IQRA, Bacalah: Jejak Literasi Islam
@ Cecep Y Pramana
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang sesungguhnya mengandung renungan yang panjang. Mengapa wahyu pertama yang diterima Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dimulai dengan perintah “Iqra”, bacalah? Mengapa bukan perintah tentang shalat? Mengapa bukan zakat, puasa, atau haji?
Padahal, dalam kehidupan seorang Muslim, kita mengenal lima rukun Islam sebagai fondasi utama: syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadan, dan haji bagi yang mampu. Namun, ketika risalah Islam mulai diturunkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam di Gua Hira, kata pertama yang hadir adalah: Iqra. Bacalah.
Perintah itu bukan sekadar ajakan untuk membuka buku. Ia adalah panggilan agar manusia menggunakan akal, memperhatikan kehidupan, mengenali dirinya, membaca alam, memahami wahyu, meneliti realitas, dan terus belajar tentang sesuatu yang sebelumnya belum diketahui.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
Lima ayat pertama itu seperti sebuah pintu. Pintu menuju ilmu. Pintu menuju kesadaran. Pintu menuju perubahan. Dan pintu itu dibuka dengan satu kata: Iqra. Lima ayat pertama dari Surah Al-Alaq memang bukan sekadar teks, melainkan sebuah revolusi kesadaran bagi umat manusia. Menarik sekali bagaimana Anda menggambarkan kata “Iqra” (Bacalah) sebagai sebuah kunci pembuka pintu.
Membaca Sebelum Melangkah
Bayangkan seseorang yang hendak melakukan perjalanan jauh. Ia memiliki kendaraan. Ia memiliki tenaga. Ia memiliki tujuan. Tetapi ia tidak mengetahui jalan yang harus ditempuh. Apa yang terjadi? Ia mungkin bergerak cepat, tetapi belum tentu sampai pada tujuan. Begitulah manusia.
Semangat saja tidak cukup. Keinginan saja tidak cukup. Bahkan niat baik pun membutuhkan pengetahuan agar dapat diwujudkan dengan benar. Karena itu, perintah membaca menjadi sangat penting. Niat baik tanpa ilmu bisa salah arah, sementara ilmu tanpa niat baik bisa berbahaya
Iqra membangun kesadaran sebelum tindakan.
Seorang Muslim perlu mengetahui siapa Tuhannya, untuk apa ia diciptakan, bagaimana menjalani kehidupan, apa yang benar dan salah, serta ke mana seluruh perjalanan hidup ini akan berakhir. Dari membaca, manusia belajar memahami. Dari memahami, manusia belajar memilih. Dari memilih, manusia belajar bertindak.
Dan dari tindakan yang benar, lahirlah perubahan. Inilah salah satu pesan besar yang dapat kita renungkan dari turunnya wahyu pertama. Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk beribadah, tetapi juga membentuk manusia yang sadar, berilmu, mampu berpikir, dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya.
Karena ibadah yang benar membutuhkan pemahaman. Dakwah membutuhkan ilmu. Kepemimpinan membutuhkan wawasan. Membangun keluarga membutuhkan pengetahuan. Menghadapi perubahan zaman membutuhkan kemampuan membaca keadaan. Bahkan untuk mengenali diri sendiri pun manusia perlu belajar. Maka, iqra bukan sekadar aktivitas membaca tulisan. Iqra adalah cara manusia membuka kesadaran.
1. IQRA: Membudayakan Membaca
Kata pertama dalam wahyu pertama itu adalah Iqra. Bacalah. Perintah tersebut menunjukkan betapa pentingnya aktivitas membaca dalam kehidupan manusia. Membaca membuat seseorang keluar dari ruang pengetahuan yang sempit. Ia bertemu dengan gagasan baru.
Ia mengenal pengalaman orang lain. Ia memahami sejarah. Ia menemukan berbagai perspektif. Ia belajar dari kesalahan yang pernah terjadi. Membaca juga membuat seseorang tidak mudah menerima segala sesuatu secara mentah.
Ia belajar bertanya. Ia belajar memeriksa. Ia belajar membandingkan. Ia belajar mencari kebenaran. Dalam konteks kehidupan umat Islam, tradisi membaca dan menuntut ilmu kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan peradaban Islam. Ilmu berkembang dalam berbagai bidang.
