Wanita Pengukir Sejarah: Asma’ binti Umais, Perempuan Tangguh Berhijrah Dua Kali dan Mendampingi Tiga Sahabat Mulia (16)

@ Cecep Y. Pramana

Ada perempuan yang perjalanan hidupnya tidak pernah benar-benar mudah. Ia harus meninggalkan tanah kelahiran, menempuh perjalanan panjang ke negeri yang jauh, hidup dalam keterasingan, dan menghadapi ketidakpastian masa depan. Namun, di tengah semua itu, ia tetap teguh menjaga iman.

Bahkan, ketika kehidupan kembali berubah, ia mampu bangkit dan melanjutkan pengabdian. Salah satu perempuan itu adalah Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha. Namanya mungkin tidak selalu disebut ketika orang membicarakan perempuan-perempuan hebat dalam sejarah Islam. Namun, perjalanan hidupnya menyimpan begitu banyak pelajaran.

Ia adalah perempuan yang berani mengambil keputusan besar demi mempertahankan keimanan. Ia mengalami dua kali hijrah, mendampingi tiga sahabat besar dalam kehidupan rumah tangganya, dan menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Kisah Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang memiliki hubungan keluarga dengan tokoh-tokoh besar. Lebih dari itu, ia adalah gambaran tentang keteguhan iman, keberanian menyampaikan kebenaran, kematangan berpikir, dan kemampuan menjaga kehormatan di tengah berbagai perubahan kehidupan.

Hijrah yang Menguji Keteguhan Iman

Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha berasal dari Bani Khats’am. Ia termasuk perempuan yang lebih dahulu menerima Islam. Ketika tekanan dan gangguan terhadap kaum Muslimin di Makkah semakin berat, ia bersama suaminya, Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, mengambil keputusan besar: meninggalkan tanah kelahiran menuju Habasyah.

Keputusan itu bukan perkara sederhana. Mereka harus meninggalkan keluarga, lingkungan, dan kehidupan yang selama ini dikenal. Mereka menempuh perjalanan menuju negeri asing dengan harapan memperoleh perlindungan untuk menjalankan agama. Tidak ada jaminan kehidupan di sana akan mudah.

Mereka hanya membawa keyakinan bahwa mempertahankan iman jauh lebih berharga daripada kenyamanan hidup. Di Habasyah, Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha menjalani kehidupan sebagai seorang Muslimah yang jauh dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia tidak dapat mengikuti langsung perkembangan dakwah di Makkah.

Ia juga tidak menikmati kedekatan dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana para sahabat yang tetap berada di sekitar beliau. Namun, jarak geografis tidak membuat cintanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkurang. Justru, keterpisahan itu menjadi ujian yang semakin menguatkan keimanannya.

Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha dan kaum Muslimin yang berhijrah ke Habasyah harus membangun kehidupan baru. Mereka beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, menghadapi kerinduan terhadap kampung halaman, dan tetap menjaga keyakinan di tengah keterbatasan. Di sinilah kita menemukan makna hijrah yang sesungguhnya.

Hijrah bukan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah adalah keberanian meninggalkan sesuatu yang disukai ketika sesuatu itu menghalangi ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ada kenyamanan yang harus dilepaskan. Ada kebiasaan yang harus ditinggalkan.

Ada keputusan yang mungkin tidak dipahami orang lain, tetapi harus diambil karena iman. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia.” (QS. An-Nahl: 41).

Ayat ini mengingatkan bahwa pengorbanan di jalan Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah sia-sia. Mungkin seseorang harus kehilangan sesuatu dalam proses ketaatan, tetapi Allah Subhanahu wata’ala memiliki cara tersendiri untuk menggantinya dengan kebaikan.

Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha telah membuktikan bahwa iman bukan sekadar sesuatu yang diucapkan. Iman adalah keyakinan yang berani diperjuangkan. Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha adalah teladan nyata bahwa iman adalah keyakinan mendalam yang dibuktikan dengan pengorbanan dan keberanian jasmani maupun rohani.

Ketika Pengorbanan Harus Mendapat Pengakuan

Salah satu peristiwa menarik dalam kehidupan Asma’ binti Umais Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha adalah teladan nyata bahwa iman adalah keyakinan mendalam yang dibuktikan dengan pengorbanan dan keberanian jasmani maupun rohani terjadi setelah ia kembali dari Habasyah.

Pada tahun 7 Hijriah, Asma’ binti Umais Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha adalah teladan nyata bahwa iman adalah keyakinan mendalam yang dibuktikan dengan pengorbanan dan keberanian jasmani maupun rohani. Bersama suaminya Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan rombongan kaum Muslimin yang berhijrah ke Habasyah kembali ke Madinah.

Kedatangan mereka bertepatan dengan suasana kemenangan kaum Muslimin setelah Perang Khaibar. Pada suatu kesempatan, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu datang menemui putrinya, Hafshah, yang ketika itu sedang bersama Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya tentang siapa perempuan yang berada di sana. Setelah mengetahui bahwa perempuan itu adalah Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha, ia kemudian bertanya apakah Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha termasuk orang yang pernah berhijrah ke Habasyah.

Setelah mendapat jawaban iya, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa kaum Muslimin yang berhijrah ke Madinah lebih dahulu daripada mereka yang berhijrah ke Habasyah. Ia juga menyebut bahwa kaum Muslimin di Madinah memiliki kedekatan lebih besar dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Pernyataan itu ternyata menyentuh sisi perjuangan Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha. Dengan tegas, ia membantah perkataan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Menurutnya, para sahabat yang tinggal bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan keuntungan besar karena dapat belajar langsung, memperoleh bimbingan, serta menikmati kedekatan dengan beliau.

Sementara itu, kaum Muslimin di Habasyah hidup jauh dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka harus menghadapi kesulitan, keterasingan, dan rasa takut. Mereka tidak memperoleh kemudahan yang sama. Mereka mempertahankan iman tanpa kehadiran langsung Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam di tengah kehidupan sehari-hari.

Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha bahkan menyatakan akan menyampaikan perkataan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan jujur, tanpa mengurangi atau menambahinya. Peristiwa ini memperlihatkan karakter Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha yang luar biasa.

Ia tidak takut menyampaikan pandangan, sekalipun kepada seorang sahabat besar seperti Umar bin Khaththab. Namun, keberaniannya bukan lahir dari kesombongan. Ia sedang membela kehormatan sebuah perjuangan yang telah dijalani dengan penuh pengorbanan.

Ketika persoalan itu disampaikan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau memberikan jawaban yang sangat menggembirakan bagi Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha dan para sahabat yang berhijrah ke Habasyah.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa kaum Muslimin yang berhijrah ke Habasyah memiliki keistimewaan. Mereka melakukan dua kali hijrah, sedangkan para sahabat yang berhijrah ke Madinah hanya melakukan satu kali hijrah.

Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian, para penumpang kapal, memperoleh dua kali hijrah”. Pengakuan itu tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Asma’ dan saudara-saudaranya.

Bayangkan perasaan mereka ketika mendengar bahwa perjuangan yang selama ini dijalani dalam keterasingan ternyata mendapatkan pengakuan langsung dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka tidak sia-sia meninggalkan tanah kelahiran. Mereka tidak sia-sia menempuh perjalanan panjang. Mereka tidak sia-sia bertahan dalam kesulitan.

Ada pelajaran penting dari peristiwa ini: setiap perjuangan memiliki nilai yang mungkin tidak selalu terlihat oleh manusia. Ada pengorbanan yang tidak diketahui banyak orang. Ada kerja keras yang tidak mendapatkan tepuk tangan. Ada kesetiaan yang tidak segera memperoleh penghargaan. Namun, Allah Maha Mengetahui.

Karena itu, seorang mukmin tidak seharusnya menjadikan pengakuan manusia sebagai satu-satunya alasan untuk terus berbuat baik. Penghargaan manusia boleh menjadi penyemangat, tetapi keridaan Allah Subhanahu wata’ala tetap menjadi tujuan utama.

Perempuan yang Menjalani Berbagai Fase Kehidupan

Perjalanan hidup Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha tidak berhenti setelah kembali ke Madinah. Ia telah melewati berbagai fase kehidupan yang tidak ringan. Bersama Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia membangun keluarga dan dikaruniai anak-anak.

Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu merupakan salah seorang sahabat yang sangat dicintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun, kehidupan rumah tangga mereka akhirnya diuji oleh perpisahan. Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anha gugur dalam Perang Mu’tah pada tahun 8 Hijriah.

Ia wafat sebagai syahid setelah memimpin pasukan Muslimin dalam pertempuran tersebut. Bagi Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha, kehilangan itu tentu bukan perkara ringan. Ia harus menerima kenyataan bahwa suami yang selama ini mendampinginya telah tiada. Anak-anaknya pun harus tumbuh tanpa kehadiran ayah.

Tetapi, kehidupan harus terus berjalan. Setelah Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu wafat, Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha kemudian menikah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Dari pernikahan ini lahirlah Muhammad bin Abu Bakar.

Sekali lagi, takdir kehidupan membawanya pada ujian kehilangan. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, khalifah pertama umat Islam, wafat pada tahun 13 Hijriah. Setelah itu, Asma’ binti Umais menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dari pernikahan tersebut lahir Muhammad dan Yahya.

Dengan demikian, Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha pernah menjadi istri tiga sahabat besar yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam: Ja’far bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Namun, keistimewaan Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha tidak terletak semata-mata pada siapa yang pernah menjadi suaminya.

Kemuliaannya justru tampak dari bagaimana ia menjalani kehidupan bersama mereka, membesarkan anak-anaknya, menjaga iman, serta tetap berkontribusi bagi umat. Ia tidak membiarkan kehilangan membuat hidupnya berhenti. Ia tetap menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu dan anggota masyarakat Muslim.

Kisahnya mengajarkan bahwa kehidupan manusia terdiri atas berbagai babak. Ada masa kebersamaan, ada masa perpisahan. Ada saat kita memperoleh kebahagiaan, ada pula saat harus menerima kehilangan. Tidak semua yang kita cintai akan selalu bersama kita. Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan.

Namun, seorang mukmin selalu memiliki kesempatan untuk melanjutkan kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6).

Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa ketangguhan bukan berarti seseorang tidak pernah merasakan kesedihan. Ketangguhan adalah kemampuan untuk tetap menjaga iman dan tanggung jawab ketika kehidupan menghadirkan ujian.

Kebijaksanaan Seorang Ibu dalam Menjaga Kehormatan

Ada satu kisah menarik yang memperlihatkan kecerdasan dan kebijaksanaan Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha dalam mendidik anak-anaknya. Dikisahkan, suatu ketika terjadi perselisihan antara dua putranya, Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Abu Bakar. Keduanya saling membanggakan ayah masing-masing.

Salah seorang merasa lebih mulia karena ayahnya adalah Ja’far bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sementara yang lain merasa lebih unggul karena ayahnya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Perselisihan itu terjadi di hadapan Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha dan Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Ali bin Abu Thalib kemudian meminta Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha memberikan penilaian kepada kedua anak tersebut. Sebuah situasi yang tentu tidak mudah bagi seorang ibu. Bagaimana mungkin ia membandingkan dua sosok ayah yang sama-sama memiliki kedudukan mulia?

Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha menjawab dengan kalimat yang menunjukkan keluasan pandangannya. Ia mengatakan bahwa sepanjang pengetahuannya, tidak ada pemuda Arab yang lebih baik daripada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Namun, ia juga tidak pernah melihat orang tua yang lebih baik daripada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Jawaban itu menunjukkan kecerdasan seorang perempuan dalam menempatkan sesuatu secara proporsional. Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha tidak terjebak dalam persaingan antaranak. Ia tidak membiarkan kebanggaan terhadap satu keluarga merendahkan keluarga yang lain. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak perlu dibangun dengan merendahkan orang lain.

Setiap orang memiliki keutamaan masing-masing. Inilah pelajaran penting dalam kehidupan keluarga, terutama ketika menghadapi perbedaan karakter, latar belakang, dan kebanggaan di antara anggota keluarga. Orang tua tidak cukup hanya memberikan kasih sayang.

Mereka juga perlu menanamkan kebijaksanaan. Anak-anak harus diajarkan untuk menghargai orang lain, mengenali kelebihan masing-masing, dan tidak menjadikan keunggulan sebagai alasan untuk merendahkan sesama. Dalam kehidupan sekarang, sikap seperti ini sangat relevan.

Kita sering menyaksikan persaingan yang tidak sehat, bahkan dalam lingkungan keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan organisasi. Ada orang yang merasa lebih baik karena jabatan. Ada yang membanggakan kekayaan. Ada pula yang mengukur kemuliaan dari keturunan dan latar belakang.

Padahal, kemuliaan manusia di hadapan Allah tidak ditentukan oleh semua itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha telah memberikan teladan bahwa kebijaksanaan seorang ibu dapat menjadi penyejuk ketika perbedaan mulai menimbulkan perselisihan. Hal ini adalah cermin abadi tentang bagaimana kearifan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan seorang ibu mampu menjadi kompas moral sekaligus penyejuk di tengah badai politik dan perselisihan yang hebat.

Perempuan Berilmu yang Dipercaya Para Sahabat

Kemuliaan Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha juga terlihat dari kedudukannya sebagai perempuan yang memiliki pengetahuan dan dipercaya oleh para sahabat. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah meminta bantuan Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha untuk menafsirkan mimpi.

Hal ini menunjukkan bahwa Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha bukan hanya dikenal karena perjalanan hijrahnya atau kedekatannya dengan para sahabat besar, tetapi juga karena kapasitas keilmuannya. Ia merupakan salah seorang perawi hadis. Dalam catatan hadis, Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha meriwayatkan sekitar 60 hadis dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Angka tersebut memperlihatkan kontribusinya dalam menjaga dan menyampaikan warisan ilmu Islam kepada generasi berikutnya. Kita perlu memahami bahwa pada masa awal Islam, perempuan bukan hanya hadir sebagai pendamping kehidupan keluarga.

