Wanita Pengukir Sejarah: Shafiyah binti Huyay RA, Keteguhan Iman, dan Kemuliaan Hati (9)
@ Cecep Y Pramana
Khaibar, tahun ketujuh Hijriah. Benteng-benteng yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat baru saja menyaksikan perubahan besar. Pertempuran telah berakhir, dan kehidupan orang-orang yang berada di wilayah itu memasuki babak baru. Di tengah keadaan tersebut, seorang perempuan menghadapi perubahan yang akan mengubah jalan hidupnya. Namanya Shafiyah binti Huyay.
Ia bukan perempuan biasa. Shafiyah radhiyallahu ‘anha adalah putri Huyay bin Akhthab, salah seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir. Ia berasal dari keluarga terpandang dan tumbuh dalam lingkungan dengan tradisi serta keyakinan yang telah mengakar. Namun, peristiwa Khaibar membawanya ke dalam keadaan yang tidak pernah dibayangkannya. Ia termasuk di antara para tawanan setelah kemenangan kaum Muslimin.
Di tengah perubahan itu, Shafiyah kemudian berhadapan dengan sebuah pilihan penting. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberinya pilihan untuk memeluk Islam dan menjadi istri beliau, atau tetap pada agama sebelumnya dan dibebaskan. Shafiyah radhiyallahu ‘anha memilih Islam. Setelah itu, ia menjadi salah seorang Ummahatul Mukminin, ibu bagi orang-orang beriman.
Sebuah pilihan telah mengantarkannya menuju kehidupan yang baru. Perempuan yang sebelumnya dikenal melalui latar belakang keluarganya kini menjadi bagian dari rumah tangga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia memperoleh kesempatan untuk mengenal Islam lebih dekat, belajar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan menjalani kehidupan sebagai seorang Muslimah.
Kita tidak mengetahui seluruh pergulatan batin yang dialami Shafiyah radhiyallahu ‘anha ketika menghadapi perubahan besar tersebut. Karena itu, kita tidak perlu mengarang kata-kata atau perasaan yang tidak tercatat dalam sejarah. Namun, perjalanan hidupnya setelah peristiwa Khaibar memperlihatkan sosok perempuan yang cerdas, tekun beribadah, jujur, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Di sinilah kisah Shafiyah radhiyallahu ‘anha menjadi penting bagi kita. Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Ada peristiwa yang mengubah keadaan, memisahkan seseorang dari lingkungan lamanya, dan memaksanya menghadapi masa depan yang belum dikenalnya.
Dalam keadaan seperti itu, manusia belajar bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang hilang, melainkan juga tentang bagaimana ia melangkah setelah perubahan datang. Shafiyah radhiyallahu ‘anha kemudian menorehkan jejaknya bukan semata-mata karena peristiwa yang membawanya ke dalam kehidupan kaum Muslimin, tetapi juga karena keteladanan yang ditunjukkannya setelah itu.
Ia dikenal sebagai perempuan yang menjaga kehormatan, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan menunjukkan kepedulian ketika orang lain menghadapi kesulitan. Kisahnya mengingatkan kita bahwa masa lalu tidak harus menjadi batas bagi masa depan. Latar belakang keluarga tidak menentukan seluruh nilai seseorang.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana ia menyikapi kebenaran, memperbaiki diri, dan menjadikan kehidupannya sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari Khaibar, kita mengenal Shafiyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha, seorang perempuan yang perjalanan hidupnya mengajarkan tentang hidayah, keteguhan iman, dan kemuliaan hati.
Kisahnya mengajak kita merenungkan satu hal: perubahan hidup mungkin datang tanpa kita minta, tetapi setiap kesempatan untuk bertumbuh dalam kebaikan patut kita sambut dengan kesungguhan. Kisah tersebut mengingatkan kita bahwa hidup ini dinamis, dan tidak semua perubahan berada di bawah kendali kita.
Hidayah yang Mengubah Arah Kehidupan
Peristiwa Khaibar menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup Shafiyah. Setelah kaum Muslimin memperoleh kemenangan, Shafiyah radhiyallahu ‘anha termasuk di antara para tawanan. Ia kemudian berada dalam penguasaan Dihyah al-Kalbi.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan tawanan lain kepada Dihyah sebagai pengganti, lalu memberikan Shafiyah pilihan untuk memeluk Islam dan dinikahi beliau atau tetap pada agama sebelumnya dan dibebaskan. Shafiyah memilih Islam dan menjadi istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Pernikahan itu berlangsung dalam perjalanan pulang dari Khaibar menuju Madinah. Pilihan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Dari latar belakang keluarga yang berbeda, Shafiyah radhiyallahu ‘anha memasuki kehidupan baru bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan kaum Muslimin.
Ia kemudian dikenal sebagai salah seorang Ummahatul Mukminin, ibu bagi orang-orang beriman. Kisah Shafiyah radhiyallahu ‘anha mengingatkan kita bahwa hidayah merupakan karunia Allah yang dapat mengubah arah kehidupan seseorang. Masa lalu tidak selalu menentukan masa depan.