Para ilmuwan, ulama, dan cendekiawan menulis, mengajar, meneliti, menerjemahkan, dan mendokumentasikan pengetahuan. Semua itu mengingatkan kita bahwa Islam memiliki perhatian yang kuat terhadap ilmu dan pembelajaran. Namun, tantangan hari ini justru semakin kompleks.
Kita hidup pada zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh. Hanya dengan sebuah telepon genggam, seseorang dapat mengakses ribuan artikel, buku digital, video, berita, kajian, dan berbagai sumber pengetahuan. Tetapi ada sebuah persoalan baru.
Banyak informasi belum tentu menghasilkan banyak pengetahuan. Kita bisa mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu memahami maknanya. Kita bisa membaca banyak berita, tetapi belum tentu mampu membedakan informasi yang benar dan keliru. Kita bisa melihat banyak konten, tetapi belum tentu mengalami pertumbuhan dalam diri.
Karena itu, semangat iqra pada zaman sekarang tidak cukup dimaknai sebagai banyak membaca. Ia juga berarti membaca dengan kesadaran. Membaca dengan kritis. Membaca dengan tujuan. Dan yang paling penting, membaca dengan nama Allah.
2. Membaca Manusia Dan Kehidupannya
Setelah perintah membaca, Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan manusia tentang asal penciptaannya. “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Pesan ini sangat dalam. Manusia yang memiliki ilmu tetap harus mengingat siapa dirinya.
Manusia boleh memiliki kecerdasan. Boleh memiliki gelar. Boleh memiliki jabatan. Boleh menguasai teknologi. Tetapi semuanya bermula dari ciptaan Allah Subhanahu wata’ala. Ilmu seharusnya tidak membuat manusia sombong. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin mengenal kebesaran Allah Subhanahu wata’ala.
Semakin banyak seseorang belajar, semakin ia menyadari bahwa pengetahuannya tetap terbatas. Di sinilah iqra tidak hanya mengajarkan kita membaca buku. Kita juga perlu belajar membaca manusia. Membaca keadaan orang tua. Membaca kebutuhan keluarga. Membaca kegelisahan anak-anak muda.
Membaca perubahan masyarakat. Membaca persoalan lingkungan. Membaca perkembangan teknologi. Membaca kondisi umat. Dan yang tidak kalah penting, membaca diri sendiri. Mengapa saya hidup? Apa yang sedang saya kejar? Untuk siapa saya bekerja? Apa yang sudah saya berikan kepada keluarga? Apa kontribusi saya bagi masyarakat? Bagaimana hubungan saya dengan Allah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah bagian dari proses membaca kehidupan. Sebab seseorang dapat membaca puluhan buku, tetapi belum tentu mampu membaca dirinya sendiri. Ia bisa mengetahui banyak teori, tetapi belum tentu memahami tujuan hidupnya. Maka iqra mengajak manusia bukan hanya menjadi orang yang banyak tahu, tetapi menjadi orang yang sadar.
3. Yang Mengajar Dengan Pena
Ada satu bagian menarik dalam ayat tersebut: “Yang mengajar manusia dengan pena”. Pena adalah simbol pengetahuan yang dituliskan. Apa yang ada dalam pikiran dapat dituangkan menjadi tulisan. Apa yang ditemukan dalam penelitian dapat didokumentasikan. Apa yang dipelajari dapat diwariskan.
Apa yang dialami dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Karena itu, membaca dan menulis sesungguhnya adalah dua aktivitas yang saling berhubungan. Membaca memperkaya pikiran. Menulis merapikan pikiran. Membaca membuat kita menerima pengetahuan. Menulis membuat kita mengolah pengetahuan.
Membaca mempertemukan kita dengan gagasan orang lain. Menulis memungkinkan gagasan kita memberi manfaat kepada orang lain. Maka, jangan berhenti pada membaca. Tulislah. Tidak harus langsung menjadi buku. Tulislah satu halaman. Satu paragraf. Satu catatan. Satu refleksi. Satu pengalaman.
Satu pelajaran yang kita dapatkan hari ini. Sebab boleh jadi tulisan sederhana yang kita buat hari ini menjadi sesuatu yang berarti bagi seseorang beberapa tahun kemudian. Di sinilah kita teringat pada semangat literasi yang juga pernah menjadi bagian dari gerakan pelajar.
Ada sebuah pesan sederhana yang patut direnungkan: “Malulah kita yang membawa simbol pena, tetapi tidak pernah meninggalkan catatan.” Tentu pesan itu bukan semata-mata tentang simbol organisasi. Lebih jauh, ia berbicara tentang tanggung jawab intelektual.
Jika kita diberi kemampuan berpikir, mengapa tidak digunakan? Jika kita diberi pengalaman, mengapa tidak dibagikan? Jika kita mendapatkan ilmu, mengapa tidak dituliskan? Jika kita menemukan kebaikan, mengapa tidak diwariskan? Hari ini banyak anak muda sangat aktif mencari informasi. Rasa ingin tahu tumbuh begitu cepat.
Namun tantangannya adalah bagaimana rasa ingin tahu itu diarahkan kepada sumber-sumber yang berkualitas. Sebab algoritma media sosial dapat membuat kita terus melihat sesuatu yang kita sukai, tetapi belum tentu sesuatu yang kita butuhkan. Kita perlu kembali kepada budaya membaca yang lebih mendalam.
Bukan sekadar membaca judul. Bukan sekadar membaca potongan kalimat. Bukan sekadar membaca komentar. Tetapi membaca dengan utuh. Memeriksa sumber. Membandingkan informasi. Menganalisis. Kemudian mengambil pelajaran. Itulah semangat iqra yang sangat relevan dengan kehidupan hari ini.
4. Dia Mengajarkan Manusia Apa Yang Tidak Diketahuinya
Ayat kelima membawa kita pada sebuah kesadaran yang sangat indah: “Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. Ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui. Dan itu bukan sesuatu yang harus membuat kita malu. Justru kesadaran bahwa kita belum tahu adalah awal dari proses belajar.
Orang yang merasa sudah mengetahui semuanya akan berhenti mencari. Sebaliknya, orang yang menyadari keterbatasan dirinya akan terus bertumbuh. Di sinilah sikap rendah hati dalam mencari ilmu menjadi penting. Tidak ada seorang pun yang mengetahui segala sesuatu. Hari ini kita memahami sesuatu. Besok mungkin kita menemukan pemahaman baru.
Hari ini kita merasa yakin. Besok kita mungkin menemukan data yang membuat kita harus memperbaiki cara pandang. Itulah proses belajar. Karena itu, jangan takut mengatakan: “Saya belum tahu”. Kalimat tersebut bukan tanda kelemahan. Ia bisa menjadi awal dari sebuah perjalanan intelektual.
Setelah mengatakan belum tahu, kita kemudian bertanya. Setelah bertanya, kita membaca. Setelah membaca, kita meneliti. Setelah meneliti, kita memahami. Setelah memahami, kita mengamalkan. Dan setelah mengamalkan, kita membagikan manfaatnya. Begitulah ilmu bergerak dari satu manusia kepada manusia lainnya.
5. Jejak Literasi yang Mengubah Kehidupan
Jika iqra hanya dipahami sebagai kemampuan membaca huruf, maka maknanya menjadi terlalu sempit. Iqra adalah ajakan untuk membaca wahyu. Membaca alam. Membaca sejarah. Membaca masyarakat. Membaca perubahan zaman. Membaca pengalaman. Dan membaca diri sendiri.
Seorang ayah perlu membaca kebutuhan keluarganya. Seorang ibu perlu membaca perkembangan anak-anaknya. Seorang pemimpin perlu membaca keadaan masyarakat yang dipimpinnya. Seorang pendidik perlu membaca perubahan generasi. Seorang anak muda perlu membaca peluang dan tantangan zamannya.
Seorang aktivis dakwah perlu membaca kondisi umat sebelum menentukan cara menyampaikan pesan. Sebab dakwah yang baik bukan hanya berbicara tentang apa yang ingin disampaikan. Dakwah juga perlu memahami siapa yang diajak berbicara, apa yang sedang mereka hadapi, dan bagaimana pesan kebaikan dapat disampaikan dengan hikmah.
Maka, literasi bukan sekadar persoalan pendidikan. Ia menyentuh kehidupan. Masyarakat yang memiliki budaya membaca akan lebih siap memahami perubahan. Keluarga yang memiliki budaya belajar akan lebih siap menghadapi tantangan. Generasi yang memiliki tradisi berpikir akan lebih hati-hati dalam menerima informasi. Dan umat yang mencintai ilmu akan memiliki modal untuk terus bertumbuh.
6. Dari Membaca Menuju Perubahan
Pada akhirnya, iqra bukan tujuan akhir. Membaca adalah awal. Ilmu harus membawa perubahan. Pengetahuan harus melahirkan amal. Pemahaman harus membentuk akhlak. Dan kecerdasan harus membawa manfaat. Seseorang tidak menjadi mulia hanya karena memiliki banyak buku di rumahnya.
Ia menjadi bernilai ketika ilmu yang dimilikinya mengubah cara berpikir, memperbaiki akhlak, memperkuat ibadah, dan memberi manfaat kepada orang lain. Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah kita membaca?Bukan hanya membaca berita. Bukan hanya membaca media sosial. Bukan hanya membaca pesan singkat yang masuk ke telepon.
Tetapi membaca Al-Qur’an. Membaca buku. Membaca alam. Membaca sejarah. Membaca keadaan masyarakat. Membaca pengalaman hidup. Dan membaca diri sendiri. Kemudian bertanya lebih jauh: Apa yang berubah dalam diri saya setelah membaca?Jika setelah membaca kita menjadi lebih rendah hati, berarti ilmu sedang bekerja.
Jika setelah membaca kita semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, berarti ilmu sedang menemukan jalannya. Jika setelah membaca kita semakin peduli kepada sesama, berarti pengetahuan telah menjadi manfaat. Jika setelah membaca kita terdorong untuk menulis dan berbagi, berarti ilmu sedang bergerak menjadi amal.
Penutup: Mari Kembali kepada “Iqra”
Ada alasan mengapa perintah pertama itu begitu sederhana. Iqra.Bacalah. Satu kata yang membuka pintu ilmu. Satu kata yang mengajak manusia keluar dari kebodohan. Satu kata yang mengingatkan bahwa kehidupan harus dijalani dengan kesadaran. Hari ini, mungkin kita tidak lagi berada di sebuah gua yang sunyi seperti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ketika menerima wahyu pertama.
Kita berada di tengah dunia yang ramai. Informasi datang setiap detik. Berita bergerak begitu cepat. Teknologi berkembang setiap hari. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital. Dalam keadaan seperti ini, pesan iqra justru terasa semakin penting.
Kita membutuhkan kemampuan untuk membaca dengan benar. Kita membutuhkan keberanian untuk bertanya. Kita membutuhkan ketekunan untuk belajar. Kita membutuhkan kebijaksanaan untuk menyaring informasi. Dan kita membutuhkan iman agar ilmu yang kita miliki tidak menjauhkan kita dari Allah Subhanahu wata’ala.
Sebab ilmu tanpa arah dapat membuat manusia hanya semakin sibuk mengetahui. Tetapi ilmu yang dibimbing iman dapat membuat manusia semakin memahami tujuan hidup. Maka, mari kembali kepada iqra. Bacalah dengan nama Allah Subhanahu wata’ala. Belajarlah dengan rendah hati.
Telitilah dengan jernih. Tulislah dengan tanggung jawab. Amalkan dengan ikhlas. Dan bagikanlah ilmu yang bermanfaat. Barangkali dari satu halaman yang kita baca hari ini, Allah Subhanahu wata’ala membuka pemahaman baru. Dari satu kalimat yang kita tulis, Allah Subhanahu wata’ala memberi manfaat kepada orang lain.
Dari satu ilmu yang kita amalkan, Allah Subhanahu wata’ala mengubah arah kehidupan seseorang. Dan dari kebiasaan kecil membaca, lahirlah manusia yang terus belajar, terus bertumbuh, dan terus memberi manfaat. Iqra bukan sekadar perintah untuk membaca kata. Iqra adalah panggilan untuk membaca kehidupan dengan nama Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam bishawab.