersama Allah Subhanahu wata’ala dan beradaptasi ketika situasi di tengah perjalanan hidup berubah di luar.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala menganugerahkan kepada kita keteguhan seperti Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha: hati yang tidak mudah berpaling dari kebenaran, kesabaran ketika menghadapi kehilangan, serta kebijaksanaan untuk menjaga prinsip tanpa meninggalkan akhlak mulia. Wallahu a’lam bishawab.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *