@ Cecep Y. Pramana
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu”. (QS Ar-Rahman: 19). Para mufasir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua lautan itu adalah laut tawar dan laut asin, dan keluarnya air laut itu berarti bercampurnya keduanya.
Maksudnya adalah bahwa keduanya bertemu, yang satu mengalir ke yang lain, bercampur dan bercampur, namun Allah Subhanahu wata’ala dengan kekuasaan-Nya telah menjadikan antara keduanya batas, sebagaimana firman-Nya, “Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing”. (QS Ar-Rahman: 20).
Hal ini agar keduanya memperoleh manfaat, sehingga manusia dan hewan dapat minum dari laut yang tawar, dan laut yang asin memperoleh manfaatnya dari kestabilan kapal dan perahu di atasnya serta hal-hal lainnya. Ayat ini mengandung keajaiban kekuasaan dan kreativitas Allah Subhanahu wata’ala. [Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir al-Sa’di, dikenal juga Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, hal. 830. Diparafrasekan]
Keajaiban ilmiah dalam ayat tersebut
Persoalan dua lautan ini termasuk mukjizat ilmiah. Muhammad Abu Zahrah berkata dalam Zahrah al-Tafasir: “Ayat ini termasuk tanda-tanda mukjizat, karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melihat lautan yang ombaknya dilayari oleh kapal-kapal. Maka disebutkannya ciri-cirinya oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an merupakan dalil bahwa hal itu bukan berasal dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak melihatnya dan tidak mengetahuinya, dan dalil bahwa perkataan itu berasal dari Allah SWT, Pencipta lautan dan daratan, sungai-sungai dan lautan, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan sejarah merupakan dalil akan hal itu. Al-Qur’an telah diturunkan seribu empat ratus tahun yang lalu, dan kehidupan pada saat itu masih berupa lingkungan gurun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengarungi lautan, dan manusia pada saat itu belum mengenal jenis-jenis lautan.
Ilmu-ilmu kelautan baru berkembang akhir-akhir ini, setelah dilakukan berbagai kajian dan penelitian, serta kerja keras banyak ilmuwan dan penjelajah, dan berkembangnya kemampuan untuk mengungkap apa yang ditunjukkan Al-Qur’an dan apa yang dijelaskan dengan uraian yang akurat di saat manusia belum mampu mengetahuinya.
Hal ini menunjukkan bahwa sumber informasi tersebut bukanlah dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi bersumber dari langsung dari Allah Subahanahu wata’ala.
Tujuan Surah Ar-Rahman
Surah Ar-Rahman adalah surah Makkiyah, yang berarti diturunkan di kota Mekkah sebelum Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah. Surah ini adalah surah ke-55 dalam Al-Qur’an dan terdiri dari 78 ayat. Dinamakan demikian karena dimulai dengan nama Allah, “Ar-Rahman”. Ini adalah satu-satunya surah yang dimulai dengan nama Allah Subhanhu wata’ala.
Di antara tujuan surah ini, disebutkan seperti berikut:
Membuktikan sifat rahmat Allah Subhanahu wata’ala, mendorong keberkahan-Nya dan mengintimidasi pembalasan-Nya. Menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala yang mengajarkan ilmu-ilmu Al-Qur’an kepada Nabi-Nya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan di dalamnya terdapat jawaban atas tuduhan kaum musyrik yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah sihir, juga termasuk dongeng orang-orang terdahulu, atau bahwa ia adalah perkataan seorang dukun atau penyair, dan semua pernyataan serta dalil yang lemah lainnya.
Menunjuk kepada keadilan dan perintah Allah Subhanahu wata’ala untuk memenuhi hak-hak mereka, dan menjelaskan perlunya manusia mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala dalam apa yang diciptakan-Nya untuk mereka, yaitu keberkahan ilmu dan keberkahan berbicara, dan apa yang telah Allah Subhanahu wata’ala persiapkan bagi orang-orang yang bertakwa berupa pahala dan kenikmatan, dan bagi orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang durhaka berupa siksa.
Pernyataan tentang keadaan orang-orang yang beriman, bahwa mereka berbeda-beda; sebagian mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dari yang lain, sebagian mereka memiliki dua surga di tingkatan surga yang paling tinggi, dan sebagian mereka memiliki dua surga yang lebih rendah dari dua surga sebelumnya.
Kemudian dijelaskanlah kedua surga ini dengan cara yang menakjubkan, yang memperlihatkan kekuasaan Allah dan kebesaran nikmat-Nya pada apa yang dinikmati oleh orang-orang yang bergelimang harta.
Beberapa ayat menunjukkan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala, bahwa Dia Maha Kekal dan Abadi, bahwa segala sesuatu di bumi akan binasa dan lenyap, dan bahwa Dia, Maha Suci-Nya, akan memberi balasan kepada makhluk-Nya di Hari Kiamat atas amal perbuatan mereka, karena kerajaan dan kekuasaan adalah milik-Nya. Surah ini diakhiri dengan memuji dan mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala. Wallahua’lam.
TikTok/IG: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecepypramana | lynk.id/ceppangeran
.