Mereka juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, periwayatan hadis, penyebaran ilmu, dan pembentukan masyarakat. Perempuan memiliki ruang untuk belajar, berpikir, bertanya, menyampaikan pendapat, serta memberikan kontribusi sesuai dengan kapasitasnya.

Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha menunjukkan bahwa kesalehan tidak harus membuat seseorang menjauh dari kehidupan sosial. Justru, iman yang kuat seharusnya melahirkan pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan. Ia adalah seorang ibu, seorang istri, seorang sahabat, sekaligus perempuan berilmu yang memiliki kontribusi bagi umat.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath-Thabrani). Menjadi perempuan yang salehah bukan berarti membatasi diri dari berbagai kesempatan untuk berbuat baik.

Sebaliknya, kesalehan menjadi landasan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Ilmu yang dimiliki tidak berhenti sebagai kebanggaan pribadi. Ilmu harus dibagikan. Pengalaman harus menjadi pelajaran. Kehidupan harus meninggalkan jejak kebaikan.

Menjadi Perempuan yang Tetap Teguh dalam Perubahan

Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari perjalanan Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha. Ia mengajarkan keberanian untuk mempertahankan iman ketika lingkungan tidak mendukung. Ia menunjukkan keteguhan ketika harus meninggalkan tanah kelahiran demi agama.

Ia memperlihatkan keberanian menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan adab. Ia juga memberikan teladan tentang kebijaksanaan dalam keluarga dan pentingnya ilmu bagi seorang perempuan. Kehidupannya tidak selalu berjalan dalam keadaan mudah.

Ia mengalami perjalanan panjang, keterpisahan, kehilangan suami, dan tanggung jawab membesarkan anak-anak. Namun, berbagai ujian itu tidak menghilangkan nilai dirinya. Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha tetap menjadi perempuan yang memiliki pendirian.

Ia tidak kehilangan identitas hanya karena berada di tengah keluarga para tokoh besar. Ia juga tidak berhenti berkontribusi setelah melewati berbagai perubahan kehidupan. Inilah salah satu pesan penting bagi perempuan masa kini. Perempuan tidak harus menunggu keadaan sempurna untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.

Tidak harus menunggu memiliki kedudukan tinggi untuk memberikan kontribusi. Tidak harus dikenal banyak orang untuk menghadirkan kebaikan. Seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan iman sedang membangun masa depan umat. Seorang perempuan yang menjaga ilmu dan mengamalkannya sedang menyiapkan generasi yang lebih baik.

Seorang istri yang mendukung perjuangan dalam kebaikan sedang mengambil bagian dalam perjalanan dakwah. Begitu pula perempuan muda yang tekun belajar, menjaga kehormatan, mengembangkan kemampuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Semua itu merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Bagi generasi muda, kisah Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha juga memberikan pesan bahwa keberanian mengambil keputusan yang benar merupakan bagian dari kedewasaan iman. Tidak semua pilihan hidup harus mengikuti arus. Ada saatnya seseorang perlu berdiri teguh meskipun pilihannya berbeda dari kebanyakan orang.

Sementara bagi mereka yang telah melewati perjalanan hidup panjang, Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha mengingatkan bahwa usia dan pengalaman seharusnya membuat seseorang semakin matang, semakin bijaksana, dan semakin bermanfaat. Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat mereka yang memiliki kekuasaan atau jabatan.

Sejarah juga mengabadikan orang-orang yang memberikan pengaruh melalui keteguhan iman, keluasan ilmu, dan pengorbanan yang tulus. Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha adalah salah satunya. Ia pernah meninggalkan Makkah demi iman. Ia pernah hidup jauh dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam demi mempertahankan keyakinan.

Ia pernah membela kehormatan para sahabat yang berhijrah ke Habasyah. Ia mendampingi keluarga, membesarkan anak-anak, dan meriwayatkan hadis untuk generasi sesudahnya. Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa kemuliaan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari siapa yang mendampinginya, tetapi juga dari nilai yang ia perjuangkan dan kebaikan yang ia wariskan.

Sebab, perempuan pengukir sejarah bukanlah semata-mata perempuan yang namanya dikenal banyak orang. Ia adalah perempuan yang kehadirannya membawa manfaat, keteguhannya menguatkan iman, ilmunya menerangi kehidupan, dan pengabdiannya meninggalkan jejak kebaikan.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala menganugerahkan kepada kita keteguhan iman seperti Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha, keberanian dalam membela kebenaran, kebijaksanaan dalam keluarga, serta semangat untuk terus memberikan manfaat bagi umat. Wallahu a’lam bishawab.

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *