Pengarusutamaan Pemuda (PUP)
@ Cecep Y Pramana
Ada sebuah pemandangan yang semakin sering kita lihat. Anak-anak muda duduk di ruang-ruang diskusi. Mereka berbicara tentang masa depan. Mereka membahas pendidikan, lapangan pekerjaan, teknologi, lingkungan, ekonomi, politik, kesehatan mental, hingga masa depan demokrasi.
Mereka para pemuda ini memiliki gagasan, memiliki energi, memiliki keberanian untuk bertanya. Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih penting: Seberapa jauh suara mereka benar-benar ikut menentukan keputusan? Sebab menghadirkan pemuda dalam sebuah forum belum tentu berarti memberdayakan pemuda.
Mengundang mereka dalam rapat belum tentu membuat mereka terlibat dalam pengambilan keputusan. Memberikan posisi belum tentu memberikan ruang untuk bertumbuh. Pengarusutamaan pemuda jauh lebih dalam daripada sekadar menampilkan wajah-wajah muda.
Ia adalah upaya menjadikan perspektif, gagasan, kepemimpinan, dan kontribusi anak muda sebagai bagian penting dalam menentukan arah kebijakan, organisasi, serta pembangunan nasional. Pemuda bukan hanya penerima keputusan. Pemuda harus dipersiapkan menjadi bagian dari pembuat keputusan.
Pemuda Bukan Sekadar Masa Depan
Kita sering mendengar kalimat: “Pemuda adalah masa depan bangsa”. Kalimat itu benar, tetapi ada sesuatu yang perlu ditambahkan. Pemuda bukan hanya masa depan. Pemuda adalah bagian dari masa kini.Mereka sedang belajar, sedang bekerja, dan sedang membangun keluarga.
Selain itu, mereka juga sedang menciptakan usaha. Mereka sedang mengembangkan teknologi. Mereka sedang menjadi relawan. Mereka sedang menggerakkan komunitas. Mereka juga sedang menentukan wajah masyarakat hari ini.
Karena itu, terlalu lama menempatkan pemuda hanya sebagai “calon pemimpin masa depan” dapat membuat kita lupa bahwa hari ini pun mereka memiliki peran yang harus diakui. Pemuda perlu diberi kesempatan untuk memimpin. Bukan setelah mereka tua. Bukan setelah semua keputusan dibuat.
Tetapi sejak mereka menunjukkan kapasitas, integritas, dan kesiapan untuk mengemban amanah. Islam sendiri memberikan penghargaan besar kepada generasi muda yang memiliki iman dan keberanian. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang para pemuda Ashabul Kahfi: “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13)
Ayat ini menarik untuk direnungkan. Allah Subhanahu wata’ala menyebut mereka sebagai pemuda. Tetapi yang ditonjolkan bukan usia mereka. Yang ditonjolkan adalah iman dan keteguhan mereka. Usia muda bukan alasan untuk mengecilkan kapasitas seseorang. Yang menentukan nilai seseorang adalah kualitas iman, ilmu, akhlak, kemampuan, dan kontribusinya.
Dari Penonton Menjadi Pelaku
Ada perbedaan antara menjadi penonton dan menjadi pelaku. Penonton hanya melihat. Pelaku ikut mengerjakan. Penonton mudah memberikan komentar. Pelaku harus menghadapi konsekuensi. Penonton dapat berganti pendapat dengan cepat. Pelaku belajar bertanggung jawab terhadap keputusan.
Di sinilah pendidikan kepemudaan menjadi penting. Kita tidak cukup hanya mengajarkan anak muda untuk kritis. Kita juga perlu mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab. Tidak cukup mengajarkan keberanian berbicara. Mereka juga perlu belajar mendengar.
Tidak cukup membangun kemampuan berdebat. Mereka harus belajar mencari solusi. Tidak cukup mengajarkan cara memenangkan kompetisi. Mereka perlu memahami bagaimana menggunakan kemenangan untuk menghadirkan kemaslahatan. Karena kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar kehormatan. Ia adalah amanah.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberikan perspektif yang sangat kuat. Kepemimpinan tidak dimulai ketika seseorang memperoleh jabatan.
Kepemimpinan dimulai ketika seseorang bersedia bertanggung jawab. Maka pengarusutamaan pemuda harus dibangun di atas dua hal: kesempatan dan tanggung jawab.Berikan ruang. Tetapi juga berikan pembinaan. Berikan kepercayaan. Tetapi juga siapkan pendampingan. Berikan kesempatan memimpin. Tetapi ajarkan mereka tentang amanah.
Suara Pemuda Harus Masuk ke Ruang Kebijakan
Salah satu persoalan dalam pembangunan adalah ketika kebijakan dibuat tentang pemuda tanpa cukup mendengarkan pemuda. Padahal generasi muda hidup langsung dengan berbagai perubahan zaman. Mereka merasakan bagaimana teknologi mengubah cara belajar. Mereka menghadapi persaingan dunia kerja.
Mereka menyaksikan perubahan pola komunikasi. Mereka berhadapan dengan banjir informasi. Mereka merasakan perubahan kebutuhan pendidikan dan keterampilan. Mereka juga menghadapi tantangan sosial yang mungkin berbeda dengan generasi sebelumnya. Karena itu, suara pemuda perlu hadir dalam proses kebijakan.
Bukan sekadar sebagai formalitas. Bukan sekadar memenuhi angka keterwakilan. Tetapi sebagai sumber perspektif. Anak muda perlu dilatih memahami proses kebijakan. Bagaimana sebuah masalah dirumuskan. Bagaimana data dikumpulkan. Bagaimana aspirasi masyarakat disusun. Bagaimana prioritas ditentukan.
Bagaimana kebijakan dievaluasi. Dengan demikian, pemuda tidak hanya pandai mengkritik kebijakan. Mereka juga memahami bagaimana menghadirkan alternatif kebijakan. Inilah transformasi penting: dari komentator menjadi kontributor.
Pemuda dalam Struktur Organisasi dan Partai
Pengarusutamaan pemuda juga perlu terjadi dalam struktur organisasi politik. Kehadiran pemuda tidak cukup jika hanya ditempatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan anak muda. Pemuda perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar dalam berbagai bidang.
Manajemen organisasi. Perumusan program. Komunikasi publik. Pendidikan politik. Pengembangan masyarakat. Pengelolaan sumber daya. Pengambilan keputusan. Kepemimpinan. Namun proses tersebut harus disertai kaderisasi. Karena struktur yang memberikan posisi tanpa pembinaan hanya akan menghasilkan pergantian generasi secara administratif.
Yang dibutuhkan adalah regenerasi substantif. Generasi muda tidak hanya menggantikan generasi sebelumnya. Mereka harus membawa kapasitas yang lebih baik. Membawa semangat yang lebih segar. Membawa perspektif baru. Namun tetap memiliki akar nilai yang kuat. Inilah pentingnya hubungan antara generasi.
Generasi senior memberikan pengalaman. Generasi muda membawa energi dan perspektif baru. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya perlu dipertemukan. Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi yang hanya memiliki banyak orang muda. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu membuat pengalaman dan energi bekerja bersama.
Jangan Takut pada Generasi yang Bertanya
Kadang anak muda dianggap merepotkan karena banyak bertanya. Mereka mempertanyakan kebiasaan lama. Mereka meminta alasan. Mereka ingin memahami mengapa sesuatu dilakukan dengan cara tertentu. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu terasa seperti kritik.
Padahal pertanyaan bisa menjadi awal perbaikan. Generasi muda memang perlu belajar adab dalam bertanya. Tetapi organisasi dan masyarakat juga perlu belajar mendengar. Tidak semua pertanyaan adalah pembangkangan. Tidak semua perbedaan pendapat adalah ancaman. Tidak semua gagasan baru harus ditolak hanya karena belum pernah dilakukan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda. Dalam sejarah Islam, banyak anak muda mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan amanah besar. Salah satunya adalah Usamah bin Zaid yang dipercaya memimpin pasukan ketika usianya masih muda.
Pelajarannya jelas. Usia muda tidak otomatis berarti tidak mampu. Yang perlu dilihat adalah kapasitas, karakter, kesiapan, dan kemampuan menjalankan amanah. Usia hanyalah sebuah angka, sedangkan kematangan dan kompetensi dibentuk oleh kualitas diri.
Pengarusutamaan Bukan Berarti Mengutamakan Usia
Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Pengarusutamaan pemuda bukan berarti semua posisi harus diberikan kepada anak muda. Bukan pula berarti pengalaman generasi sebelumnya tidak penting. Pengarusutamaan pemuda berarti memastikan bahwa pemuda memiliki akses yang adil terhadap ruang belajar, ruang berkontribusi, ruang mengambil keputusan, dan ruang memimpin sesuai kapasitasnya.
Jadi ukurannya bukan sekadar umur. Ukurannya adalah kompetensi dan amanah. Seorang pemuda yang memiliki kemampuan harus diberi kesempatan. Seorang pemuda yang belum siap harus dibina. Seorang pemuda yang memiliki potensi harus diberi ruang berkembang. Dan generasi senior perlu menjadi mentor, bukan sekadar pengawas.
Di sinilah regenerasi menemukan maknanya. Regenerasi bukan sekadar pergantian orang. Regenerasi adalah transfer nilai, ilmu, pengalaman, dan tanggung jawab. Dalam dunia organisasi, keberlanjutan sebuah visi sangat bergantung pada pemahaman ini. Ketika proses ini berjalan dengan baik, sebuah kelompok tidak akan kehilangan arah meskipun para pemimpinnya berganti.
Anak Muda dan Pembangunan Nasional
Bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan jumlah penduduk yang banyak. Bangsa membutuhkan manusia yang berkualitas. Pembangunan nasional membutuhkan pemuda yang memiliki ilmu. Tetapi ilmu saja tidak cukup.
Dibutuhkan integritas. Dibutuhkan kepedulian. Dibutuhkan kreativitas. Dibutuhkan kemampuan bekerja sama. Dibutuhkan keberanian mengambil tanggung jawab. Dan yang tidak kalah penting, dibutuhkan orientasi kemaslahatan. Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki tugas untuk memakmurkan bumi.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud: 61). Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan bukan hanya tentang menikmati hasil pembangunan. Manusia memiliki tanggung jawab untuk membangun dan memakmurkan.
Karena itu, pemuda harus dipersiapkan bukan hanya menjadi pencari pekerjaan. Mereka juga perlu didorong menjadi pencipta nilai. Menjadi inovator. Menjadi penggerak masyarakat. Menjadi pengusaha. Menjadi ilmuwan. Menjadi pendidik. Menjadi profesional. Menjadi pemimpin yang melayani. Menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
Teknologi Tidak Boleh Membuat Pemuda Kehilangan Arah
Generasi muda hidup di tengah revolusi digital. Mereka memiliki akses terhadap pengetahuan yang sangat luas. Dalam hitungan detik, mereka dapat menemukan informasi dari berbagai belahan dunia. Tetapi akses informasi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan. Justru semakin banyak informasi, semakin besar kebutuhan terhadap kemampuan menyaring.
Al-Qur’an mengajarkan prinsip tabayyun: “Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6). Prinsip ini sangat relevan dengan kehidupan digital. Pemuda perlu menjadi generasi yang cepat belajar, tetapi tidak tergesa-gesa percaya.
Cepat merespons, tetapi tidak mudah terpancing. Aktif di media sosial, tetapi tetap memiliki etika. Berani menyampaikan pendapat, tetapi menghormati perbedaan. Mahir menggunakan teknologi, tetapi tidak menjadi budak teknologi. Inilah bagian penting dari pengarusutamaan pemuda. Membangun generasi yang bukan hanya melek digital (digital savvy), tetapi juga kebijakan digital (digital wisdom)
Dari Aktivisme Menuju Dampak
Kita tidak kekurangan anak muda yang aktif. Banyak yang aktif dalam komunitas. Aktif dalam kegiatan sosial. Aktif dalam organisasi. Aktif di media sosial. Aktif menyuarakan berbagai persoalan. Itu semua penting. Tetapi aktivisme perlu bergerak menuju dampak.
Berapa banyak masalah yang berhasil diselesaikan? Berapa banyak orang yang mendapatkan manfaat? Berapa banyak kebijakan yang menjadi lebih baik? Berapa banyak masyarakat yang menjadi lebih berdaya? Pertanyaan semacam ini penting. Karena ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa ramai kegiatan kita.
Tetapi seberapa besar manfaat yang lahir darinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan…” (QS. Al-Ma’idah: 2). Semangat pemuda harus diarahkan menjadi energi kebaikan. Energi yang tidak habis dalam perdebatan. Energi yang tidak berhenti pada kritik. Energi yang berubah menjadi karya.
Membentuk Pemuda yang Berakar pada Nilai
Kita membutuhkan pemuda yang modern tanpa kehilangan nilai. Mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan adab. Mampu bersaing tanpa kehilangan kejujuran. Mampu menjadi pemimpin tanpa kehilangan kerendahan hati. Mampu memiliki ambisi tanpa kehilangan orientasi akhirat.
Mampu mengejar prestasi tanpa melupakan tanggung jawab sosial. Inilah tantangan terbesar pengarusutamaan pemuda. Bukan sekadar menciptakan pemuda yang hebat. Tetapi menciptakan pemuda yang hebat sekaligus bermanfaat.Sebab kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Kekuasaan tanpa amanah dapat menjadi masalah. Popularitas tanpa kedalaman dapat menjadi kosong.
Karena itu, pembangunan kepemudaan harus menyentuh tiga lapisan. Pertama, adalah pikiran.Pemuda harus berilmu. Kedua, adalah hati. Seorang pemuda harus memiliki iman dan akhlak. Ketiga, adalah tangan.Pemuda harus mampu bekerja dan memberikan kontribusi nyata. Ketiganya harus berjalan bersama.
Peran Keluarga dalam Pengarusutamaan Pemuda
Sebelum berbicara tentang organisasi dan negara, kita perlu berbicara tentang keluarga. Karena kepemimpinan pertama kali dipelajari di rumah. Anak belajar bertanggung jawab dari keluarga. Belajar berdiskusi. Belajar menghormati. Belajar mengambil keputusan. Belajar menyelesaikan masalah.
Karena itu, keluarga perlu menjadi ruang pertama bagi tumbuhnya keberanian anak muda. Orang tua tidak hanya perlu bertanya: “Sudah belajar?” “Sudah bekerja?” “Sudah makan?” Tetapi juga: “Apa yang sedang kamu pikirkan?” “Apa yang ingin kamu bangun?” “Apa yang membuatmu gelisah?” “Apa yang bisa kami bantu?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana dapat membuat seorang anak merasa didengar. Generasi muda yang terbiasa didengar akan belajar mendengar. Generasi muda yang dipercaya akan belajar bertanggung jawab. Generasi muda yang dibimbing akan lebih siap memimpin.
Membangun Jembatan Antar Generasi
Pengarusutamaan pemuda tidak boleh menjadi konflik antar-generasi. Kita tidak sedang memilih antara generasi tua atau generasi muda. Kita sedang membangun jembatan. Generasi senior memiliki pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan cepat.
Generasi muda memiliki energi dan perspektif yang tidak boleh diabaikan. Pengalaman membutuhkan energi. Energi membutuhkan arah. Jika pengalaman dan energi bertemu, lahirlah kekuatan. Maka ruang dialog antar-generasi harus diperbanyak.
Bukan hanya ruang untuk memberikan instruksi. Tetapi ruang untuk saling belajar. Yang senior tidak merasa kehilangan ketika memberi kesempatan. Yang muda tidak merasa rendah ketika menerima nasihat. Keduanya bertemu dalam satu tujuan: menghadirkan kemaslahatan.
Pemuda yang Dipersiapkan, Bukan Sekadar Ditampilkan
Ada perbedaan besar antara menampilkan pemuda dan mempersiapkan pemuda. Menampilkan pemuda mudah. Cukup memberi panggung. Memberikan kesempatan berbicara. Menempatkan wajah muda dalam publikasi. Tetapi mempersiapkan pemuda membutuhkan kesabaran.
Harus ada pendidikan. Harus ada mentoring. Harus ada evaluasi. Harus ada kesempatan mencoba. Harus ada ruang melakukan kesalahan dan belajar memperbaikinya. Harus ada proses kaderisasi yang berkelanjutan. Karena pemimpin tidak lahir hanya dari sebuah jabatan.
Pemimpin dibentuk melalui perjalanan. Kadang melalui keberhasilan. Kadang melalui kegagalan. Kadang melalui kritik. Kadang melalui amanah kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Maka jangan meremehkan amanah kecil. Bisa jadi dari sanalah kepemimpinan besar dimulai.
Pemuda dan Masa Depan yang Sedang Dibangun
Kita tidak tahu seperti apa Indonesia sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Tetapi kita tahu satu hal. Anak muda hari ini akan menjadi bagian besar dari mereka yang menentukan wajah Indonesia pada masa itu. Mereka akan menjadi pemimpin.
Orang tua, pendidik, pengusaha, profesional, birokrat, politisi, relawan, ilmuwan, tokoh masyarakat. Dan berbagai profesi lainnya. Karena itu, investasi terbesar bangsa bukan hanya membangun gedung. Bukan hanya membangun infrastruktur. Bukan hanya membangun teknologi. Investasi terbesar adalah membangun manusia.
Dan salah satu bagian terpenting dari pembangunan manusia adalah mempersiapkan generasi mudanya. Pemuda harus mendapatkan pendidikan yang baik. Ruang partisipasi yang sehat. Kesempatan bekerja. Ruang berinovasi. Lingkungan yang membentuk karakter. Serta kesempatan untuk belajar memimpin.
Saatnya Mengubah Cara Pandang
Mungkin sudah waktunya kita mengubah beberapa cara pandang. Dari: “Pemuda harus menunggu.” Menjadi: “Pemuda harus dipersiapkan dan diberi kesempatan.” Dari: “Pemuda belum berpengalaman.” Menjadi: “Pemuda perlu pengalaman melalui amanah.” Dari: “Pemuda hanya pelaksana.” Menjadi: “Pemuda juga harus dilibatkan dalam perumusan.”
Dari: “Pemuda adalah masa depan.” Menjadi: “Pemuda adalah bagian dari masa kini sekaligus masa depan.”Perubahan cara pandang ini sederhana. Tetapi dampaknya besar. Karena sebuah bangsa tidak akan menghasilkan pemimpin muda jika tidak pernah memberi kesempatan kepada anak muda untuk belajar memimpin.
Mulai dari Ruang yang Kita Miliki
Pengarusutamaan pemuda tidak harus selalu dimulai dari tingkat nasional. Ia dapat dimulai dari ruang terdekat. Dari keluarga, sekolah dan kampus, komunitas, masjid, organisasi, lingkungan kerja, lembaga sosial, struktur politik, dan ruang-ruang kebijakan.
Tanyakan kepada anak muda. Dengarkan gagasannya. Berikan kesempatan. Beri amanah. Dampingi. Evaluasi. Kemudian berikan amanah yang lebih besar ketika mereka siap. Begitulah kepemimpinan tumbuh. Setahap demi setahap.
Memberi Ruang untuk Bertumbuh
Pengarusutamaan pemuda pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak anak muda yang duduk di sebuah struktur. Bukan pula tentang seberapa sering kata “pemuda” disebut dalam program. Maknanya jauh lebih dalam. Ia tentang apakah anak muda benar-benar didengar.
Apakah gagasannya dipertimbangkan. Apakah kemampuannya dikembangkan. Apakah mereka mendapatkan kesempatan memimpin. Apakah mereka dipercaya untuk menyelesaikan masalah. Apakah mereka dibimbing ketika salah. Dan apakah mereka dipersiapkan untuk menerima amanah yang lebih besar.
Pemuda tidak membutuhkan sekadar panggung. Mereka membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Mereka tidak hanya membutuhkan pujian. Mereka membutuhkan kepercayaan dan pembinaan. Mereka tidak hanya membutuhkan kesempatan berbicara. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bekerja dan membuktikan.
Dan mereka tidak hanya membutuhkan posisi. Mereka membutuhkan nilai yang menjadi kompas dalam menjalankan amanah. Islam mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang memberikan manfaat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Maka cita-cita besar kita bukan sekadar melahirkan pemuda yang terkenal. Bukan sekadar pemuda yang memiliki jabatan. Bukan sekadar pemuda yang memiliki banyak pengikut. Tetapi pemuda yang memiliki ilmu. Pemuda yang kuat imannya. Pemuda yang baik akhlaknya. Pemuda yang berani mengambil tanggung jawab.
Selain itu, pemuda yang mampu mendengar. Pemuda yang mau belajar. Pemuda yang siap bekerja. Pemuda yang kritis tetapi santun. Pemuda yang modern tetapi berakar pada nilai. Pemuda yang memiliki visi besar tetapi tetap rendah hati. Dan yang paling penting, pemuda yang menjadikan kekuatan dirinya sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Karena masa depan bangsa tidak datang dengan sendirinya. Ia sedang dibangun hari ini. Di ruang kelas. Di rumah, masjid, komunitas, kantor, ruang-ruang organisasi, ruang kebijakan, di tangan anak-anak muda yang sedang belajar menemukan perannya. Maka jangan hanya berkata: “Pemuda adalah masa depan.”
Mari kita bertanya lebih jauh: “Apa yang sedang kita lakukan hari ini agar pemuda siap memimpin masa depan?” Sebab pengarusutamaan pemuda bukan sekadar memberikan tempat kepada generasi muda. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa energi, gagasan, keberanian, dan potensi mereka menjadi bagian dari arus utama pembangunan.
Dari pemuda yang hanya menjadi penonton, menjadi pemuda yang ikut menentukan arah. Dari pemuda yang hanya menyampaikan keluhan, menjadi pemuda yang menawarkan solusi. Dari pemuda yang menunggu kesempatan, menjadi pemuda yang siap menerima amanah.
Dan dari pemuda yang mengejar keberhasilan untuk dirinya sendiri, menjadi generasi yang menjadikan keberhasilannya sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi sesama. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki generasi muda yang banyak.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menyiapkan generasi mudanya untuk menjadi manusia yang berilmu, berkarakter, bertanggung jawab, dan bermanfaat.Di situlah pengarusutamaan pemuda menemukan maknanya. Bukan sekadar memberi mereka ruang untuk hadir.
Tetapi memberi mereka kesempatan untuk bertumbuh, berkontribusi, memimpin, dan menghadirkan perubahan. Dan semoga dari tangan generasi muda yang dibina dengan iman, ilmu, dan akhlak, lahir masa depan yang lebih baik, lebih adil, lebih beradab, dan lebih dekat kepada ridha Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam bishawab.