Latar belakang keluarga, lingkungan pergaulan, dan pengalaman hidup memang membentuk seseorang, tetapi semuanya tidak harus menjadi penghalang untuk menerima kebenaran. Ada orang yang membutuhkan waktu panjang untuk menemukan jalan pulang kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Ada pula yang harus melewati pengalaman berat sebelum memahami arti sebuah petunjuk. Yang terpenting bukanlah seberapa jauh perjalanan kita sebelumnya, melainkan bagaimana kita menyambut kebenaran ketika ia hadir di hadapan kita. Setelah memeluk Islam, Shafiyah radhiyallahu ‘anha berusaha mengisi kehidupannya dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Ia menunjukkan kesungguhan dalam menjalani kehidupan barunya. Perjalanan keimanannya tidak berhenti pada sebuah keputusan, tetapi berlanjut dalam kesungguhan untuk bertumbuh. Inilah pelajaran penting bagi setiap Muslim.
Keimanan bukan hanya tentang pengakuan, melainkan juga tentang kesediaan memperbaiki diri. Hidayah perlu dirawat dengan ilmu, ibadah, akhlak, dan amal saleh. Sebab, perubahan yang sejati tidak hanya terlihat dari apa yang kita ucapkan, tetapi juga dari bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari.
Kejujuran yang Menjaga Kehormatan
Shafiyah radhiyallahu ‘anha dikenal sebagai perempuan yang cerdas, jujur, dan memiliki keterbukaan dalam bersikap. Ia tidak terbiasa menyembunyikan kebenaran di balik basa-basi. Kejujuran dan kejernihan hatinya menjadi bagian dari kepribadiannya.
Salah satu riwayat yang menggambarkan perhatian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam terhadap kehormatan Shafiyah radhiyallahu ‘anha terjadi ketika beliau sedang beriktikaf di masjid. Shafiyah radhiyallahu ‘anha datang untuk mengunjungi beliau. Setelah berbincang, ia berdiri untuk pulang. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian berdiri untuk mengantarkannya.
Dalam perjalanan, dua orang laki-laki dari kaum Anshar melintas. Ketika melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersama seorang perempuan, keduanya mempercepat langkah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam segera menjelaskan bahwa perempuan yang bersamanya adalah Shafiyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha.
Kedua sahabat itu terkejut dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki prasangka buruk terhadap Rasulullah Shalallahu a’alaihi wasallam. Namun, beliau menjelaskan bahwa setan dapat membisikkan sesuatu ke dalam hati manusia. Riwayat ini tercantum dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.
Peristiwa sederhana itu menyimpan pelajaran yang dalam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan, menjernihkan keadaan, dan mencegah munculnya prasangka yang tidak berdasar. Bahkan ketika seseorang merasa tidak memiliki niat buruk, penjelasan yang tepat tetap dapat diperlukan agar tidak muncul kesalahpahaman.
Dalam kehidupan sekarang, pelajaran ini sangat relevan. Tidak sedikit hubungan yang rusak karena dugaan yang tidak diperiksa. Persahabatan renggang karena kabar yang belum jelas. Kepercayaan hilang karena seseorang lebih memilih berprasangka daripada bertanya dengan baik.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, yang artinya, “Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” Seorang Muslim perlu belajar menjaga lisan, memeriksa informasi, dan memberi ruang bagi penjelasan. Kejujuran bukan hanya keberanian mengatakan sesuatu, tetapi juga kesediaan meluruskan keadaan dengan cara yang bijaksana.
Kehormatan seseorang harus dijaga, baik ketika ia hadir maupun ketika ia tidak berada di hadapan kita. Sebab, akhlak yang baik tidak hanya tampak saat berbicara langsung, tetapi juga ketika kita memilih untuk tidak menyebarkan sesuatu yang belum tentu benar.
Tetap Berpihak pada Kebenaran
Kemuliaan Shafiyah radhiyallahu ‘anha juga terlihat dalam peristiwa menjelang akhir kehidupan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Ketika Utsman radhiyallahu ‘anhu menghadapi tekanan dan pengepungan di rumahnya, Shafiyah radhiyallahu ‘anha menunjukkan kepedulian terhadap keselamatan dan kebutuhannya.
Dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh para penulis sejarah, Kinanah menceritakan bahwa ia pernah menuntun kendaraan Shafiyah radhiyallahu ‘anha ketika perempuan mulia itu hendak memberikan dukungan kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu. Namun, perjalanan tersebut dihalangi oleh Al-Asytar yang memukul keledainya hingga menyimpang.
Shafiyah akhirnya kembali. Meski demikian, ia berusaha menyalurkan makanan dan air minum kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu dengan membentangkan kayu penghubung antara rumahnya dan rumah sang khalifah. Tindakan itu menunjukkan keberanian moral dan kepedulian Shafiyah radhiyallahu ‘anha.
Ia tidak membiarkan keadaan yang sulit menghapus rasa kemanusiaannya. Ketika seseorang berada dalam tekanan, Shafiyah radhiyallahu ‘anha tetap melihat kebutuhan orang tersebut dan berusaha memberikan pertolongan sesuai kemampuannya.
Sikap Shafiyah radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa keberpihakan pada kebenaran tidak selalu diwujudkan melalui pidato atau tindakan besar yang disaksikan banyak orang. Terkadang, keberpihakan hadir dalam bentuk yang sederhana: memberikan makanan, mengulurkan bantuan, menjaga hak seseorang, atau tidak ikut membenarkan perlakuan yang zalim.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8 agar orang-orang beriman menjadi penegak keadilan dan tidak membiarkan kebencian terhadap suatu kaum mendorong mereka berlaku tidak adil. Prinsip ini penting dalam setiap zaman.
Ketika seseorang diperlakukan tidak adil, kita tidak boleh kehilangan kejernihan dalam menilai persoalan. Kita perlu membedakan antara membela kebenaran dan membela kepentingan pribadi. Keberanian yang sejati bukanlah keberanian untuk selalu memenangkan kelompok sendiri, melainkan kesediaan berdiri bersama keadilan.
Kemuliaan yang Tumbuh dari Ibadah
Para ulama memberikan penilaian terhormat terhadap Shafiyah radhiyallahu ‘anha. Ibnu al-Atsir dan Imam an-Nawawi menyebutnya sebagai perempuan yang cerdas. Sementara itu, Ibnu Katsir memuji kesungguhannya dalam beribadah, sikap wara’, kezuhudan, kebaikan, dan sedekahnya.
Penghormatan tersebut memperlihatkan bahwa kemuliaan Shafiyah radhiyallahu ‘anha tidak hanya terletak pada kedudukannya sebagai istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia juga dikenal melalui kualitas pribadi dan amal yang dijalaninya.
Ibadah membentuk manusia agar tidak mudah dikuasai oleh kepentingan diri sendiri. Kedekatan kepada Allah Subhanahu wata’ala semestinya melahirkan kepekaan terhadap sesama. Semakin seseorang memahami nilai penghambaan, semakin besar pula kesadarannya untuk menjaga amanah, berlaku jujur, dan membantu orang lain.
Kita mungkin tidak memiliki kedudukan seperti Shafiyah radhiyallahu ‘anha. Kita juga tidak hidup pada zaman yang sama dengannya. Namun, nilai-nilai yang ia tunjukkan tetap dapat kita hadirkan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan ruang digital.
Kita dapat meneladani kesungguhannya dalam memperbaiki diri. Kita dapat belajar dari kejujurannya dalam bersikap. Kita juga dapat mengambil pelajaran dari keberaniannya memberikan pertolongan ketika orang lain menghadapi kesulitan.
Tidak semua kebaikan akan mendapatkan penghargaan manusia. Tidak semua keberanian akan disambut dengan dukungan. Namun, seorang mukmin tidak menjadikan penilaian manusia sebagai satu-satunya ukuran dalam berbuat baik. Ia berusaha melakukan yang benar karena menyadari bahwa setiap amal berada dalam pengetahuan Allah Subhanahu wata’ala.
Menjadi Baik, Apa Pun Latar Belakang Kita
Kisah Shafiyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha mengajak kita merenungkan kembali arti kemuliaan. Ia lahir dari keluarga yang memiliki kedudukan, mengalami perubahan besar dalam hidup, lalu menapaki perjalanan sebagai seorang Muslimah yang dikenal karena kecerdasan, ibadah, dan kepeduliannya.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa manusia tidak seharusnya dinilai hanya dari latar belakangnya. Yang lebih penting adalah bagaimana ia merespons kebenaran, memperbaiki akhlak, dan menggunakan kesempatan hidup untuk menghadirkan manfaat.
Kita tidak dapat mengubah seluruh masa lalu. Kita pun tidak selalu mampu mengendalikan keadaan di sekitar kita. Namun, kita masih dapat memilih untuk berlaku jujur ketika kebohongan terasa lebih mudah, menjaga prasangka ketika kabar simpang siur beredar, dan menolong orang lain ketika banyak orang memilih berpaling.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mengabadikan mereka yang memiliki kekuasaan atau kedudukan. Sejarah juga menyimpan jejak orang-orang yang menjaga iman, memelihara akhlak, dan tetap berbuat baik di tengah keadaan yang sulit.
Shafiyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha mengingatkan kita bahwa kemuliaan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan melalui nama keluarga. Kemuliaan tumbuh melalui iman yang dirawat, hati yang dijaga, dan tindakan yang membawa manfaat.
Semoga Allah Subhanahu wata’ala membimbing kita agar tidak berhenti pada kekaguman terhadap orang-orang saleh yang telah mendahului kita. Semoga kita juga diberi kemampuan untuk mengikuti nilai-nilai kebaikan yang mereka tinggalkan, hingga kehadiran kita menjadi sebab tumbuhnya kejujuran, keadilan, dan kasih sayang di mana pun kita berada.
Sebab, hidup yang bernilai bukan hanya hidup yang dikenang, melainkan hidup yang meninggalkan kebaikan dan mendekatkan pemiliknya kepada rida Allah Subhanahu wata’ala. Hal ini mengingatkan kita tentang tujuan hakiki dari kehidupan seorang manusia. Wallahu a’lam bishawab.